Menjadi seorang yang ramah tamah, itu bukanlah keahlianku. Cenderung bersikap acuh jika tak mengenal ataupun mengetahui siapa dirimu, lebih tepatnya aku tidak ingin mengenal dan tidak ingin mengetahui lebih banyak tentang orang lain jika mereka tidak benar-benar menyentuh titik nyaman dikehidupanku. Kebanyakan mereka akan takut menyapaku mendapati sinisnya mata ini melihat dan angkuhnya kaki ini melangkah. Seperti tak mengenal siapapun, aku hanya perlu melihat kedepan dan tak menghiraukan sisi kanan dan kiriku. Kerap kali ada yang bilang “Ngeri kali pandangan kakak itu. Takut aku..” dan sering kudapati perkataan “Yang adanya masalah dia samaku, kok sinis kali gitu cara lihatnya..”

Jangan salah paham, setiap orang punya karakter berbeda. Itu sebabnya ini tak menjadi masalah bagiku, meski kadang orang lain tak nyaman dengan pandanganku. Percayalah jika kamu benar-benar sudah mengenalku, akan ada banyak penilaian yang berlawanan dari yang selama ini kau dengar tentangku. Karena aku mengharapkan kau menilaiku dengan cara pandangmu sendiri, bukan dengan perkataan orang lain ataupun dengan kacamata hitammu. Meski begitu aku tak menyuruhmu untuk mengenalku lebih dalam lagi, karena aku juga tak nyaman dengan mereka yang terlalu mengusik kehidupanku. Tapi aku bukanlah orang sombong yang bisanya hanya menegakkan dagu keatas dan tak ingin melihat sekitar. Bahkan jika hanya mengenalmu lewat media, aku bukanlah orang yang mengabaikan kata “Salam kenal”. Entah darimana asalnya aku bisa nyaman dengan media yang dulunya tak penting bagiku, beberapa orang menyerah dan bosan menegurku karena mereka hanya mendapat balasan “Iya, Enggak, Oke, haha” tapi kemudian beberapa orang cukup penasaran berkata-kata dan nyaman mengetik tanpa lelah untuk saling berbalas-balas pesan. Termasuk yang pernah kau lakukan denganku.

Jika kau mengetahui aku bukanlah wanita cantik dengan segala kesempurnaan, aku juga bukan wanita pintar yang bisa memainkan kata-kata manis seperti yang dilakukan seorang wanita kepada kaum pria untuk melelehkan hatinya. Saat itu yang kulakukan adalah dengan apa adanya diriku, apa yang sedang kurasa, itu yang akan aku ekspresikan kepadamu. Hingga kali pertama aku merasa nyaman berkomunikasi dengan seorang yang jelas belum kukenal. Aku mendapatkan titik kenyamanan itu..

Semua yang menjadi kebiasaanku sudah jelas kau menghapalnya, apa yang kukerjakan dipagi hari, apa yang kulakukan di sore hari dan apa yang sedang kunikmati dimalam hari. Dan mulai terbiasa dengan sapaan :

“Selamat pagi dek”

Advertisement

“Sarapan dulu”

“Kau makan dulu obatmu itu, biar lanjut kita bercerita”

“Malam baik dek”

Pantang bagiku mendapati pesan seperti ini, sudah pasti tidak kubalas jika ada pesan ini muncul dilayar handphone ku, karena bagiku ini terlalu melebih-lebihkan. Aku berfikir bahwa hal seperti ini tidaklah harus disuruh karena aku masih mampu menjaga diriku. Tapi entah sejak kapan aku mulai menganggap ini adalah secuil sapaan yang cukup mendukungku sebelum melakukan aktifitas dan dengan senang hati aku mampu membalasnya dengan candaan. Haa, sial. Orang sepertiku menjadi klepek-kelepek dengan pesan singkat ini. Gimana enggak, kau orang yang datang saat kondisiku benar-benar menyedihkan. Komunikasi kita ini kuanggap sangat intens jika untuk orang yang belum pernah mengenal satu sama lain. Saat pagi tiba, mengetahui aku sudah bangun dan sudah menyelesaikan pekerjaanku, juga mengetahui aku seorang yang sulit untuk disuruh sarapan. Lagi-lagi kau mengancam dan terus megingatkanku. Saat mentari mulai redup, sore hari saat itu juga kau mengetahui kebiasaanku diatas sana dan menyuruhku untuk turun. Yaa, aku memang hobi naik keatas genteng untuk melihat aktifitas dibawah sana. Bahkan ketika giliran sang malam hadir dan aku masih duduk diluar menikmati sang bulan, karena kau mengetahui bahwa aku sangat menyukainya, saat itu juga kau masih menemani dan kerap kali menyuruhku masuk karena jam sudah menunjukkan tengah malam.

Dimulai dari sini, kau menceritakan kerasnya kehidupanmu, keluargamu yang sudah bahagia disana juga saudaramu yang telah lama terpisah. Dari sini juga aku belajar menjadi orang yang lebih menghargai hidup. Tak berharap bisa menjadi orang yang istimewa bagimu, aku sedikit ingin masuk dikehidupanmu dan menjadi temanmu. Hal yang seharusnya kau simpan tapi saat itu kau sudah membagikannya kepadaku, betapa bahagia diriku ketika menjadi orang kepercayaanmu. Hari-hari mulai akrab dengan handphone ini, kubiarkan selalu disebelahku karena yakin pesanmu akan datang. Bukanlah seorang yang terlalu memperdulikan hanphone, karena kau juga mendukungku untuk mengutamakan prioritasku sebagai mahasiswa, lebih dari itu kau menungguku hingga ku menyelesaikan tugas-tugasku.

Hingga suatu kemudian waktu yang tak pernah kubayangkan itu tiba, waktu dimana aku sudah sangat nyaman tetapi kau malah menghilang tanpa kabar, tanpa pamit dan tanpa alasan yang jelas. Sering kali mendapati situasi semacam ini, ternyata kekuatiran itu benar-benar ada. Kekuatiran dimana kau pergi saat aku sudah mengabdi untuk mendengarkan cerita dan menjadi teman khususmu. Mencari cara untuk bisa berkomunikasi denganmu, sudah lama kulakukan. Suatu hari kutemukan satu paragraf yang kau tulis. Matahari yang memberi dengan kerelaan dan malam gelap yang muram. Tak igin menyakinkan diri bahwa itu adalah untukku. Karena sampai kapanpun Matahari dan Malam tidak akan bisa menyatu, jika begitu adanya maka kau menyakinkanku bahwa kita tidak akan pernah bisa bersama meski hanya menjadi teman. Jadikanlah saja aku rembulan yang akan berteman dengan malam, menjadi pemilik malam dan menyinari malam dengan kehangatannya.

Sampai saat ini tidak mengetahui apa yang menjadi alasanmu, yang bahkan setelah kupikir-pikir sampai kepala ini hampir pecah aku juga tidak mendapati jawaban itu. Ini berkelanjut hingga bertahun-tahun, sikap acuhmu, pesan-pesanmu tak lagi kutemukan. Sudah kukatakan menjadi orang yang ramah-tamah bukanlah keahlianku, tapi berkali-kali aku menghilangkan egoku dan menjadi ahli dalam hal itu. Bahkan aku sendiri sudah tak mengenali diriku, aku menjadi orang yang tahan gengsi dan kebal akan acuhan yang kau beri. Tak mengapa hiduplah terus seperti itu jika itu yang kau ingin lakukan, dan tak masalah denganku yang masih menyimpan sejuta pertanyaan yang masih membutuhkan jawaban itu. Aku sudah berhenti dan aku baik-baik saja bahkan sebelum mengenalmu, jadi kenapa tidak jika sekarang adalah tanpa mu? Aku masih berjalan dengan diriku dan juga cita-cita yang menjadi prioritasku. Tak ada yang berubah, mereka juga mengenalku masih dengan apa adanya diriku. Bahkan mereka mendapatiku menjadi seorang yang sudah dewasa dan mampu bersikap yang semestinya. Nikmatilah saja duniamu dan teruslah menjadi apa yang kau ingikan. Semoga dapat apa yang menjadi kerinduanmu disana..