Selamat datang kembali pada jiwa yang lama menghilang, sayang. Meski ribuan senja kita tak pernah saling bertegur sapa, tapi entah mengapa fajar selalu mengingatkanku untuk kembali pulang. Sajak lama yang kembali terdengar, canda tawa usang yang mulai memadu, bahkan tatapan sunyi yang kembali memasti. Hadirmu kembali menyiratkan ketulusan meski kecewa sering kau hampiri, menyempatkan berhati meski kadang hati mulai berhati-hati.

Tanpa kusadari senyummu tak pernah lekang sedetikpun dalam malamku, meski tak lagi kunikmati senyuman dari bibirmu. Taukah kau, sayang? Semenjak tak lagi bersamamu aku mulai berkelana, mencari yang terindah, menikmati obsesi, menyeringaikan perangai. Egositas diri jadi makanan setiap hari, bahkan tak jarang tak mau mengalah meski kadang salah.

Seolah aku kehilangan arah, kehilangan tawaku, bahkan kehilangan separuh bagianku. Meskipun tak jarang mendapat pengganti, juga tak jarang mencoba menikmati tapi entah rasa itu tak pernah kembali sama. Senja dan fajar kala itu kulalui tanpa dirimu, namun sesungguhnya segala jiwaku selalu mengikutimu. Mengikuti kemanapun langkahmu pergi, bahkan ketika kau melangkah tak sendiri lagi.

Aku tak pernah mengerti apa yang sedang terjadi, sihir apa kau lekatkan pada hatiku hingga aku tak mampu berkutik. Pekat malam tak pernah lalai mengingatkanku akan kehadiranmu di benakku.

Sayang aku mengerti bahwa kecewa telah mencapai titik terjenuhmu dulu. Saat aku memilih pergi, meninggalkan semua tawa dan keluh kesahmu. Aku menyadari duniamu mungkin berhenti sejenak, ketika kata itu terlontar. Namun taukah kau sayang? Butuh waktu lama untuk benar-benar meninggalkanmu, dan taukah kamu? Aku tak pernah benar-benar meninggalkanmu barang sepenggal nafaspun.

Advertisement

Sayang..

Aku kembali. Mencoba peruntungan, mengumpulkan serpihan dari kita yang telah berantakan sejak lama. Sadarku semua tak akan kembali sama, sadarku bahwa kecewamu telah melekat pada pribadiku. Aku tak pernah tau apakah keputusan untuk kembali mampu mengobatimu atau malah semakin melukaimu.

Sadar tak mampu meyakinkan, aku tetap memulai untuk menyapa. Tak pernah ada umbar, tak mungkin aku berjanji. Hanya tekat yang aku coba tawarkan, hanya senyuman yang coba diciptakan. Aku tak lagi bermain ekspektasi, bahkan menyapapun aku tak sanggup lagi.

Namun dengan sederhana kau menyambutku, menawarkan dengan bijak semua keluh bahkan kesah yang nampaknya akan mengiringi. Mulutmu tak pernah berkata, namun matamu telah menunjukkan segalanya. Maaf aku terlalu lancang menatap mata indahmu, memasuki pikiranmu bahkan menyelinapi hatimu untuk sekedar menerka masih adakah kesempatan itu.

Sayang..

Bila ada yang mampu menyiratkan kata maaf yang teramat dalam tolong tunjukkan padaku. Tunjukkan agar aku mampu memperbaiki senja kala itu, senja di mana keputusan terbodoh pernah aku buat.

Sayang..

Kini kau telah disampingku, meski tau aku adalah manusia yang pernah mengecewakanmu teramat dalam. Sederhana dirimu, kejujuranmu teramat indah untuk dinikmati. Aku mengerti, aku memahami bahwa sakit itu belum pulih, namun aku telah kembali. Entah apa yang akan terjadi di esok hari, namun tetaplah hangat.

Tetaplah hangat meski kecewa pernah terasa.

Terima kasih atas kali kedua kau menghangatkan jiwa dingin ini.

Tetaplah hangatkan senja dan fajarku hingga nanti menjadi senja dan fajar kita.