Meski tak kumiliki dermaga pertemuan antara kau dan aku, yang aku tahu kau datang bukan dengan segenap harap yang kali aku dambakan. Deburan ombak yang kerap kali hantam setiap batu disisi pantai sontak menggambarkan kala perasaanku berubah sekejap dalam pertemuan itu.
Entah apa yang aku pikirkan saat ku miliki kebahagiaan baru dan melupakan basah lukaku yang sangat belum total kering namun akan selalu membekas.

Kala itu mentari mulai menampakan sinarnya, ketika kudapati beberapa kalimat sapaan pagi darimu. Senyum sabitku tergambar jelas menghiasi wajah maramku yang belum bisa bangkit dari luka lalu. Hari demi hari kau selalu menampakkan hal yang selalu menjadi pertanyaan dalam diamku. Seolah membangkitkan semangatku dan perubahan itu cepat terjadi saat selalu aku nantikan "basa-basimu untuk memulai percakapan denganku". Mentari bergulir ia harus menyembunyikan diri dan membiarkan sang rembulan terangi malam dengan berkala.

Jatuh cinta padamu kadang kumaknai sebuah kutukan, wajah humormu yang menyebalkan, selalu saja membuat tawaku pecah tak hentinya. Matamu yang selalu memancarkan dalam dan tulusnya mencintaiku. Akupun dengan berbagai bahagia dapat membalas baik perlakuan khususmu padaku. Berbagi kasih denganmu bukanlah hal yang biasa menurutku, kau kenalkan aku bagaimana memandangi indahnya cinta dan segala bahasa kasih yang bukan terwujud hanya dalam kata dan ucap. Bagaimana rindu yang sangat menyiksa dan selalu menjadi keluhku dan keluhmu.

Segala rasa dan asa banyak aku dapatkan ketika harus selalu ada dalam dekapan kasihmu, bahagiaku? ia selalu menjadi tujuanmu kali pertama menaruh cintamu dalam hidupku. Bersamamu, derasnya bahagia selalu kumiliki. Tak butuh waktu yang lama untuk sedekat kala itu seakan tak ada jarak, hingga aku khatam dengan segala kebiasaan dan kekuranganmu. Tapi tahukan kamu? justru itu yang membuat namamu masih bertahta sampai saat ini.

Malam ini serasa bisu, ketika aku harus memutuskan pergi tinggalkanmu. Gelap yang semakin pekat, gemuruh hujan yang seakan menghantam tepat diatas kepalaku. Ketika senyummu harus berganti wajah maram yang bukan aku inginkan, selalu saja kecewa yang aku ciptakan dengan tanpa sengaja. Lagi, dengan bodoh yang membuatku hampa sendiri.

Penyesalanku hadir tanpa permisi dan tanpa sopan dengan sangat terlambat. Saat hati harus kuat dan menahan segala angan mengembalikan waktu yang sempat aku sia kan. Kini kau sibuk dengan urusan mimpimu yang dulu pernah menjadi topik terhangat yang selalu kau ceritakan padaku. Hatimu? aku tak pernah tau bagaimana dengan mereka yang pernah menjadi mahkota saat tak ada lagi aku disana. Kecewamu tak dapat kau hilangkan dengan genapnya bulan. Aku sungguh mengerti, tapi akankah waktu dapat menghapusnya agar tak ada lagi sakit yang kau rasakan? Pun dengan perasaanmu. Bukan harapku mengembalikan lukamu, ya memang memperbaiki tak akan pernah bisa menjadi sedia kala. Sediakah kau menjemputku kembali dan membiarkanku membasuh lukamu? Pertanyaan yang tak ada habisnya aku katakan seraya diamku.

Mungkin hanya dengan mengingatku saja yang terlukis hanya amarah dan kesal pada dirimu sendiri. Menyesalkah kau pernah mencintaiku? Tak ada manusia yang ingin melukai siapapun jika tak ada alasan, jika tulus pernah terwujud terkecuali orang2 yang memiliki alasan yg lain.
Mempercayaiku mungkin hal yang kini akan sulit kau lakukan, bodohku selalu saja melontarkan berbagai retorik..

Hijrah dari masa lalu dengan menutupnya rapat rapat dan memberi tanda selesai, mungkin yang sudah kau lakukan kini. Lain denganku yang ingin sekali menyampaikan "hijrahlah dari kekecewaan dengan memaafkan".
Tuhan, apakah memang sudah selesai ceritaku? Mengapa kau biarkan aku menyesali semua ini?