Kala itu hujan begitu deras mengalir. Aku memutuskan untuk beteduh disamping gedung tempat dimana aku melakukan prosesi wisuda.Tak perlu kamu membayangkan bahwa aku bahagia sepenuhnya,

hujan pun mungkin tak mampu melarutkan kesedihanku.

Aku melihatmu begitu bahagia didampingi orang-orang tercinta memberikan seikat bunga atau hanya cinderamata untuk kesuksesanmu meraih gelar sarjana. Orang tuamu dengan bangga memelukmu dan memamerkanmu pada kolega mereka. Aku tersenyum sarkastik, membayangkan Ia berdiri disampingku memberi ucapan selamat,mencium keningku, dan mengatakan bahwa ia bangga padaku.

Tak lupa juga Ia akan memamerkanku pada koleganya sepeti yang Ia sering lakukan ketika kami masih bersama.
Tak apalah.

Ia akan tetap mengawasiku dari surga, tersenyum atas keberhasilanku melalui 1 ujian lagi. Ia pasti sedang berbahagia, mengadakan pesta dan menceritakan pada temannya betapa bangga Ia memiliki kami.
Aku sudah cukup kuat sekarang, tak lagi bersikap seperti anak manja. Aku sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihan hidupku. Tenanglah, Aku tak akan pernah lupa melibatkanmu dalam setiap rencana hidupku.
Tuhan tak pernah membiarkanku berjalan sendiri. Ada Ia yang menjadi penyemangatku, penggantimu menjadi imamku. Aku menggandengnya erat, lebih erat.
Aku berjalan menerobos hujan. Tertawa. masih banyak hal yang perlu aku perjuangkan.
Sudah tidak akan lagi drama-drama, pelukan kasih sayang, kata-kata penyemangat darimu.
Sudah saatnya aku membentuk diriku sendiri, mengambil hikmah atas apa yang Tuhan ambil, mengambil setiap pelajaran darimu, dan menjadikannya pedoman hidupku.
Ia sekarang menjadi tanggung jawabku, akan aku ambil alih posisimu, tugasmu sudah selesai. Kini giliranku membuatmu bangga padanya. tenanglah, papa! tak perlu lagi merisaukan kami anak-anakmu 🙂

Advertisement

Teruntuknya, yang sedang memandang kami dari surga – dari kami putri kecilmu dan putra kebanggaanmu