Jatuh itu sakit rasanya. Jatuh dari ketinggian, jatuh karena tersandung maupun jatuh karena mencintaimu. Banyak yang berkata mencintaimu akan membahagiakan hati. Itu salah. Cinta itu sakit. Ketika kau mencintai, bersiaplah menghadapi sakit yang lainnya. Andai hari itu tak ada.

Andai 22.07 tak kubuat menjadi memori terbaikku. Mencintaimu takkan sesakit ini. Kau datang disaat kendali emosiku sedang tidak baik. Perahu yang pernah kunaiki bersama pendahulumu sedikit mengalami kemiringan. Sebelum akhirnya tenggelam kau mengulurkan tangan kepadaku. Aku tahu. Takkan mungkin, karena kau mungkin baru ini mengenalku secara dalam. Sebelumnya kita hanya berkenalan melalui pesan singkat dan menumpahkan hasrat untuk maju dalam sebuah kelompok ini.

Sampai akhirnya kapalku tenggelam. Sang kapten mencari tumpangan dan kapal yang baru. Dengan tantangan hidup yang lebih menarik. Aku. Aku untung saja terselamatkan karenamu. Karenamu, kulewatkan hari beratku dengan sandaran. Aku bersandar di dermaga yang kau siapkan. Terasa nyaman walau ada perih yang kunikmati karena pasir dalam air laut bergesekan di kulitku.

Aku merasa nyaman walau aku lelah harus berhadapan dengan bulir-bulir mimpi yang kandas diterpa angin. Entah harus melenguh dengan panjang atau bersorak dengan gembira karena selamat.

Bodoh.

Advertisement

Sangat bodoh.

Saat itu aku terbuai dan menjadi aku yang aku. Bukan aku yang lain. Lagi aku terjebak. Bersama kenangan menuju harapan palsu. Siapa bilang jarak bisa musnah bersamaan dengan keyakinan. Siapa bilang tak ada kata menyesal setelah selamat sampai tepian. Siapa bilang aku bahagia bersorak di kapal yang baru dibangun. Siapa yang bilang juga hanya kamu yang berjuang mendayung kapal untuk kembali berlayar.

Jangan katakan aku hanya berdiam diri di dermaga menunggu kepulanganmu. Aku berusaha agar pundi-pundi udaraku tetap terisi dan cita rasa cintaku tetap terjaga. Jangan katakan kaleng berantai itu mengirimkan pesan sampah. Aku sungguh menguntainya dengan aroma dan racikan cinta. Tapi ketika kulihat dirimu perlahan mundur dan menghilang jauh. Aku katakan selesai.

Aku selesai menunggumu di dermaga dengan sejuta rasa. Tetirahlah kapten, aku siap berkelana dengan dayungku.