Dianna selalu berharap hanya ada dirinya dalam hidup lelaki yang dicintainya. Menemaninya, genggaman tangan itu mengikuti langkahnya yang melawan riak ombak di tepi pantai. Sepasang kaki indah itu dibiarkan tergelitik butiran pasir, lalu kembali luruh dengan sapuan aliran air yang berkilau pelangi, memantulkan cahaya lampu malam hari di Sorrento.

Suara percikan yang ditimbulkan oleh mereka berdua berakhir di samping sebuah perahu kecil tak berawak, meninggalkan bekas jejak-jejak kaki, hingga mereka menghilang seolah tiada seorang pun yang pernah bertapak di sana.

“Kau ingin duduk di sini?”

Dianna tidak menjawab, sudah jelas dari yang dilakukannya dengan langsung duduk di atas kapal tersebut.

“Eitan, aku ingin bertanya.” Dia bertopang dagu, di matanya tampak satu butir kilauan yang terpantul dari cahaya lampu yang bersinar keemasan.

Advertisement

“Apa itu?”

“Aku selalu bertanya-tanya … tapi tidak pernah berani menyampaikannya karena aku pikir, ini tidak cukup penting.”

“Hal yang paling tidak penting dari semua pertanyaanmu adalah apa aku mencintaimu.”

“Kalau begitu, ini mungkin sedikit lebih penting.” Dianna menyelipkan surai kecoklatan itu di balik telinganya, “aku ingin tahu … sebelum aku, siapa gadis yang kau cintai?”

“Cinta?”

“Cinta.”

Eitan menatap kedua manik abu-abu yang hangat itu, tersenyum dan menjawab, “ada lima orang gadis—”

“Lima?”

Yang ditegaskan hanya mengulas seringai tipis karena terinterupsi. “Lima, Dianna.”

“Baiklah, siapa mereka?”

“Apa, siapa, di mana, kapan, dan kenapa. Dan aku yakin kau ingin mendengarnya bukan?”

Dianna mengangguk, ada sedikit suram dalam kerut wajahnya yang meredup.

Apa yang aku cinta adalah seorang gadis yang kutemui tanpa sengaja di sebuah galeri seni. Ketika aku merasa aku membutuhkan seseorang di sampingku, dia datang dan menjadi sebuah pelengkap dari serpihan puzzle kehidupanku. Dia gadis dengan senyum manis dan sentuhan yang hangat, kami berbagi kegemaran yang sama, berjalan bersama.” Eitan menyatukan kedua telapak tangannya yang bertumpu pada kedua lutut, menyematkan jemarinya satu sama lain. “Satu-satunya yang menjadi masalah adalah, kami tidak pernah benar-benar ditakdirkan bersama, kami hanya bosan. Mencari sesuatu yang baru, saat dunia kami kembali menyenangkan, bahkan kami tidak merasakan apapun tanpa kehadiran satu sama lain.”

Deburan ombak sekali lagi, untuk kesekian kalinya menumbukkan dirinya dan terpecah melawan dinding-dinding kapal, mengepulkan aroma laut yang tidak pernah dimengerti oleh Dianna.

Siapa yang aku cinta adalah seorang sahabat kecilku. Sejak aku merengek ketika dilarang bermain oleh ibuku, hingga aku mulai berpindah dari kota ke kota untuk melukis, dia selalu ada. Dia seorang teman, pendengar, penyemangat, yang selalu ada saat aku sendiri atau memiliki seorang gadis dalam hidupku, saat aku senang maupun tertekan.”

“Kau tahu apa yang menjadi masalah, Dianna?”

Dianna menggeleng, mulai merasa menyesal karena menanyakan sebuah pertanyaan bodoh.

“Kami tidak pernah ada pada saat yang tepat. Dia memiliki orang lain saat aku sendiri, dan sebaliknya.”

Eitan tersenyum dan melanjutkan, “Di mana yang aku cinta adalah seorang gadis yang kutemui di Florence. Kau tahu dulu aku membenci Florence, bukan? Seperti kisah cinta menyedihkan itu. Tapi aku tidak akan membuat sebuah Eitan’s Church, Dianna. Gadis itu menunjukkan padaku bahwa ada banyak keindahan, membiarkan aku tahu bahwa ketika satu tempat yang luas hancur dalam kehidupanku, masih ada tempat-tempat lain—yang tidak sama megahnya—namun tak terkira jumlahnya, dan sedikit demi sedikit mereka akan menggantikan kehilanganku.”

Eitan menghembuskan napas panjang, “Kapan yang aku cinta adalah cinta pertamaku. Benar bahwa cinta pertama tidak tergantikan.” Dia—dengan sengaja—memutus kalimatnya, membiarkan Dianna menunggu lanjutan dari kalimat yang terdengar tidak menyenangkan tersebut.

“Itu adalah sebuah kisah yang membuatku bernostalgia. Cinta pertama adalah saat dimana aku mulai tumbuh dewasa dalam sebuah percintaan, mengerti seperti apa rasanya jatuh cinta, merasakan bahagia saat dia tersenyum padaku. Cinta pertama memberikan hal-hal sederhana yang untuk saat ini tidak lagi terasa baru, ciuman pertama, keluguan yang bodoh ketika diingat lagi, mengendap untuk keluar pada malam hari. Itu saat ketika aku memulai segalanya dalam cinta.”

Dianna terus memperhatikan, dia sendiri sebenarnya tersenyum, entah getir atau memang kata-kata tersebut terdengar seperti romantisme indah yang menyenangkan.

Kenapa yang aku cinta adalah seorang gadis yang di acara derma. Dia mengajarkanku untuk melihat dunia dari mata yang berbeda, bahwa cinta tidak selalu tentang ketertarikan, hubungan intim, maupun goresan-goresan pena yang menghasilkan puisi cinta. Ada hal sederhana seperti … memberi dan menerima, dan bukan terus mengharapkan pemberian. Kenapa aku harus mencintai seseorang, memiliki arti lebih luas dari sebuah daya tarik semata. Itu adalah tentang mendedikasikan hidup, dan berbahagia dengan apa yang bisa didapatkan, bukan melihat apa yang orang lain dapatkan dan kita inginkan.”

Eitan mengulurkan tangannya, Dianna memandang bingung, namun menyambutnya. Dia dibawa keluar dari kapal tersebut, rasa dingin yang tadinya telah hilang kembali menjalar mulai dari telapak kakinya.

“Jadi, kau telah melalui segalanya.” Dianna tertunduk, bukankah dia tidak lagi bisa menjadi jawaban atas harapan-harapan Eitan? Lalu bagaimana dia harus menjalani kehidupannya dibandingkan dengan gadis-gadis sempurna yang telah Eitan temui?

“Kau, adalah yang keenam.”

“Keenam?”

Eitan tidak menjawab, dia menarik lekukan pinggang Dianna, meletakkan kedua tangan tersebut di sisi-sisi lehernya. Dari bibirnya tergumam alunan merdu dengan suara yang dalam, “Te voglio bene assaje … ma tanto, tanto bene sai … è una catena ormai … che scioglie il sangue dint’e vene sai.

***

Here where the sea sparkles, and a strong wind blows

On an old terrace, overlooking the gulf of Sorrento

A man holds a little girl in his arms

After he’s been crying, he clears his throat and sings the song again

I love you so much

So very much, you know

It’s a bond, now

You know, that thaws the blood in the veins

***

“Caruso …,” Eitan membisikkan kata-kata tersebut. Dianna tahu itu, sebuah lagu yang sangat indah, sebuah seni, namun memilukan. Dan dia tahu bahwa Eitan memang selalu jatuh cinta pada sesuatu yang indah namun menyedihkan.

“Kau adalah yang keenam dari sebuah caruso kehidupanku. Sandiwara dengan banyak kesedihan yang berakhir kebahagiaan, beautiful but sad. Dianna, kau tahu siapa yang mengirim dirimu padaku?” Sebuah pertanyaan sederhana yang tidak terlepas dari Enrico Caruso yang menjadi inspirasi dari lagu indah tersebut. “Tuhan itu sendiri.” Senyuman Eitan mengakhiri kutipannya atas kata-kata Giacomo Puccini.

“Tapi, kau sudah bertemu gadis-gadis sempurna sebelum diriku, Eitan.”

“Kau adalah tujuan terakhirku, Dianna. Karena kau adalah yang keenam. Apa yang aku cinta, menyadarkanku bahwa aku bukan sebuah mainan teka-teki yang kehilangan serpihan agar kembali utuh. Bahwa aku adalah siapa sebenarnya, seutuhnya, bukan pecahan, bukan pula satu jiwa yang memerlukan pelengkap. Karena itu kita selalu berjalan bersama. Karena kita kuat, memiliki kedua tangan dan kaki, dan tidak saling menumpukan dua badan pada sepasang kaki dan tangan saja.”

“Kau adalah siapa yang aku cinta. Teman, sahabat, penyemangat, inspirasi, dan segala yang aku perlukan, selalu ada saat aku membutuhkanmu, dan selalu terbuka padaku saat kau membutuhkanku. Kau adalah dimana yang aku cinta. Karena aku tidak peduli, di mana pun tempat yang kau tuju, itulah tempat yang akan menjadi pemberhentianku. Bahwa aku saat ini berada di Sorrento, mungkin esok hari aku berada di Florence, itu karena kau adalah dimana yang membuatku mencintai segala tempat selama ada dirimu di sana.”

Dianna tertegun, ia mungkin tidak sadar bahwa buku-buku jarinya mulai memutih karena mencengkeram pakaian Eitan terlalu kuat.

“Kau adalah kapan yang aku cinta. Karena denganmu, melakukan hal-hal yang pernah aku lakukan, sedang kulakukan, ataupun akan aku lakukan, semuanya terasa membahagiakan. Aku selalu menunggu apa yang akan terjadi, menikmati yang sedang kita jalani, dan tidak akan pernah bisa melupakan yang telah terlalui.”

“Kau … adalah kenapa yang aku cintai. Karena aku telah mengerti, kedatanganmu sebagai yang keenam adalah yang terbaik. Aku telah belajar banyak, melalui apa yang belum pernah aku alami jika kau datang sebagai yang pertama. Denganmu, aku sudah mengerti untuk melihat dunia dari berbagai sisi, bukan hanya melihat tapi memahami bahwa ada keindahan yang istimewa dari setiap sudut pandang yang berbeda.”

“Eitan …”

“Kau adalah yang keenam, kebahagiaan dari melodrama kehidupanku, bagian indah dari kisah menawan yang menyedihkan itu. Kau, yang menjadi jawaban dari harapanku, seorang yang menempati bagian terakhir kisah cintaku.”

“True love cannot be found where it does not exist, nor can it be denied where it does” — Torquato Tasso