Biasanya setelah sepasang kekasih putus, mereka jarang saling berhubungan satu sama lain. Kebanyakan larut dalam gengsi masing-masing untuk sekedar menanyakan kabar. Kata orang, menjadi sahabat setelah putus itu adalah suatu kedewasaan. Tapi itu tak berlaku untukku. Memang, kita seringkali intens menanyakan kabar, kegiatan, bercerita, berdebat, bertengkar hebat, lalu kembali melunak seperti sedia kala. Memang sudah tidak ada status antara kita. Memang kamu terlebih dahulu yang memulai percakapan. Tapi, terkadang bukan rasa senang, bukan kedewasaan yang aku dapat. Justru kadang aku merasa terluka lebih dalam ketika sedang saling berhubungan denganmu.

Pedih rasanya ketika aku mengingat dia yang telah merebutmu dari aku

Memang jika kita sedang intens bercakap melalui media sosial kita, aku seperti melayang. Ku kira kau masih ada perasaan untukku. Kau menanyakan kabarku, mengingatkanku untuk tidak lupa makan, dan lainnya. Tapi ketika kau mulai membalas pendek di chat lalu menghilang, kau tau apa yang ada pikiranku? Di pikiranku terlintas bayangan kau lagi bermesraan dengan dia. Mungkin benar apa kata temanku, kau hanya menjadikanku sebagai “sambilan”. Ketika dia ada, kau tak lagi sudi bercakap denganku. Atau ketika kau sudah lama tak memulai chat, aku pikir kau memang sedang bermesraan dengannya. Selalu dan selalu pikiran tentang kalian menghantui pikiranku. Entah kenapa. Kadang aku ingin berhenti saja membalas chatmu supaya tak ada lagi bayangan tentang kalian yang menghantui pikiranku. Tapi apa? Aku selalu menunggumu kan? Aku tetap membalasnya kan? Aku tak tau kenapa tanganku terus bergerak membalas pesanmu. Haruskah aku tak membalas pesanmu? Tak peduli apa yang akan kau pikirkan. Memang aku sudah tak ingin lagi dihantui oleh bayanganmu yang sedang bermesraan dengan dia. Aku juga tak ingin menyiksa diriku dengan angan kau masih mencintaiku. Aku ingin berpikir realistis, bahwa kau bukan milikku dan kau tidak akan kembali.

Aku masih ingat bagaimana aku terlihat seperti orang gila di depan kalian

Terkadang di dalam lamunanku, aku masih ingat bagaimana dulu kau memperlakukanku sebelum kita sepakat untuk berpisah. Aku juga ingat bagaimana dia melihatku mempertahanmu. Mungkin dia menertawakan perjuanganku mempertahankanmu. Mungkin dia tahu bahwa perjuanganku akan sia-sia. Mungkin dia juga tahu bahwa kau akan lebih memilihnya daripada aku. Aku masih ingat. Dan ketika aku mengingatnya, aku seperti ingin mencabik mukanya. Aku ingin berteriak di depan mu dan di depannya. Apakah harus melukaiku sedemikian untuk kebahagiaan kalian?

Advertisement

Nasihat demi nasihat ku cerna, tapi belum membuahkan hasil

Aku punya banyak sahabat yang bisa mendengarkan dan mengerti kisahku. Mereka menyarankan supaya aku tak semurah itu untuk membalas pesan singkatmu. Aku bisa mengerti apa maksud mereka. Tapi nyatanya sampai sekarang pun, tanganku masih tergerak untuk membalas pesan singkatmu. Memang kadang sakit ketika bayangan mu dan bayangannya menghantuiku. Membuatku menangis lagi seperti dulu. Tidak hanya satu, banyak temanku yang menyarankan supaya aku tak lagi berhubungan denganmu yang sudah menghianatiku. Ribuan kata-kata motivasi sudah kucerna. Tapi akupun belum medapat manfaat apa-apa. Aku masih lemah karenamu. Aku tak bisa cuek padamu. Dan harus kuakui aku masih menyayangimu. Perasaan yang dulu ada masih tertanam di hatiku. Kadang akupun masih menunggumu. Seperti itulah perasaanmu. Meskipun kita sepakat untuk berpisah, sebenarnya aku tak ingin berpisah. Tapi memang kau sudah tak ingin lagi bersamaku.

Jika nanti aku sudah berhasil melupakanmu……

Dalam kisah ini mungkin aku memang terlihat seperti pihak yang diputuskan. Tapi aku tau bahwa ada waktu dimana aku bisa melepaskan perasaanku padamu. Aku tak akan menangis lagi karenamu. Aku akan biasa saja mengingat apa yang sudah kita lalui dan lewati bersama. Tak akan ada lagi air mata. Aku yakin itu. Tapi, karena aku merasa sangat sakit hati karenamu dan dia, aku tak bisa mendoakan kebahagiaan kalian karena apa yang aku rasakan sekarang. Dan jika nanti hatiku tumbuh sangat besar untuk mencintai orang lain, atau hatiku tumbuh sedikit saja untuk mencintai orang lain, apakah menurutmu aku tidak mengingatmu meski hanya sedikit? Ya, bagaimanapun kau memberiku pelajaran hidup. aku tak akan melupakanmu. Terimakasih atas segala kebahagiaan, cinta, dan luka yang kau berikan. Semoga kau tak lagi menyakiti orang lain seperti kau menyakitiku.