Belajar menghargai setiap tindakan yang dilakukan, memaafkan kesalahan dan memperbaikinya.
berupaya melepaskan yang tidak pantas dan mempertahankan yang berjuang dan menghargai
itu pengertian dewasa bagi saya, bukan bersikap seperti manusia yang paling sempurna, dan berpura-pura tidak melihat kesalahan dalam diri.

Assalammualaikum.
Ini pertama kali saya menulis di sini, ingin sekali rasanya berbagi pengalaman percintaan ini dengan semuanya. Namun, rasa takut masih menghantuiku.

Kata demi kata yang tertulis di sini, adalah hasil dari pemikiran saya sendiri, hasil dari imajinasi yang saya ciptakan sendiri.

Sebenarnya, saya menginginkan tulisan ini dapat diterbitkan oleh penerbit terkenal, agar mereka yang ada dalam cerita ini menyadari bahwa saya sangat mencintai mereka.

Tapi saya tahu tulisan ini masih memiliki banyak kekurangan. Semoga mereka yang ada dalam cerita ini dapat melihat postingan ini dan menyadari bahwa saya sangat mencintai mereka, dan ingin terus bersama mereka.

=======

Hujan
Aku tersadar ternyata hujan punya cerita tentang hidupku, sejak kecil aku selalu bermain bersama hujan, saat anak seusiaku ketakutan pada hujan, aku seakan bersahabat bersama hujan.

“Akan ada pelangi yang sangat indah setelah hujan ini.” Aku selalu berfikir hal itu setiap hujan datang, masa kecilku sangat baik, aku bebas terbang seperti burung, tidak pernah ada larangan yang berarti dari orang tuaku. Mereka membebeskanku bermain bersama hujan, hujan itu indah, penenang saat masa sulitku, pembangkit saat aku mulai terjatuh dan terpuruk.

Advertisement

“Hei, itu hujan, berteduh dulu, nanti kamu sakit lagi” Anita memanggilku sangat keras. Ya, dia memang selalu khawatir saat aku bermain bersama hujan.

“Tidak, aku suka hujan, aku ingin kembali bersahabat bersama hujan.” Teriakku dalam hujan yang sangat deras.

“Hei, tunggu, aku ikut, aku juga ingin bersahabat bersama hujan.” Anita berlari mengejarku, meraih dan memeluk tubuhku.

“Nanti kamu sakit, aku tidak ingin lagi melihatmu sakit.” Dalam hujan Anita mendekapku, berusaha menarikku agar tidak lagi bermain bersama hujan.

“Tidak, Nit. Kamu tahu aku sangat suka hujan, aku ingin di sini, hingga akan datang pelangi yang indah.” Melepaskan dekapan Anita dan aku mencium lembut keningnya.

“Aku mencintaimu, terima kasih selalu menemaniku, bahkan saat masa sulitku, aku sungguh mencintaimu, Nita.” Lanjutku sambil menarik tangannya dan berlari bermain bersama hujan

Tuhan jangan lagi pisahkan aku dengan orang-orang yang aku sayangi, sudah cukup tuhan, kini aku hanya punya dia, jangan renggut dia dari kehidupanku.

Hujan ini membuatku sangat bahagia, apa lagi ditemani malaikat yang sangat cantik.

“Bagaimana keadaanmu?” Sambil mencium lembut keningku.

“Hah? Kamu di sini, bukannya tadi kita bermain bersama hujan.” aku kebingungan, tiba-tiba sudah berada di atas ranjang tidurku.

“Kamu pingsan, kamu ini selalu membuatku khawatir, aku benci melihatmu seperti ini.”

“Jangan marah, aku minta maaf, tapi kamu baik-baik saja kan?” Kataku, bangun dari ranjang, dan bersandar pada Anita.

“Iya, aku maafin, tapi kamu jangan seperti ini lagi, aku sungguh mengkhawatirkanmu” Sambil mengelus lembut rambutku

“Iya, aku tahu.”

Ternyata, seharian ini Anita menjagaku, tidak sedikit pun berpaling dariku, malam ini, Anita yang menyiapkan makanan untukku.
“Kamu mandi, setelah itu makan, kamu bau.” Sambil berdiri dan keluar dari kamarku
“Terima kasih, aku mencintaimu” Kutarik tangannya, lalu memeluknya
“Iya, aku juga mencintaimu, sudah mandi, kamu bau.” Sambil melepaskan pelukan

Kalau saja kita sedikit berbeda, berlawan jenis, pasti sekarang kamu adalah kekasih hatiku, mungkin ini yang dikatakan cinta tidak harus memiliki, aku mencintaimu Nita, sebagai sahabat baikku.

Hari-hari yang kujalani kini sedikit berbeda, hanya ada Anita, tidak ada dia lagi, dia yang kucintai, dia yang sudah kujadikan sandaran hatiku.

“Nit, aku cinta dia” Sambil menangis sambil memeluk boneka kesukaanku, Doraemon.

“Sayang, ada aku di sini, sebelum ada dia, kita bahagiakan?” sambil mendekap dan menghapus air mataku.

“Tapi Nit, aku suka dia, aku sayang dia, aku benar-benar tidak ingin kehilangan dia.” Lanjutku, air mata ini tidak dapat berhenti mengalir, aku kembali terisak.

“Sudahlah, kamu ingin menangis? Menangislah, aku pinjamkan bahu ini untukmu” sambil mengangkat kepalaku, dan meletakkan tepat di bahunya

Air mataku terus mengalir, tanpa pernah berhenti, sama seperti bayangmu yang tidak pernah bisa berhenti merusak mimpi-mimpi yang dulu kubangun dengan sangat susah, dan kini kamu menghancurkan mimpi itu

———–

Burrrhhrrrr, air dari langit kembali jatuh ke bumi. Ya hujan, hujan seakan tahu tentang sakitku ini.

“Hujan, kamu ingin bersahabat bersama hujan lagi?” tanya Anita, setelah tangisku mulai mereda.

“Iya, kamu mau menemani aku lagi?” kataku bersemangat, entahlah, hujan benar-benar menenangkanku.

“Tapi, sebentar saja ya, keadaanmu masih sakit” sambil meletakkan tangannya diatas keningku

“Iya, aku janji sayang” aku bangkit dari ranjangku, dan menarik tangannya keluar kamar bermain bersama hujan lagi.

Aku terbawa lepas bersama hujan. Hujan, ahh!! Aku benar-benar mencintai hujan. Kini aku sedikit tenang. Terima kasih Tuhan, masih menjaga Nita untukku, kini aku memang sangat hancur, dan hati ku sangat terluka parah, tapi masih ada Anita yang menengkanku, jaga dia untukku Tuhan.

==========

“Hei, sendiri saja, ada apa denganmu?” menepuk lembut pundakku.

“Hei kamu, tidak ada apa-apa, hanya suntuk saja dikelas, aku juga tidak sempat sarapan tadi” menatapnya sebentar lalu memalingkan wajahku, sambil menyedot jus alpukat favoritku.

“Jangan bohong Fayra, walaupun kita baru dekat, tapi aku tahu kamu, ayolah, ada apa denganmu?” Sambil menarik minuman yang ada di tanganku, hingga membuatku kesal

“Is, kamu ini, Ndi, punya uang, kan? Beli sendiri sana” Kata ku kesal, dan kembali menarik jus alpukat favoritku.

“Oke-oke, aku beli, kamu kenapa? Ayolah, cerita, kita teman, kan?”

“Maaf Ndi, kamu memang temanku, tapi kali ini aku tidak bisa berbagi, maaf” Kataku sambil menunduk dan sedikit menangis

“Oh, oke, tidak apa, aduh kamu nangis, Fayra, tenang, ada kami yang selalu menyayangimu.” Kata Andi seakan tahu apa yang ku rasakan saat ini.

Andi, sahabatku pacarnya Anita, ya mereka bagaikan keluargaku di sini, jauh dari orang tua membuatku dewasa sebelum waktunya. Andi maupun Anita selalu menjadikan aku seperti putri dalam kerajaan indah, mereka selalu menyayangiku.

“Wah wah, ada apa ini? Kalian selingkuh di belakangku? Fayra, kamu dan Andi mengkhianatiku?” tiba-tiba Anita datang dan duduk di tengah-tengah kami.

“Is, kalian ini, aku kesal, sudah pergi sana, aku ingin sendiri di sini.” kataku kesal, entahlah kali ini aku hanya ingin menenangkan hatiku, aku hanya ingin sendiri, menikmati duniaku saat ini.

“Kamu kenapa?” kata Anita padaku, sambil memeluk lembut pundakku

Ahh pelukkan ini, terasa sangat hangat di tubuhku, seketika, air mata kembali menetes, ohh hancur.

“Sudahlah, aku ingin sendiri, kumohon, sekali ini.” Kataku menunduk sama sekali tidak melihat kearah mereka, aku takut mereka khawatir akan keadaanku saat ini, aku memang sakit, tapi percayalah aku pasti akan sembuh dengan sendirinya, aku percaya, luka apapun itu pasti akan sembuh dengan sendirinya.

Tidak, kenapa ini terasa sangat sakit, bahkan jauh lebih sakit saat dulu Permata dan Andra mengkhianatiku,

ohh tuhan kenapa engkau berikan cinta dan bahagia, namun tiba-tiba cinta juga yang menghancurkan hati ini. Ahh hidupku menjadi jalan ditempat, apapun yang kulakukan tidak lagi membuatku bahagia.

Aku memutuskan kembali ke kota asalku, mencari kembali semangat yang telah lenyap di kota impianku ini, matahari pagi yang hangat menghantarkanku ke kota asalku Kota Medan, Sumatera Utara.

“Sungguh kamu bisa sendiri?” Anita mengkhawatirkanku, sesaat sebelum berangkat terbang ke kota Medan.
“Iya sayang, aku akan baik-baik saja, percayalah, aku pernah sakit lebih dari ini,” aku mencoba menyakinkan Anita serta hati dan diri ini sendiri

“Apa aku harus ikut denganmu?”

“Terima kasih sudah menjaga dan melindungi ku selama di sini, aku hanya sebentar, aku pasti akan kembali ke kota ini, percayalah, aku juga pasti akan selalu merindukan kalian berdua” Aku mencoba menahan air mata ini agar tidak terjatuh saat ini, aku peluk erat mereka berdua, seakan tubuh ini tidak ingin berpisah atau pun pergi dari tempat ini.

“Aku mencintai kalian” lanjutku lagi setelah kulepaskan pelukan

“Aku sungguh-sungguh mencintaimu, Yanti” Kata Anita, dia yang tidak pernah menangis, untuk pertama kalinya aku melihat Anita menangis di depan mataku

“Hei, aku baik-baik saja, lihat aku sehat, kan? Aku tidak sakit, luka ini tidak akan pernah menghancurkanku, percaya, aku bisa bangkit” Kataku sambil menghapus air mata Anita

Andi hanya diam saja memperhatikan kami berdua, Andi sudah biasa dengan hal seperti ini, Andi tahu kami bagaikan saudara kembar yang tidak bisa dipisahkan

“Andi sayang, aku titip pacarku padamu, ya.” Kataku sambil menggelus pipi Anita

“Oke, aku pasti akan menjaga Anita untukmu, tapi kamu harus janji satu hal padaku”

“Apa itu?”

“Kembali lah kesini, temui kami di sini, kami akan sangat merindukanmu” Kata Andi sambil kembali memeluk kami berdua

“Baiklah, aku akan kembali kekota impianku ini, kota pendidikan kita, kota bahagia kita, Yogyakarta, aku akan kembali kesini, aku janji.”

Kepulanganku kali ini, diwarnai tangis haru, aku kembali ke kota asalku, hanya untuk menenangkan hati yang sedang sakit ini.

Aku pasti akan kembali lagi, entah kapan, tapi pasti, sesulit apapun, aku akan menemui kalian.

Bersama Andi aku belajar jadi seorang wanita yang tangguh, dia mengajarkan aku untuk tidak takut pada apapun, dia mengajarkan aku untuk selalu tersenyum walaupun dilanda kesedihan, dan bersama Anita aku menjadi seorang wanita yang selalu bersinar terang seperti bintang.

Bersama mereka aku belajar menghargai apa yang telah aku miliki.