Malam ini serasa bisu. Tak ada suara-suara yang menggema dalam sunyiku. Gelap pun seakan pekat, cahaya bulan yang nampak tak cukup menerangi hatiku yang muram saat satu-satunya ceriaku menghilang, senyumnya temaram dibalik kecewa yang tanpa sengaja aku sisipkan.

Lagi. Dengan bodoh telah kuciptakan kecewa yang kini membuatku hampa sendiri, hampa saat hadirnya yang biasa menghiasi hariku kini tiada, hampa saat suara indahnya yang selalu merdu di telinga seolah menjauh dari daun telingaku. Semakin jauh dan tak terdengar dan waktu membiarkan aku hidup dengan penyesalan atas kebodohanku yang tanpa sengaja kulakukan lagi.

Rasanya sakit ketika sebuah penyesalan singgah merenggut bahagia ku tanpa ku sadari dan nyatanya aku tak berdaya untuk mengembalikan waktu saat sebelum kubuat salahku, bodohku. Senyummu temaram… Ceriaku pun menghilang, terenggut oleh sang waktu yang kadang begitu baik mempertemukan aku yang begitu kerdil dengan caraku mencintainya dengan dia yang begitu sempurna memberi kehidupan yang luar biasa indahnya.

Seperti orang bingung. Lebih dari itu, aku tak mengerti cara membuatmu tersenyum lagi untukku, aku tak mengerti daya yang harus ku perbuat agar canda kita terjalin lagi di malam ini yang serasa begitu muram bagiku. Kehilangan senyummu, kehilangan candamu seperti menghapus bahagia yang kau lukis dengan begitu sempurnanya. Aku resah… aku gelisah dan entah kata seperti apa yang mampu ku lukiskan pada malam yang berbintang namun begitu muram karena rembulan malamku sembunyi dibalik kecewanya.

Kau telah biarkan penyesalan masuk terlalu dalam di dalam relung hatiku saat senyummu temaram, sapamu tak terdengar dan tawamu sembunyi di balik wajahmu yang seakan penuh kecewa terhadapku. Maafkan jika aku hanya mampu memberi kecewa yang bahkan kadang tanpa ku sadari telah ku perbuat hingga pada akhirnya melukai diriku sendiri.

Advertisement

Maafkan atas segala tingkahku dalam salahnya caraku mencintaimu, dalam sikapku yang tak tepat dalam membuktikan betapa tak ada yang aku inginkan selain melihatmu di setiap waktuku, bersamamu di setiap hariku, memandang wajahmu yang teduh, tawamu yang dibayangkan saja selalu mampu membuatku tersenyum dan merindu. Sayang… aku sungguh merindukanmu malam ini, sayang kau temaram dalam kecewamu..

Kembalilah tersenyum… jangan lagi sembunyikan senyumanmu yang menjadi penerang dalam hariku. Aku semakin bersedih pada malam sunyi yang begitu hampa, kelam dan penuh sesal, aku semakin sesak saat rindu yang hebat ini tak dapat terpecahkan bahkan terluka atas ulahku kecewakanmu. Jangan lagi… jangan lagi sembunyikan senyum itu, aku tak mampu terpejam saat masih ku dapati kamu hanyut dalam kecewamu.

Tak ada yang ingin ku lakukan saat ini selain melihatmu… mencoba segala cara untuk membuatmu kembali seperti sedia kala namun sampai detik ini masih dengan wajah layu, aku masih belum mampu membuatmu tersenyum lagi untukku.

Sayang… terlalukah kubuat kau kecewa? Tak dapatkah kau tersenyum dan tinggalkan kecewamu? Takkan mampu ku terpejam saat sesuatu yang menjadi hidupku kini serasa jauh, rasanya aku ingin terjaga hingga pagi tiba, berharap sinar matahari pagi akan mampu membuatmu tersenyum lagi terlebih padaku. Padaku yang kini hanya mampu terdiam dalam cemas menantikan kabarmu, senyummu dan candamu.

Aku tak mengerti bagaimana harus berkata ketika tutur cintaku pun tak cukup mampu membuatmu tinggalkan kecewamu, kini aku hanya larut dalam lamunan, dalam harapan agar 1 waktu di depan aku kembali menemukan senyuman itu, senyuman yang dengan sederhananya mampu membuatku jiwa ku bangkit penuh semangat menjalani hidup, senyuman yang dengan hebat dapat membasuh air mata menjadi senyuman yang menguatkan, senyuman yang selalu teringat dan ku nanti di setiap waktu, senyuman yang setiap detik aku harap selalu dapat aku nikmati dalam nyata.

Semoga.. semoga dan semoga… semoga sang waktu mampu hilangkan segala kecewamu dan membuatku tersenyum lagi padaku yang begitu merindu, mencinta dan mendamba ceria bersamamu karena tiada yang paling aku rindu selain senyumanmu yang kini temaram.