Teruntukmu yang telah berada dalam pelukan Tuhan

Hari ini, tepat 100 hari engkau pergi, wahai lelakiku. Lelaki yang pernah mengisi hari-hariku selama kurang lebih 3 bulan kebersamaan kita. Kini aku berada tepat di sebelah pusara mu. Menatap rangkaian huruf dan angka yang membentuk nama dan tanggal kematianmu.

Aku sendiri sekarang, wahai lelakiku. Ku tempuh jarak ratusan kilometer dari kotaku untuk berada di sini. Sekedar mengunjungi dan menanyakan kabarmu. Di tengah desau angin dan kepak burung aku berlutut di sini. Mendoakanmu agar kau selalu berada di tempat yang terbaik di sisinya. Lihatlah bunga-bunga yang kubawa, duhai lelakiku. Wangi, semerbak. Kutaburkan banyak-banyak di tanah yang menyelimuti tubuhmu.

Hari ini, tepat 100 hari engkau pergi, wahai lelakiku. Masih kuingat jelas perkenalan pertama kita, kira-kira setengah tahun yang lalu. Kau, dengan gaya khasmu yang unik mendekatiku tanpa ragu. Aku, yang tak pernah sekalipun mengenal kata cinta, sedikit gelisah. Tak tahu harus apa saat kau melakukan pendekatan-pendekatan dengan caramu yang tak biasa. Tak butuh waktu lama bagiku untuk mengiyakan tawaranmu untuk mengikat janji hidup bersama selamanya. Malam itu, di warung kopi murah dekat kampus, kita berjanji untuk bersama-sama. Kita, ditemani kopi seharga dua ribu lima ratus per gelas, berpegang tangan saling mengucap kata cinta.

Sejak saat itu, wahai lelakiku, hari-hariku dipenuhi rasa bahagia. Tak dapat kubayangkan sebelumnya bahwa aku akan merasakan cinta yang begitu luar biasa. Caramu mencintai begitu hebat, duhai lelakiku. Dengan segala macam diskusi mendalam tentang masa depan kita, rencana-rencana kita, serta tempat-tempat indah yang akan kita kunjungi kelak.

Advertisement

Hari ini, tepat 100 hari engkau pergi, wahai lelakiku. Ingatkah kau tentang malam-malam itu, duhai lelakiku? Malam-malam di mana kau secara rutin muncul di depan jendela kamarku di tengah malam buta. Hanya untuk mengucapkan selamat mengerjakan tugas dan menyelipkan segelas coklat panas lewat jendela kamar. Ah, aku merindukanmu, kekasihku. Kadang, aku masih terpaku di depan jendela kamar, berharap kau akan datang membawa gelas karton dan senyuman manis.

Hari ini, tepat 100 hari engkau pergi, wahai lelakiku. Ingatanku kembali kepada saat-saat di mana engkau hendak pergi. Sebelum sakit yang parah itu menyerang tubuhmu, pernah di suatu kencan yang indah kau membuatku berjanji bahwa aku tidak akan pernah menangis saat kau mati nanti.. Kau juga berjanji bahwa kita akan selalu bersama hingga salah satu dari kita mati. Sebenarnya, kau sudah merasa akan pergi kan, duhai lelakiku? Aku saja yang terlalu bodoh tidak mengenali isyara-isyaratmu.

Beberapa hari setelah mengatakan kalimat-kalimat aneh itu, kau mulai menderita penyakit itu, duhai kekasihku. Pusing yang teramat sangat dan tidak bisa lagi kau tahan yang membuatmu pergi meninggalkanku dan semua harapan-harapan itu.

Masih jelas terlukis di ingatanku detik-detik kepergianmu, duhai kekasihku. Kau berada di kotamu, dan aku di kotaku, kala itu. Dengan bus aku menempuh ratusan kilometer untuk sampai di kota mu tepat waktu. Sesampainya di rumah sakit tempat kau dirawat, kau sudah tak sadarkan diri. Selang-selang oksigen dan cairan infuse terjuntai-juntai dari tubuhmu. Betapa sesak hatiku melihatnya, duhai kekasihku. Melihatmu terbujur tak berdaya aku merasa benar-benar sedih. Namun, aku masih ingat janjiku wahai, kekasihku. Janji bahwa aku tak akan menangis di hari kepergianmu. Ya, kekasihku, aku menghampiri tubuhmu, kucium keningmu dan kubisikkan bahwa aku merelakan kepergianmu. Maka, berhentilah detak jantungmu itu, kekasihku. Kau sudah sempurna pergi dari dunia ini.

Teruntukmu yang telah berada dalam pelukan Tuhan, aku merelakan kepergianmu. Namun, aku masih butuh waktu untuk memperbaiki hatiku untuk kembali menerima orang lain yang akan menggantikan posisimu di hatiku. Wahai kekasihku, di sini, di pusaramu yang kini telah tertabur bunga-bunga, aku berjanji bahwa aku akan hidup bahagia. Jangan suruh aku untuk melupakanmu, duhai kekasihku, karena itu tidak mungkin terjadi. Kau akan selalu ada di sini.

Teruntukmu yang telah berada dalam pelukan Tuhan, bahagialah di sana.

Teruntukmu yang telah berada dalam pelukan Tuhan

Hari ini, tepat 100 hari engkau pergi, wahai lelakiku. Lelaki yang pernah mengisi hari-hariku selama kurang lebih 3 bulan kebersamaan kita. Kini aku berada tepat di sebelah pusara mu. Menatap rangkaian huruf dan angka yang membentuk nama dan tanggal kematianmu.

Aku sendiri sekarang, wahai lelakiku. Ku tempuh jarak ratusan kilometer dari kotaku untuk berada di sini. Sekedar mengunjungi dan menanyakan kabarmu. Di tengah desau angin dan kepak burung aku berlutut di sini. Mendoakanmu agar kau selalu berada di tempat yang terbaik di sisinya. Lihatlah bunga-bunga yang kubawa, duhai lelakiku. Wangi, semerbak. Kutaburkan banyak-banyak di tanah yang menyelimuti tubuhmu.

Hari ini, tepat 100 hari engkau pergi, wahai lelakiku. Masih kuingat jelas perkenalan pertama kita, kira-kira setengah tahun yang lalu. Kau, dengan gaya khasmu yang unik mendekatiku tanpa ragu. Aku, yang tak pernah sekalipun mengenal kata cinta, sedikit gelisah. Tak tahu harus apa saat kau melakukan pendekatan-pendekatan dengan caramu yang tak biasa. Tak butuh waktu lama bagiku untuk mengiyakan tawaranmu untuk mengikat janji hidup bersama selamanya. Malam itu, di warung kopi murah dekat kampus, kita berjanji untuk bersama-sama. Kita, ditemani kopi seharga dua ribu lima ratus per gelas, berpegang tangan saling mengucap kata cinta.

Sejak saat itu, wahai lelakiku, hari-hariku dipenuhi rasa bahagia. Tak dapat kubayangkan sebelumnya bahwa aku akan merasakan cinta yang begitu luar biasa. Caramu mencintai begitu hebat, duhai lelakiku. Dengan segala macam diskusi mendalam tentang masa depan kita, rencana-rencana kita, serta tempat-tempat indah yang akan kita kunjungi kelak.

Hari ini, tepat 100 hari engkau pergi, wahai lelakiku. Ingatkah kau tentang malam-malam itu, duhai lelakiku? Malam-malam di mana kau secara rutin muncul di depan jendela kamarku di tengah malam buta. Hanya untuk mengucapkan selamat mengerjakan tugas dan menyelipkan segelas coklat panas lewat jendela kamar. Ah, aku merindukanmu, kekasihku. Kadang, aku masih terpaku di depan jendela kamar, berharap kau akan datang membawa gelas karton dan senyuman manis.

Hari ini, tepat 100 hari engkau pergi, wahai lelakiku. Ingatanku kembali kepada saat-saat di mana engkau hendak pergi. Sebelum sakit yang parah itu menyerang tubuhmu, pernah di suatu kencan yang indah kau membuatku berjanji bahwa aku tidak akan pernah menangis saat kau mati nanti.. Kau juga berjanji bahwa kita akan selalu bersama hingga salah satu dari kita mati. Sebenarnya, kau sudah merasa akan pergi kan, duhai lelakiku? Aku saja yang terlalu bodoh tidak mengenali isyara-isyaratmu.

Beberapa hari setelah mengatakan kalimat-kalimat aneh itu, kau mulai menderita penyakit itu, duhai kekasihku. Pusing yang teramat sangat dan tidak bisa lagi kau tahan yang membuatmu pergi meninggalkanku dan semua harapan-harapan itu.

Masih jelas terlukis di ingatanku detik-detik kepergianmu, duhai kekasihku. Kau berada di kotamu, dan aku di kotaku, kala itu. Dengan bus aku menempuh ratusan kilometer untuk sampai di kota mu tepat waktu. Sesampainya di rumah sakit tempat kau dirawat, kau sudah tak sadarkan diri. Selang-selang oksigen dan cairan infuse terjuntai-juntai dari tubuhmu. Betapa sesak hatiku melihatnya, duhai kekasihku. Melihatmu terbujur tak berdaya aku merasa benar-benar sedih. Namun, aku masih ingat janjiku wahai, kekasihku. Janji bahwa aku tak akan menangis di hari kepergianmu. Ya, kekasihku, aku menghampiri tubuhmu, kucium keningmu dan kubisikkan bahwa aku merelakan kepergianmu. Maka, berhentilah detak jantungmu itu, kekasihku. Kau sudah sempurna pergi dari dunia ini.

Teruntukmu yang telah berada dalam pelukan Tuhan, aku merelakan kepergianmu. Namun, aku masih butuh waktu untuk memperbaiki hatiku untuk kembali menerima orang lain yang akan menggantikan posisimu di hatiku. Wahai kekasihku, di sini, di pusaramu yang kini telah tertabur bunga-bunga, aku berjanji bahwa aku akan hidup bahagia. Jangan suruh aku untuk melupakanmu, duhai kekasihku, karena itu tidak mungkin terjadi. Kau akan selalu ada di sini.

Teruntukmu yang telah berada dalam pelukan Tuhan, bahagialah di sana.

Teruntukmu yang telah berada dalam pelukan Tuhan

Hari ini, tepat 100 hari engkau pergi, wahai lelakiku. Lelaki yang pernah mengisi hari-hariku selama kurang lebih 3 bulan kebersamaan kita. Kini aku berada tepat di sebelah pusara mu. Menatap rangkaian huruf dan angka yang membentuk nama dan tanggal kematianmu.

Aku sendiri sekarang, wahai lelakiku. Ku tempuh jarak ratusan kilometer dari kotaku untuk berada di sini. Sekedar mengunjungi dan menanyakan kabarmu. Di tengah desau angin dan kepak burung aku berlutut di sini. Mendoakanmu agar kau selalu berada di tempat yang terbaik di sisinya. Lihatlah bunga-bunga yang kubawa, duhai lelakiku. Wangi, semerbak. Kutaburkan banyak-banyak di tanah yang menyelimuti tubuhmu.

Hari ini, tepat 100 hari engkau pergi, wahai lelakiku. Masih kuingat jelas perkenalan pertama kita, kira-kira setengah tahun yang lalu. Kau, dengan gaya khasmu yang unik mendekatiku tanpa ragu. Aku, yang tak pernah sekalipun mengenal kata cinta, sedikit gelisah. Tak tahu harus apa saat kau melakukan pendekatan-pendekatan dengan caramu yang tak biasa. Tak butuh waktu lama bagiku untuk mengiyakan tawaranmu untuk mengikat janji hidup bersama selamanya. Malam itu, di warung kopi murah dekat kampus, kita berjanji untuk bersama-sama. Kita, ditemani kopi seharga dua ribu lima ratus per gelas, berpegang tangan saling mengucap kata cinta.

Sejak saat itu, wahai lelakiku, hari-hariku dipenuhi rasa bahagia. Tak dapat kubayangkan sebelumnya bahwa aku akan merasakan cinta yang begitu luar biasa. Caramu mencintai begitu hebat, duhai lelakiku. Dengan segala macam diskusi mendalam tentang masa depan kita, rencana-rencana kita, serta tempat-tempat indah yang akan kita kunjungi kelak.

Hari ini, tepat 100 hari engkau pergi, wahai lelakiku. Ingatkah kau tentang malam-malam itu, duhai lelakiku? Malam-malam di mana kau secara rutin muncul di depan jendela kamarku di tengah malam buta. Hanya untuk mengucapkan selamat mengerjakan tugas dan menyelipkan segelas coklat panas lewat jendela kamar. Ah, aku merindukanmu, kekasihku. Kadang, aku masih terpaku di depan jendela kamar, berharap kau akan datang membawa gelas karton dan senyuman manis.

Hari ini, tepat 100 hari engkau pergi, wahai lelakiku. Ingatanku kembali kepada saat-saat di mana engkau hendak pergi. Sebelum sakit yang parah itu menyerang tubuhmu, pernah di suatu kencan yang indah kau membuatku berjanji bahwa aku tidak akan pernah menangis saat kau mati nanti.. Kau juga berjanji bahwa kita akan selalu bersama hingga salah satu dari kita mati. Sebenarnya, kau sudah merasa akan pergi kan, duhai lelakiku? Aku saja yang terlalu bodoh tidak mengenali isyara-isyaratmu.

Beberapa hari setelah mengatakan kalimat-kalimat aneh itu, kau mulai menderita penyakit itu, duhai kekasihku. Pusing yang teramat sangat dan tidak bisa lagi kau tahan yang membuatmu pergi meninggalkanku dan semua harapan-harapan itu.

Masih jelas terlukis di ingatanku detik-detik kepergianmu, duhai kekasihku. Kau berada di kotamu, dan aku di kotaku, kala itu. Dengan bus aku menempuh ratusan kilometer untuk sampai di kota mu tepat waktu. Sesampainya di rumah sakit tempat kau dirawat, kau sudah tak sadarkan diri. Selang-selang oksigen dan cairan infuse terjuntai-juntai dari tubuhmu. Betapa sesak hatiku melihatnya, duhai kekasihku. Melihatmu terbujur tak berdaya aku merasa benar-benar sedih. Namun, aku masih ingat janjiku wahai, kekasihku. Janji bahwa aku tak akan menangis di hari kepergianmu. Ya, kekasihku, aku menghampiri tubuhmu, kucium keningmu dan kubisikkan bahwa aku merelakan kepergianmu. Maka, berhentilah detak jantungmu itu, kekasihku. Kau sudah sempurna pergi dari dunia ini.

Teruntukmu yang telah berada dalam pelukan Tuhan, aku merelakan kepergianmu. Namun, aku masih butuh waktu untuk memperbaiki hatiku untuk kembali menerima orang lain yang akan menggantikan posisimu di hatiku. Wahai kekasihku, di sini, di pusaramu yang kini telah tertabur bunga-bunga, aku berjanji bahwa aku akan hidup bahagia. Jangan suruh aku untuk melupakanmu, duhai kekasihku, karena itu tidak mungkin terjadi. Kau akan selalu ada di sini.

Teruntukmu yang telah berada dalam pelukan Tuhan, bahagialah di sana.

Teruntukmu yang telah berada dalam pelukan Tuhan

Hari ini, tepat 100 hari engkau pergi, wahai lelakiku. Lelaki yang pernah mengisi hari-hariku selama kurang lebih 3 bulan kebersamaan kita. Kini aku berada tepat di sebelah pusara mu. Menatap rangkaian huruf dan angka yang membentuk nama dan tanggal kematianmu.

Aku sendiri sekarang, wahai lelakiku. Ku tempuh jarak ratusan kilometer dari kotaku untuk berada di sini. Sekedar mengunjungi dan menanyakan kabarmu. Di tengah desau angin dan kepak burung aku berlutut di sini. Mendoakanmu agar kau selalu berada di tempat yang terbaik di sisinya. Lihatlah bunga-bunga yang kubawa, duhai lelakiku. Wangi, semerbak. Kutaburkan banyak-banyak di tanah yang menyelimuti tubuhmu.

Hari ini, tepat 100 hari engkau pergi, wahai lelakiku. Masih kuingat jelas perkenalan pertama kita, kira-kira setengah tahun yang lalu. Kau, dengan gaya khasmu yang unik mendekatiku tanpa ragu. Aku, yang tak pernah sekalipun mengenal kata cinta, sedikit gelisah. Tak tahu harus apa saat kau melakukan pendekatan-pendekatan dengan caramu yang tak biasa. Tak butuh waktu lama bagiku untuk mengiyakan tawaranmu untuk mengikat janji hidup bersama selamanya. Malam itu, di warung kopi murah dekat kampus, kita berjanji untuk bersama-sama. Kita, ditemani kopi seharga dua ribu lima ratus per gelas, berpegang tangan saling mengucap kata cinta.

Sejak saat itu, wahai lelakiku, hari-hariku dipenuhi rasa bahagia. Tak dapat kubayangkan sebelumnya bahwa aku akan merasakan cinta yang begitu luar biasa. Caramu mencintai begitu hebat, duhai lelakiku. Dengan segala macam diskusi mendalam tentang masa depan kita, rencana-rencana kita, serta tempat-tempat indah yang akan kita kunjungi kelak.

Hari ini, tepat 100 hari engkau pergi, wahai lelakiku. Ingatkah kau tentang malam-malam itu, duhai lelakiku? Malam-malam di mana kau secara rutin muncul di depan jendela kamarku di tengah malam buta. Hanya untuk mengucapkan selamat mengerjakan tugas dan menyelipkan segelas coklat panas lewat jendela kamar. Ah, aku merindukanmu, kekasihku. Kadang, aku masih terpaku di depan jendela kamar, berharap kau akan datang membawa gelas karton dan senyuman manis.

Hari ini, tepat 100 hari engkau pergi, wahai lelakiku. Ingatanku kembali kepada saat-saat di mana engkau hendak pergi. Sebelum sakit yang parah itu menyerang tubuhmu, pernah di suatu kencan yang indah kau membuatku berjanji bahwa aku tidak akan pernah menangis saat kau mati nanti.. Kau juga berjanji bahwa kita akan selalu bersama hingga salah satu dari kita mati. Sebenarnya, kau sudah merasa akan pergi kan, duhai lelakiku? Aku saja yang terlalu bodoh tidak mengenali isyara-isyaratmu.

Beberapa hari setelah mengatakan kalimat-kalimat aneh itu, kau mulai menderita penyakit itu, duhai kekasihku. Pusing yang teramat sangat dan tidak bisa lagi kau tahan yang membuatmu pergi meninggalkanku dan semua harapan-harapan itu.

Masih jelas terlukis di ingatanku detik-detik kepergianmu, duhai kekasihku. Kau berada di kotamu, dan aku di kotaku, kala itu. Dengan bus aku menempuh ratusan kilometer untuk sampai di kota mu tepat waktu. Sesampainya di rumah sakit tempat kau dirawat, kau sudah tak sadarkan diri. Selang-selang oksigen dan cairan infuse terjuntai-juntai dari tubuhmu. Betapa sesak hatiku melihatnya, duhai kekasihku. Melihatmu terbujur tak berdaya aku merasa benar-benar sedih. Namun, aku masih ingat janjiku wahai, kekasihku. Janji bahwa aku tak akan menangis di hari kepergianmu. Ya, kekasihku, aku menghampiri tubuhmu, kucium keningmu dan kubisikkan bahwa aku merelakan kepergianmu. Maka, berhentilah detak jantungmu itu, kekasihku. Kau sudah sempurna pergi dari dunia ini.

Teruntukmu yang telah berada dalam pelukan Tuhan, aku merelakan kepergianmu. Namun, aku masih butuh waktu untuk memperbaiki hatiku untuk kembali menerima orang lain yang akan menggantikan posisimu di hatiku. Wahai kekasihku, di sini, di pusaramu yang kini telah tertabur bunga-bunga, aku berjanji bahwa aku akan hidup bahagia. Jangan suruh aku untuk melupakanmu, duhai kekasihku, karena itu tidak mungkin terjadi. Kau akan selalu ada di sini.

Teruntukmu yang telah berada dalam pelukan Tuhan, bahagialah di sana.