Aku masih mengingat dengan jelas awal pertemuan kita, sesuatu yang berusaha untuk tak kupikirkan, tapi tak bisa kulupakan. Meski bisa dibilang itu seharusnya bukan pertemuan awal kita, karena kamu dan aku teman dari SMP hanya saja kita jarang berbicara dan hanya sekedar tegur sapa.

Hari sabtu sekitar pukul 10.00 WIB (sebetulnya waktu itu aku terlambat sekitar satu jam), hal memalukan yang terjadi saat awal aku menginjak tingkat SMA. Aku terlambat karena terlalu menikmati perjalanan menuju lingkungan baru.

Saat aku memasuki gedung tempat berkumpulnya murid baru, di situ aku melihatmu tengah asik berbicara dengan teman-teman barumu dan dua orang senior.

Aku dapat langsung melihatmu karena kamu duduk di dekat pintu masuk dengan seragam yang kukenal.

Tampaknya kamu dan yang lain telah dibagi dalam beberapa kelompok MOS yang dipimpin oleh dua orang senior dari OSIS SMA.

Advertisement

setelah aku meminta maaf kepada salah satu senior karena telat dan aku langsung bertanya kelompokku. Ternyata aku satu kelompok denganmu, yah waktu itu aku hanya bersikap biasa saja meski yang lain mengetahui kita satu sekolah dan selalu bertanya tentangmu (saat itu kau begitu banyak yang menyukai, termasuk kakak kelas kita).

Beberapa hari telah berlalu dan kelas telah dibagi. Jadwal ekstrakurikuler juga telah didapatkan, Aku memilih dua eskstrakurikuler yang menarik perhatianku. Yang mengejutkan adalah kamu satu kelas dengan aku dan satu ekstrakurikuler denganku (meski hanya salah satunya).

aku masih mengingat tanggapanmu waktu itu, waktu itu kau berkata "hei ternyata kita sekelas, dan sekarang kita satu eskul"

Aku menjawab dengan ketus (waktu itu aku terkenal galak jika belum mengenal dekat seseorang) "Hanya kebetulan!"

Kau membalas dengan cengiran khasmu "Ck, dasar macan! Tidak ada yang namanya kebetulan. Semua pasti udah ada yang mengaturnya", Lalu kau berkata lagi "Selain eskul ini, lu ngikut eskul apa lagi? Kan wajib isi dua"

Aku menjawab sekenannya dan kau membalas "Hhmm (dengan ekspresi seperti berpikir).. Hahaha untung gw gak jadi ngambil eskul itu, yang ada dijutekin trus gwnya. Tauk gak, gw ikut eskul pecinta alam"

"Bodo amat, siapa juga yang mau tau. Ya untung lu ga jadi milih eskul itu, udah satu SMP sama lu, satu kelompok MOS, satu kelas di SMA, sama-sama di eskul yang ini" Aku bergurau sendiri.

Kamu hanya membalasnya dengan tertawa, kita berdua memang terkenal sebagai teman ribut dari awal semester. Kamu selalu bisa memancing emosiku. bahkan setiap kita ribut, kamu selalu memanggilku dengan sebutan macan dan aku selalu memanggilmu landak (karena rambutmu yang seperti duri di punggung landak).

Teman-teman dan guru yang melihat kita ribut selalu berkata kita seperti pasangan yang lucu dan gila.

Sampai saat itu aku masih belum merasakan apa-apa dan aku hanya penyampai salam untukmu dari kakak kelas yang perempuan. Semua perlahan-lahan berubah sejak ada kegiatan lomba di sekolah kita. Entah kenapa dan tanpa sebab aku mulai menyukaimu dan selalu memperhatikanmu meski sedang berbicara dengan teman-temanku.

Hari demi hari terus berlalu, aku tetap menyukaimu dalam diam. Jika di luar aku terlihat seperti biasa saja saat berbicara denganmu, tidak begitu di dalam hatiku.

Terkadang sikapmu membuatku berpikir dan berharap kamu juga menyukaiku. Meski aku sadar kamu telah memiliki pacar ideal di SMA tetangga dan aku mengenal pacarmu dengan baik.

Salah satu contoh sikapmu yang membuat aku berharap lebih, ketika ada perlombaan futsal antar SMA dan kita dipilih sebagai panitia.

Di situ ada salah seorang teman SMP yang termasuk anggota tim futsal SMA lain, dia mengajakku berbicara dan bercanda mengingat masa-masa SMP. Tiba-tiba kamu datang dan menarik tanganku dengan alasan kita disuruh kumpul, ternyata setelah aku mengikutimu tidak ada panitia yang berkumpul.

Saat aku marah-marah karena diganggu kamu berkata sambil menunjukkan cengiran khasmu yang tidak bisa ku tolak "Dia kan lagi jadi tim musuh, biar kata teman SMP harusnya lu ga ajak ngobrol dia dong. Dukung tim sekolah kita dong. Kalo kayak tadi keliatan kayak penghianat tim tau"

Teman-teman yang melihat kita seperti itu berkata bahwa kau cemburu dan kau hanya tertawa.

Lalu saat salah seorang kakak kelas kita yang ingin berkenalan denganku bertanya kepadamu dan titip salam lewatmu, kamu menyampaikan kepada aku dengan nada seperti seorang yang kakak yang menjaga adiknya.

"Hei, lu tau gak, kiper futsal kita yang tadi liatin lu terus. dia ajak kenalan tuh, nitip salam juga"

Aku menjawab santai "Iya, biar aja, gw ga pengen kenalan"

"Kenapa? Bisa aja lu cocok sama, asyik dah bisa dapat gebetan" Balasmu

"Belum tertarik cari gebetan" (Dalam hatiku berkata karena gw tertariknya sama lu)

"Hehe, bagus.. Menurut gw juga lu jangan pacaran dulu kalau belum kenal banget sama cowoknya. Apalagi gw gak tau sifatnya gimana. Lu boleh punya gebetan kalau gw tau dia baik buat lu"

"Apa hubungannya sama lu?" Jawabku ketus

Kamu hanya tertawa.

Meski di dalam hati sebetulnya aku senang kau memperhatikan aku seperti itu. Tapi aku sadar, aku terlalu berharap karena aku tahu kau sudah memiliki pacar dan kau selalu menganggap aku seperti seorang adik kecil (meski umur kita hanya berbeda sembilan bulan).

Hal lainnya yang selalu membuat aku berharap, ketika kita sedang belajar bersama, kamu terkadang bertanya jawaban soal yang tidak kamu mengerti dan meminjam peralatan menulisku yang lebih lengkap.

Kamu selalu berkata "Terima kasih sayang" atau "Ah gw betul-betul cinta sama lu macan, apalagi kalau lagi bersikap baik seperti ini"

Aku tahu kamu hanya berbicara asal saja, tapi aku suka memastikannya dengan bertanya "Bilang apa lu tadi?"

Kamu hanya tertawa, lalu berkata "Bilang apa ya? Salah dengar kali."

Atau ketika salah seorang guru bertanya iseng kepadamu kenapa kamu sering mengantar aku pulang padahal kita beda arah, kamu hanya berkata untuk memastikan teman ributmu sampai dengan selamat di rumah.

Atau saat kakak kelas marah ke aku karena selalu dekat-dekat denganmu, kamu pasti langsung datang menolong aku, kamu pasti berkata aku pacar kamu atau aku gebetanmu. Saat aku marah karena kamu mengaku-ngaku,

Kamu hanya tertawa (lagi) dan berkata satu-satunya cara agar aku tidak diganggu kakak kelas perempuan adalah dengan mengakui kita ada hubungan istimewa.

Yah kamu terus membuat aku berharap, tapi kamu juga selalu membuat aku tersadar saat kamu berbicara tentang kekasihmu atau saat kamu titip absen eskul di aku karena ingin menjemput pacarmu.

oh iya, aku pernah bertanya kenapa kamu selalu panggil aku dengan sebutan macan dari awal bertemu padahal kita belum terlalu dekat. Kamu menjawab dengan cengiran khasmu pertama karena aku sudah terlihat jutek dari awal dengan orang yang belum dikenal, kedua karena aku manis dan cantik di matamu.

Kau membuat aku senang tanpa alasan dengan jawabanmu dan membuat aku berharap lagi. Tapi kemudian segera kutepis harapan itu. Walau jawabanmu dengan cengiran khas itu tak pernah bisa kulupakan.

Semester telah berganti, waktu kenaikan kelas pun semakin dekat. tapi karena suatu alasan, aku harus pindah sekolah. Itu adalah akhir dari perjumpaan kita. Karena semenjak pindah aku tidak pernah berkomunikasi denganmu lagi bahkan meski melalui media sosial.

Aku hanya mendengarkan kabarmu lewat teman-teman yang masih berkomunikasi denganku. Pernah sekali aku senang ketika mereka menyampaikan kabar bahwa kamu menanyakan kabarku.

Aku tahu kamu telah meiliki pacar baru dan ini adalah yang kesekian, aku pun telah memiliki pacar.

Tapi tahukah kamu sampai sekarang aku tidak pernah melupakanmu, meski berusaha untuk tidak memikirkanmu. Aku selalu berharap dan senang jika mengetahui engkau telah bahagia dengan pilihanmu.

Aku sadar bahwa aku tidak pernah mengungkapkan perasaan ini kepadamu, karena aku takut kehilanganmu sebagai teman. aku memang tidak pernah bisa melupakanmu, karena kamu adalah cinta pertamaku.