Melihatnya berjalan melaluimu begitu saja tanpa melihat sedikit ke arahmu salah satu hal yang membuatku ingin sekali kenal lebih dekat denganmu. "Sosok Misterius". Saling tahu tak pernah bertegur sapa agak riskan kedengarannya, atau mungkin hanya aku saja yang menganggap bahwa kita hanya "saling tahu?". Ya memang benar hanya aku saja yang mengenalnya tanpa dia tau tentang aku.

Setahun kita ditempat yang sama namun tak ada yang tahu kejadian di masa depan. Memang benar, setelah 3 tahun setelah perpisahan itu aku melihatmu berjalan sendirian di suatu mall terkenal di kotaku. Ingin ku sapa tapi ragaku tak kuat untuk melangkah. Ku urungkan keinginanku untuk menyapamu di sana. Begitu banyak pertanyaan muncul di kepala ku. Bagaimana kabarmu? Kemana saja dirimu selama ini? Apakah kau mengingatku sama seperti aku mengingatmu? Dimana sekarang kamu tinggal? Apakah kamu melanjutkan kuliah? Dimana? Namun tak juga aku menemukan jawaban atas pertanyaan yang muncul di kepala ku itu.

Awalnya aku tertarik sekali untuk berkenalan denganmu. Sejak beberapa tahun tak pernah melihatmu dan kini kesempatan itu tiba. Kuputuskan untuk bertegur sapa melalui pesan pribadi mengingat aku mempunyai kontakmu entah mulai dari kapan aku menyimpannya. "Tadi jalan sedirian saja di mall?" pesanku singkat kepadanya. Aku semakin tertarik denganmu. Dan mulai saat itu kamu menyadari bahwa aku selama ini melihatmu dari kejauhan tanpa kau sadar sama sekali, dan mulai dari situ kita menjadi akrab, dan mulai dari situ kita semakin dekat. Aku sangat senang apabila jika hubungan ini terus berlanjut.

Pertemuan pertama mengesankan, akhirnya aku dan kamu berhadapan, bercerita banyak hal yang selama ini terlewatkan. Namun sang waktu rupanya iri melihat kita bersenda gurau. Kita pun pisah. Pertemuan kedua mengesankan, kau dengan sabar menungguku ditempat makanan favoritku hingga jam pulang kerja ku usai. Denganmu apapun bisa jadi bahan obrolan, aku suka itu dan semakin suka. Lagi lagi kita kehabisan waktu yang saat bersamamu waktu itu semakin cepat berjalan. Pertemuan ketiga kau semakin menunjukkan sikapmu terhadapku bahwa kau ingin memilikiku. "Jika aku punya kekasih, aku ingin seperti dirimu ".

Namun semakin lama semakin kesini aku tak ingin dia dekat denganku, entah dengan alasan apa aku tak ingin dia lebih dekat denganku. Semua pesannya ku balas seadanya bahkan tak ku baca atau pun ku balas sama sekali yang membuat dia mengirim pesan begitu banyak kepadaku. Lagi lagi tak ku hiraukan. Aku biarkan saja pesan itu menumpuk menumpuk sampai berbulan bulan. Namun anehnya mengapa dirimu masih baik kepada ku yang sudah menyiakanmu? Mengapa? Dan aku semakin tak tahu diri memperlakukanmu, aku datang kepadamu jika aku sedang butuh butuhnya, jika tidak aku tak akan datang atau sekedar membalas pesanmu, bahkan disaat aku sudah punya orang lain atau di saat aku sedang sedih dan merasa sakit hati kau selalu ada kau selalu hadir. Dengan setia kau mendengarkan setiap ceritaku, dengan sabar kau mengahdapiku yang terlalu sepert anak kecil ini, kau tak pernah marah, kau tak pernah membentakku, kau selalu sabar menghadapi tingkah ku.

Advertisement

"Apa yang sebenarnya yang kau tutupi dariku? Apakah perasaanmu kepadaku lah yang kau tutupi dari diriku?"

Berbulan bulan lamanya kau hidup dalam ketidak pastian ini, aku tak tahu apakah kau menginginkan sebuah kepastian atau tidak. Yang jelas aku sadar bahwa sikapku selama ini kepadamu itu memang salah, tapi tetap saja ego ku memperlakukanmu seperti itu. Dan akhirnya kita tak saling berkomunikasi dalam waktu yang lama. Jarak memisahkan kita dan sang waktu seakan ikut memusuhi kita berdua. Hal itu terjadi dalam waktu yang cukup lama.

Waktu dan jarak tak lagi marah kepada kami berdua. Kita bertemu lagi di pertemuan keempat, sikapku yang dulu tak lagi sama. Dirimu pun kini tampak berbeda, ada hal yang berbeda yang sampai saat ini aku tak tahu alasannya. Sangat berbeda, membuatku menyadari akan kesalahanku sebelum sebelumnya.

"Aku ingin sekali memilikimu!" tegasku dalam hati.

Dan saat itu ku putuskan pencarianku untuk berhenti di kamu. Aku tak perlu lagi untuk lelah mencari yang lain. Aku tak perlu menangis karna merasa tersakiti oleh orang lain. Kamulah pelengkapku. Kamulah yang selama ini kucari. Teman berbagi cerita sedih dan senang. Teman berbagi canda dan tawa. Teman curhat dan pembimbingku. Teman hidup dan matiku. Terlalu bodoh untuk tidak mengatahuinya. Orang yang selama ini aku cari telah hadir tapa kusadari. Orang yang tak terduga.