Berakhir! hubungan kami, aku dan Andra, telah berakhir.
Andra berulang kali menghubungiku, memintaku merubah keputusan. Namun, aku benar-benar ingin sendiri, memperbaiki sikap agar kelak saat aku memulai hubungan lagi baik itu dengan Andra ataupun orang lain tidak ada lagi pertengkaran. Hubungan kami berakhir begitu juga dengan persahabatan, ternyata saat itu kami belum cukup dewasa, kami tak lagi bersahabat, kami bagaikan orang yang tak saling mengenal, tak ada tegur sapa, tak ada tawa, tak ada lagi candaan, hubungan kami menjauh. Namun, syukurlah Permata kembali, kembali seperti sinar yang menerangi gelapnya malam. Aku dan Permata kembali seperti saudara, saling menjaga, mencoba mengingatkan. Terima kasih Permata, aku benih seperti cahaya
Setelah hubunganku dan Andra berakhir, aku lebih sering menghabiskan waktu bersama Permata, hari-hari yang biasanya ku lewati bersama Andra kugantikan dengan bersama Permata.
Kami sering berpergian bersama, sekedar melihat pemandangan, nonton, dengar musik, terkadang di rumah sekedar menonton VCD ataupun makan bersama di tempat favorit kami, ada satu hal yang paling ku ingat. Sore itu aku dan Permata pergi kesebuah rumah makan tempat favorit kami, aku dan Permata sama-sama mencintai makanan pedas, saat makan steak kami berlomba siapa yang paling berani meletakkan saos terbanyak di piring makan maka dia yang menang, pertaruhannya kalau yang menang berhak menyuruh yang kalah selama 1 ( satu ) hari. Dan saat aku menuangkan saos ke dalam piringku, karena terlalu bersemangat, tutup botol saos yang kutuangkan kepiring terbuka, seluruh saosnya tumpah kedalam piringku.
“Hahahaha ;D, kasihan tumpah“ kata Permata mengejekku, sambil menunjukkan wajah jahilnya padaku
“Is, kamu ini! Awas kamu ya“ sambil menyubit lengannya, dan mengambil saos yang tumpah lalu ku letakkan ke piring makanya
“Is, kamu, kan bagaimana makannya, pedas sangat ini“
“Biar, biar sama-sama kepedasaan”
“Oke, kita makan“ sambil menyuapkan steak kedalam mulutnya, terlalu bersemangat steak yang dimakan malah jatuh ke baju. Gantian kini aku yang mengejeknya.
Semuanya berjalan tanpa ada beban, tak pernah ada rasa sedih ataupun kecewa seperti yang sebelumnya ku rasakan, semuanya berjalan sangat baik. Permata selalu berusaha menemaniku saat aku terlihat bersedih.
Akhirnya, sekolahku selesai, kami semuanya lulus, hari terakhir perpisahan kami berangkat ke tempat wisata provinsi Sumatera Utara yang sangat dikagumi, dan begitu terkenal, ya, Danau Toba, tempat wisata ini begitu terkenal, dan sangat luar biasa indahnya, angin yang sejuk dan Gunung-gunung yang indah, pohon-pohon yang hijau, pantai-pantai dengan pasir putih yang sangat memanjakan mata.
Kami mengunjungi banyak tempat-tempat wisata, mulai dari pantai, danau, tempat beribadah, ahh indah sekali. Rasanya tak ingin kembali kerumah, ingin terus di tempat wisata ini.
Putus dari Andra, aku tak pernah merasakan jatuh cinta lagi, hambar. Aku hanya ingin bersama Permata, bagiku cukup bersama Permata, hidup pasti akan menyenangkan, bukan karena tidak ada yang menyukaiku, jujur ada banyak sekali yang mulai mendekatiku saat mereka tahu hubunganku dan Andra sudah selesai, tetapi memang aku tak ingin lagi mengenal laki-laki, untungnya sekolahku sudah selesai, aku hanya akan datang sekali lagi ke sekolah ini, untuk mengambil Ijazahku, dan pergi terbang ke kota pendidikan Yogyakarta, untuk melanjutkan kuliah.
“Fa, kamu tahu tidak, Permata dan Andra jadian ?”
“Apa Permata jadian dengan Andra? kamu jangan asal bicara ya, itu tidak mungkin” aku terkejut bukan main, mendengar ucapakan Natasya padaku.
“Sungguh Fa, untuk apa aku berbicara yang tidak-tidak padamu, sudah setengah tahun mereka menjalani hubungan itu, bukankah kamu dan Andra masih pacaran?” Natasya menyakinkan
Tuhan, apa benar ini? Permata mengkhiantiku, ahh tidak, itu tidak mungkin.
Aku berlari mencari Permata, aku ingin langsung mendengar penjelasannya, apakah semua ini benar. Permata, kenapa kamu seperti ini padaku, aku salah apa? Apa yang sudah kulakukan padamu, hingga kamu bisa sejahat ini padaku.
Aku mendapati mereka di kantin berdua, berpegangan tangan, seakan-akan dunia ini milik mereka berdua. Hati ini pecah Ndra, kalian sangat jahat padaku, aku benci kalian, sungguh aku membenci kalian, kalian berjanji tidak akan pernah menyakitiku, tapi sekarang kalian bukan hanya menyakitiku, kalian juga menghancurkanku.
Ternyata mereka menyadari bahwa ada yang memperhatikan mereka, mereka melihatku, mereka berusaha mengejarku, namun aku semakin kencang berlari, menuju kelas.
Hancur, ini sungguh hancur, aku membenci kalian. Tidak terasa air mata ini menetes, mengalir dengan kencangnya, Natasya yang memperhatikanku, mendekat padaku, memelukku dan meminjamkan bahunya padaku, membiarkan aku menangis dibahunya.
“Sudah Fa, jangan nangis terus” Natasya berusaha menenangkanku, menghapus air mata yang jatuh dari mataku.
“Ini sangat sakit, aku benci mereka Nas, aku benci, kenapa ini terjadi padaku, kamu tahu aku sangat mencintai mereka, mereka jahat Nas, mereka kejam.” Aku tidak bisa berhenti menangis, air mata ini mengalir sangat kencang, aku berusaha menahannya, tapi tetap tidak bisa.

Permata melihatku menangis, dia mendekat, berusaha memberi penjelasan padaku, tapi sungguh aku tidak ingin berbicara padanya saat ini, aku ingin sekali berlari kencang, keluar dari sekolah ini, dan bermain bersama hujan yang saat ini sedang turun dengan derasnya.
Aku benar-benar tidak tenang hari ini, sama sekali tidak bisa berlama-lama lagi di sekolah dan merusak pemandangan indah di mataku.
Handphoneku berdering, memekakkan telingaku. Awalnya aku tak menggubris. Namun, deringnya semakin membesar, membuatku frustasi.
“Hallo, assalammualaikum bunda” aku mulai berbicara dengan sangat hati-hati, aku tak ingin Bundaku khawatir
“Waalikumsalam sayang, Fa kamu baikkan nak? Suaramu kenapa? Kamu sakit sayang?” Bunda mulai mengkhawatirkanku, suaraku berbeda saat ini, serak, seperti akan sakit
“Gak kok Bun, Fa baik kok, cuma batuk aja. Ada apa Bunda?”
“Benar sayang? Kamu masih di sekolah? Pulang jam berapa?”
“Iya Bun masih di sekolah, tapi, sebentar lagi pulang kok, kenapa sih Bun? Buat penasaran nih”
“Ayahmu ajak kita semua buat liburan, kita rencana pergi ke danau, nginap kayaknya. Kamu udah gak masuk sekolah lagi kan? Udah mulai liburkan sayang?”
“Yeaah, Fa ikutlah, iya udah libur, hari ini terakhir. Fa yang pulang, atau dijemput di sekolah? Jemput ya Bun”
“Iya-iya dijemput, ajak Permata juga ya sayang, biar kamunya lebih nyaman”
Mengajak Permata? Maaf Bunda, sepertinya kali ini tidak ada Permata
“Permata? Kayaknya gak usah deh Bunda, inikan liburan keluarga kita, lagi pula Permata juga punya kesibukan yang lain”
“Oh, oke, kamu jalan kemana-mana, nanti dijemput. Assalammualaikum sayang”
“Wa’alaikumsalam Bunda” sembari menutup telepon
Hubunganku dan Permata tidak bisa seperti dulu lagi, aku tidak mungkin bisa lagi bersamanya sedekat dulu, tidak mungkin lagi, walaupun aku sangat menyayangi Permata, tapi hati ini sudah terlanjur sakit, sungguh aku tidak membenci mereka, aku hanya kecewa, itu saja, aku tidak percaya mereka bisa sekejam ini padaku, aku tidak pernah bisa lagi dekat dengan siapapun, kekecewaan ini membuatku sangat hancur.

Amarah ? Hanya akan menghancurkan ketenangan dan kebahagian yang telah tercipta.
Seperti anda teman ? Lalu lawan seperti apa lagi ? Lebih berbahaya dari anda ?
Cukup lelah berteman dengan anda
Terlalu banyak pengorbanan dan kesabaran yang harus saya relakan.

SEKOLAH SELESAI

Setelah kejadian itu, aku tidak lagi bertemu dengan mereka. Tanpa komunikasi, selama libur aku memilih belajar, agar bisa lulus pada saat ujian nanti. Ujian? Ujian apa lagi? SBMPTN ( Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Ya, aku memilih untuk mengikuti ujian tulis itu, dengan keras aku belajar. Menghapal berbagi rumus. Melatih logika, menyelesaikan berbagai soal, mulai dari soal TPA, Matematika dasar, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi. Aku mulai sering keluar-masuk toko buku, membeli berbagai buku. Syukurlah, dengan usaha keras, aku dapat berdiri di sini, di Universitasku saat ini, Fakultas Ekonomi Akuntansi. Namun, hubunganku dengan mereka tidak lagi berjalan dengan baik, aku benar-benar tidak lagi berkomunikasi sedikit pun dengan mereka, aku memutuskan untuk tidak lagi bersama mereka, rasa sakit yang mereka goreskan di hatiku, cukup sulit untuk sembuh, tapi aku tidak membenci mereka, aku tetap menyayangi mereka, aku hanya sedikit kecewa atas sikap mereka padaku, aku tidak marah dengan hubungan yang mereka jalani, aku hanya kecewa atas ketidakjujuran mereka terhadapku, Kini, aku tak lagi menjalani hubungan dengan siapapun, semua kurasakan hambar.
Aku melanjutkan kuliah di Universitas Yogyakarta, ya kota pendidikan, mulanya aku tidak ingin berjauhan dari keluargaku, tapi ini harus, agar aku dapat hidup dengan baik, dan belajar untuk mandiri.
Di sini, aku tinggal sendiri, tanpa keluarga, aku mencoba belajar mandiri, hidup sendiri, bertahan sendirian, menggapai mimpi, memperbaiki diri, merubah pandangan, dan di sini kisah baruku dimulai, aku punya teman baru di sini, Anita, dia jauh berbeda dari Permata, dulu aku lah yang selalu melindungi Permata, namun kini, Anita lah yang selalu berusaha melindungi dan menjagaku. Serta Andi yang menjadi kakak bagiku, berusaha mengingatkanku, menegurku, dan mengajakku untuk selalu bersyukur atas apa yang telah aku miliki. Di sini, aku menjadi lebih baik, aku menjadi lebih tahu apa artinya kehidupan yang sebenarnya dari sudut yang nyata.

Advertisement

Sebenarnya hati ini sudah sangat sakit dan tidak ada harapan untuk sembuh. Namun, Allah berkata lain, kamu mampu mencairkan hati yang sudah beku ini, hati ini sudah sangat terluka parah. Kamu tahu?? Sebenarnya aku sudah sangat takut membuka hati untuk siapapun, tapi entah apa yang terjadi hati ini kembali terbuka dengan sendirinya. Berkatmu hati ini kembali bernyawa, Hati ini mulai sembuh dari luka parahnya di masa lalu. Tapi akan kah kisah ini bertahan atau akan hancur seperti masa lalu yang kemarin itu ?? Hati ini tidak tahu, baginya cukup dengan menjadi seperti keinginan pujaannya, maka semuanya akan berjalan baik. Hati ini kembali jatuh cinta lagi, bahkan terlalu dalam, hati ini terlalu percaya, sungguh-sungguh mencintai.

Aku ? Aku belajar menghargai, bertahan dari segala rasa sakit yang aku terima, belajar memaafkan, belajar meminta maaf atas kesalahan yang aku perbuat. Aku mencintai tanpa pernah takut untuk sakit.
————-
Aku terbang jauh menuju Yogyakarta, kota pendidikan, kota penuh tantangan, kota penuh pemandangan serta keindahan. Awalnya, orang tua sama sekali tidak mengizinkanku untuk terbang dan menetap di Yogyakarta. Namun, aku berusaha menyakinkan mereka, aku berjanji akan selalu memberi kabar pada mereka, aku berjanji akan selalu menjaga diri.

“Kamu yakin? Hidup sendiri itu sulit sayang” kata Bunda sehari sebelum keberangkatanku. “ Lagi pula, Bunda… Takut terjadi apa-apa denganmu nak.” Lanjut Bunda kemudian sembari memelukku

“Fa, sudah dewasa. Fa juga harus bisa hidup mandiri, lagi pula di sana, Fa, sudah punya tempat tinggal, jadi Bunda tidak perlu khawatir” Aku memeluk Bunda sangat erat. Sebenarnya, aku juga sangat tidak ingin berjauhan darinya. Tapi, ini harus. Aku juga tidak ingin terus bergantung pada mereka, aku juga harus mandiri, aku juga harus menggapai mimpiku.
“Kamu yakin sayang?” tanya Bunda, melepaskan pelukan
“Yakin. Fa janji, di sana akan selalu jaga diri, selalu kasih kabar, Fa tidak akan aneh-aneh di sana. Percayalah Bunda”
“Baiklah, Bunda percaya, kita bereskan keperluanmu” sambil menghela napas, akhirnya Bunda merelakanku untuk terbang ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan dan memulai hidup baru
Aku mulai tersenyum padanya. “Iya” aku memeluknya, mengecup lembut dahinya
Kami sibuk membereskan keperluanku, sedangkan Ayahku mengurus tiket untuk keberangkatanku besok. Abang, dan Adikku sibuk dengan tugasnya masing-masing. Sebenarnya, mereka juga tidak merelakan aku pergi.
Hening tanpa suara, kami benar-benar sibuk untuk keberangkatanku besok. Namun, tiba-tiba, Bunda bertanya tentang Permata padaku
“Oh ya sayang, Permata dan Andra tahu kan kamu akan tinggal di Jogja?” kata Bunda masih sibuk membereskan pakaian yang akan aku bawa
“Tahu kok” jawabku singkat, kemudian hening lagi
Apa aku harus memberitahu kalian? Setelah rasa sakit yang kalian berikan padaku? Ahh tidak, kalian tidak harus tahu. Aku akan pergi, menghilang dari kalian
——-
Malam yang begitu dingin menggigit tulang-tulangku, tidak membiarkanku untuk tertidur malam ini. Aku masih terus berpikir akan keputusan ini, masih ada rasa bimbang, masih ada rasa tak ingin pergi.
Handponeku berdering, membuyarkan lamunanku. Aku mulai mencari arah suara itu. Permata? Why? Apa lagi yang kamu inginkan?

Kamu akan pergi? Kenapa Fa? Kamu sama sekali tidak memberitahu aku?

Pesan singkat dari Permata, mampu membuatku kembali mengingat banyaknya hal-hal yang pernah kami lewati bersama, proses perkenalan kami, bagaimana kami dekat, menjadi teman, lalu bersahabat, dan saling menyayangi. Menjaga, menasehati, menyukai banyak hal, hingga mencintai pria yang sama. Aku mengingat penghianatan yang dilakukannya padaku.
Kamu masih bertanya? Aku yang terlalu bodoh atau kamu? Ahh Permata, aku menyayangimu. Tapi kenapa kamu tega menyakitiku? Kenapa Permata?

Maaf, aku lupa. Aku terlalu sibuk untuk keperluan besok.

Aku benar-benar tidak mengharapkan balasan pesan lagi darinya, rasa sakit ini, belum mampu aku sembuhkan begitu saja, goresan luka ini, masih ada.

Maafkan aku Fa, aku mengecewakanmu :’(

Ahh, air mataku kembali terjatuh, kembali membasahi wajah ini. Hör auf zu weinen, Fa ( Berhenti menangis, Fa)

Sudahlah, aku sudah memaafkan kalian, kamu tidak perlu merasa bersalah lagi.
Untuk pertama kalinya, aku berbohong padanya, tentang rasa sakit ini, aku berbohong tentang apa yang kurasakan terhadapnya, maafkan aku.

Sungguh? Are you sure? I’m Sorry Fa

I’m sure. Ich vergebe dir

Thanks, ahh, kamu ini, selalu saja gunakan bahasa Jerman.
Aku gak terlalu ngertiloh. Is

Hahaha :-D, maka itu belajar. Oke, aku lanjutkan beres-beres dulu ya

Iya, jangan sampai ada yang lupa, terutama obatmu.
Vertigomu jangan kambuh lagi ya . Gak ada yang jaga kamu di sana, harus jaga diri
Paham? Aku sayang kamu, sekali lagi aku minta maaf
Besok, aku akan ke bandara. Assalammu’alaikum sayang :-*

Iya, pasti, terima kasih sudah mengingatkan, Wa’alaikum salam

Aku menghela napas dengan berat, aku mulai berbaring di atas kasur tidurku, berusaha mengistirahatkan tubuh ini, menutup kedua bola mata yang sudah lelah ini. Bayangan mereka kembali menari-nari di dalam otakku. Kenangan manis, kenangan pahit. Ahh, semuanya masuk kedalam bawah sadarku. Menangis, tertawa, bahagia, canda, aku merindukannya.

Alarmku berbunyi, membangunkanku dari tidur panjang yang begitu melelahkan.
Mataku tertuju pada jam dinding di dalam kamarku, pukul 02.18 dini hari. Ya, aku memang sudah merencanakannya. Aku mulai menuju kamar mandi, mengambil air wudhu, dan menjalankan sholat tahajud. Memohon kepada Sang Pencipta bumi dan langit, agar dihilangkan segala keraguan yang ada.
Selesai sholat, aku kembali teringat akan seluruh kenangan yang ada di kota ini, Masa kecil adalah masa paling menyenangkan. Masih kecil penuh dengan imajinasi, impian dan bermain. Sejak kecil, aku tidak pernah jauh dari keluargaku, tapi kali ini, aku akan pergi menyebrangi lautan, dan menetap beberapa waktu di sana. Akankah aku sanggup?
Mataku tidak dapat terpejam lagi, aku mulai teringat dengan perkatan Andra dulu padaku, yang akan selalu menyayangi dan mencintaiku, yang tidak akan pernah meninggalkanku. Serta Permata yang berjanji akan terus di sampingku, akan terus menyayangiku dan tidak akan mengecewakanku. Kemana janji kalian? Apa semua hanya kebohongan?
Handpohe? Ya, aku mulai teringat banyak sekali kenangan di dalamnya, ada pesan, foto, bahkan video tentang kalian. Aku mulai meraih handphone, kembali membuka kenangan di dalamnya, perlahan air mataku mulai turun lagi, mulai jatuh lagi kedasar bumi. Apa salahku?
Tanganku mulai bergerak menuju satu kata di dalam layar handphone. Delete? Ya, dengan ragu-ragu aku mulai menghapus seluruh kenangan di dalamnya, tanpa tersisa satu pun.
Tiba saatnya, aku harus berangkat meninggalkan kota kelahiranku ini menuju kehidupan baru yang semoga akan lebih baik lagi dari saat ini.
“Kita kebandara? Sekarang?” tanya Bunda hati-hati. “Kamu yakin sayang? Kamu masih bisa merubah keputusanmu.” Kata Ayah kemudian, serta anggukan kepala Bunda memantapkan perkataan Ayah barusan
“Fa,,,,,” dering Ponsel menghentikan perkataanku, aku mulai melihat layar Hp ku melihat siapa yang pagi-pagi begini menghubungiku. Andra……
“Hallo, Assalammu’alaikum, fa.” Suara Andra tidak seperti biasanya, suaranya bergetar.
“Wa’alaikumsalam Ndra, ada apa?” aku mencoba melembutkan suaraku, mencoba seperti biasanya, seperti tidak pernah terjadi masalah di antara kami. Mata Bunda tertuju padaku, menyelidiki raut wajahku
“Kamu berangkat hari ini, pagi ini?” tanya Andra ,
Aku hanya tersenyum pada Bunda, mengisyaratkan padanya, kalau aku baik-baik saja.”Iya Ndra, ini kami sedang menuju Bandara.” Celotehku nyaring
“Oh, aku ingin sekali bertemu denganmu, aku boleh menyusul?” tanya Andra kemudian dengan sangat hati-hati. “Aku minta maaf, menghancurkan persahabatan ini” suaranya mulai bergetar, Andra menangis
“Iya, boleh kok. Sudahlah, lupakan saja, aku juga sudah melupakanya” sekuat tenanga aku mencoba menahan air mata ini agar tidak terjatuh
“Baiklah, aku akan menyusulmu. Assalammu’alaikum, fa.”
“Wa’alaikumsalam Ndra”

Bandara……
Akhirnya, perjalanan beberapa jam dari rumah menuju Bandara terlewati. Aku membuka pintu mobil dengan sangat hati-hati, saat sampai di Bandara seluruh keraguanku menghilang, hati ku yakin. Aku mampu, pasti
“Bunda, do’akan ya” aku memeluknya begitu erat. “Maaf, kalau keputusan ini, mengecewakanmu” aku terus memeluknya
“Iya sayang, Bunda selalu mendo’akanmu. Bunda yakin kamu sudah memikirkan keputusan ini, jadi, jangan merasa bersalah.” Masih dalam pelukan
“Heh, jangan nakal di sana, awas aneh-aneh ya” kata Abangku, kemudian memelukku.
“Jaga diri ya, selalu kasih kabar” Adik perempuan meneteskan air mata, bergantian mereka memelukku
“Pasti” tegasku
Aku mulai berjalan meninggalkan mereka, sttt… tiba-tiba
Pelukan erat mendarat dari belakang. “Fa, maaf” ahh, air mata ini mengalir
“Sudahlah, lupakan.” Aku berbalik arah, kemudian memeluknya, aku begitu merindukan pelukan ini, pelukanmu Permata. “Aku pikir kamu tidak datang” masih dalam pelukan
“Kami datang kok, kami di sini” kata Andra mengangetkanku
“Kamu juga datang Ndra, terima kasih” aku mulai mengeluarkan senyum manisku, Permata melepaskan pelukannya. “Jaga diri ya, hati-hati di sana” lanjut Permata
“Iya, pasti.”
“Jangan lupa obat, jangan kecapekan, vertigomu gak boleh kambuh lagi, sampai di sana langsung cari Dokter yang cocok sama kamu, yaa.” Perhatiannya masih sama, sama seperti dulu, Permata
“Oke” jawabku singkat dan kemudian berlari meninggalkan mereka, meninggalkan kenangan indah serta luka yang kini mendarat tepat di hati ini.