Sudah sifat orang batak memang keras dalam mendidik anak. Tidak ada waktu untuk ber leha-leha, jika sudah cukup kuat melakukan pekerjaan, semua harus bekerja membantu orang tua. Jika kau tak melakukan pekerjaan mu, siap-siap saja dimarahin habis-habisan. itu semua dilakukan agar anak dan cucunya disiplin.

Aku tinggal dan besar dirumah kakekku yang dulunya seorang pejuang kemerdekaan atau Veteran Republik Indonesia. Karena dia seorang pejuang, jiwa militernya sering dikelurakan dirumah. Kakekku dua kali lipat lebih keras dari orang Batak biasanya dan dua kali lipat lebih disiplin daripada tentara militer. Bayangkan saja, jika dia marah sudah seperti auman singa yang ingin menerkam musuh, siapapun mendengarnya bulu kuduknya pasti langsung berdiri.

Kami tinggal hanya bertiga dirumah kakek, bersama kakak sepupuku. Aku dan kakak sepupuku punya tugas masing-masing, mungkin karena aku masih duduk dibangku sekolah dasar, pekerjaanku jauh lebih ringan dibandingkannya. Aku hanya ditugaskan menyapu halaman yang luasnya 4X6 meter setiap paginya, setelah kusapu dengan bersih baru aku menaikkan bendera merah putih yang tiangnya sudah berdiri jauh sebelum aku lahir, menjelang malam tiba, bendera kebanggan Indonesia pun aku turunkan.

Semenjak nenek meninggal dua tahun yang lalu, pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci piring, menyapu rumah dan mengrus kakek diwariskan kepada kakak sepupuku yang cantik dan malang ini. kasian sekali dia, baru duduk dibangku SMA kelas 2, tanggung jawabnya sudah besar.

BANGUN, BANGUN, BANGUN. Kakek mendorong-dorongkan tongkatnya ke badanku agar aku bangun. BANGUN PEMALAS!! Teriaknya lagi. Bentar lagi, jawabku dengan mata tertutup. KAMU INI, KAU!!! KALAU HIDUP DI ZAMAN PENJAJAH, UDAH DITEMBAK MATI SAMA TENTARA BELANDA KALAU MALAS MALASAN SEPERTI INI. Timpal kakek dengan keras. Aku langsung bangun mendengar auman kakek. Jika tidak, kakek akan terus mendorong-dorongkan tongkatnya sambil mengoceh. Sekarang udah tahun 2005, bukan zaman penjajahan, jadi jangan samain zaman dulu sama zaman sekarang. Gerutuku dalam hati. Aku lekas menyapu halaman dan menaikan bendera merah putih setelah itu mandi langsung berangkat sekolah.

Advertisement

Pulang sekolah, adalah waktu yang paling pas untuk bermain, bermain bola sampai lupa waktu sudah maghrib. Pulang kerumah, aku membuka pintu, seseorang telah menungguku dalam rumah dan wajah tua nya sangat familiar dalam hidupku. Kau tau jam berapa ini? Tanya kakek, Aku hanya diam membisu. BAJU SERAGAM BELUM DIGANTI TAPI UDAH MAIN BOLA, bentak nya. Kalau udah kotor begini, besok kesekolah mau pakai baju apa? HAA?? Aku tetap diam dan membisu juga. Karena aku tau jika aku menjawab omelan kakek, dia akan semakin murkah. Tenang saja aku sudah terbiasa diomelin seperti ini. Lagian omelan kakek sudah aku anggap seperti lagu underground tanpa iringan musik.

Makan malam kali ini sangat tidak bernafsu, lantaran umurku genap 12 tahun, tapi tak satu orang pun memberikan aku hadiah. Bahkan setiap kali aku ulang tahun tak ada orang yg memberikanku hadiah jangankan hadiah, ngucapin selamat pun tak ada. Padahal aku juga ingin dapatkan hadiah ulang tahun seperti teman-temanku yang lain.

Kenapa kau makan tidak nafsu begitu? Tanya kakek padaku. Hari ini dia ulang tahun dan pengen dikasih hadiah, padahal tadi aku udah kasih hadiah kek, tapi dianya gak suka. Jawab sepupuku yang malang itu dengan lancang. Yang kau kasih itu bukan hadiah, tapi BENDERA pengganti bendera kita yang sudah buluk dan pudar. Jawab ku dengan sedikit kesal. Aku ini lahir dijaman kolonial Belanda dan dibesarkan oleh kakek buyutmu yang Miskin. Jadi aku tak pernah tau yang namanya memberi hadiah disaat ulang tahun. maafkan lah kakek mu ini yang yang tak mengerti apa-apa. Suasana makan malam kali ini jadi makin sedih gara-gara cerita kakek. Tapi kakek janji, nanti kalau kamu udah nerima rapot terus kamu mendapat Ranking, kakek akan memberikan hadiah buat kamu. janji ya kek, sepatu bola? Tanyaku untuk memastikan. Tenang saja, pejuang sejati tak pernah ingkar janji. sahutnya. Aku senyum-senyum mendengarnya, dan sudah membayangkan hadiah yang dikasih kakek adalah Sepatu Bola. Hhhmm naik kelas aja udah sukur, sok sok an mau dapat Rangking. Celetuk kakak sepupuku. Sontak saja semua bayangan tadi langsung buyar seketika. Udahh udah cepat habisin makanannya, sebelum Belanda datang menjajah lagi, seruan kakek. Kami bertiga langsung melahap makanannya tanpa sisa sedikit pun

Ujian kenaikan kelas tinggal seminggu lagi, aku harus belajar agar dapat Rangking dan sepatu bola baru. Coba dari dulu kakek ngasih tantangan seperti ini, aku pasti rajin belajar. Khayalku. Kakek senang melihat gairah belajarku menaik derastis

Hari ini rapot akan dibagikan ke wali murid, karena anak SMA sudah liburan duluan, jadi kakak sepupuku ikut menemani aku dan kakek mengambil Rapot. Aku sudah tak sabar melihat hasil rapotku, dan membayang-bayangkan sepatu bola baru yang jadi hadiah kakek. Aku senyum kegirangan

Rapot sudah ditangan kakek, kami pulang menju rumah. tapi dia masih diam dan tak mau ngasih tau aku mendapat rangking atau tidak. Tadi aku sudah melihat rapotmu. Bisik kakak sepupuku padaku, terus kak? Kau dapat rangking 2. yang benar kak? Jawabku dengan polos. Iya, tapi dari belakang. Ketawanya dengan puas. Hahaha. Aku langsung memukul punggungnya dengan pelan

Hari ini kita harus makan enak untuk rayain rangking 3 mu cuk, kata kakek. Aku langsung kaget dan sangat senang. Kakek mengasih rapotku padaku, benar saja aku mendapatkan rangking 3 dari 37 murid. Aku sangat senang mendapatkan rangking kelas, terakhir aku mendapatkan rangking saat kelas 2 SD itu pun rangking 9. Mana kek hadiahku? Tagihku pada kakek. Tenang aja, kakek sudah siapkan dari jauh hari kok. Kakek langsung mengambil kotak yang bentuknya seperti kardus sepatu yang sudah dibungkus rapih. Aku langsung melompat-lompat kegirangan. Aku menerima kotak yang sudah dibungkus rapih tadi,membukanya dengan pelan-pelan. aku senyum-senyum melihat isinya kardus sepatu bola. sebelum aku membuka kardus sepatu bola ini. Aku salim kakek dan berterima kasih banyak. Iyaaa cuuk, makanya rajin belajar biar dikasih hadiah terus sama kakek.

Kubuka isi kardus sepatu bola tadi, aku tercengang melihat isinya. Isinya adalah bendera merah putih bekas dan sebuah skipping. INI APA KEK? Tanyaku dengan protes. Itu, kamu bisa lihat kan. Jawabnya dengan enteng. Iyaa aku bisa lihat, tapi kenapa hadiahnya ini? Kan kita janjinya kalau dapat rangking hadiahnya sepatu bola, Katanya pejuang sejati gak pernah ingkar janji. Emang kakek pernah janji mau ngasih hadiah sepatu? Kan gak pernah. Kakek cuman janji mau ngasih hadiah buat kamu kalau kamu dapat rangking, sekarang kamu sudah dapat rangking, kakek berikan tuhh hadiahnya. Kamu harus ingat, kalo dikasih hadiah, barangnya harus dijaga baik-baik, jangan dirusak. Ceramahnya

Lagian kakek lebih suka ngasih kamu skipping daripada sepatu bola, kalau kamu main skipping nanti dewasanya jadinya tinggi, terus kalau udah tingginya udah cukup dan umur udah cukup juga kamu langsung melamar tentara. Aku gak mau jadi tentara kek, aku mau jadi pemain sepak bola seperti Ronaldo. Protesku terhadap kakek. Kamu tau, kalau penjajah datang lagi kenegeri ini. kamu pikir, kamu masih bisa main bola? kamu pikir orang-orang seperti Ronaldo bisa mengsir penjajah.

Tapi kita sudah merdeka kek? Jawabku denga kesal.

Merdeka hanya simbolis aja. tapi lihat kenyataannya, peperangan masih terlihat di mana-mana. Teriaknyanya padaku. aku semakin tak mengerti sama omongan kakek, kakek semakin aneh, dia berbicara tentang kemerdekaan sama anak yang jelas belum disunat. Pupus sudah harapanku mempunyai sepatu bola, ahhh sudah lah jangan diambil pusing. Toh masih ada sepatu sekolah yang bisa dibuat main bola.