Jujur keadaan ini memang bukan keinginanku, kamu tahu ini tentang “Hati dan Perasaan” Aku tak mau melihatmu terlalu jauh menganggapku yang terbaik, aku tak mau terlalu membuatmu terbuai akan pesonaku yang tak ada artinya ini, aku juga tak mengerti kenapa kamu terlalu menganggumiku, aku tidak se-tampan pria-pria di sekelilingmu yang mungkin mengharapkan perhatianmu, aku tak sebaik laki-laki yang munkin menunggu lirikanmu sedari dulu. Aku tiada apa apa dibanding pria-pria tampan dan baik hati diluar sana, tapi mengapa, mengapa kau menyandarkan hatimu padaku. Sedang hatiku begitu gersang, terjal dan berbatu. Tidakkah kau merasa sakit dengan sikap acuhku, tidakkah kau merasa tersiksa dalam penantianmu yang tak berujung itu.

Hatiku terlalu rapuh untuk menjadi pijakan perasaanmu, kamu tau aku tidak bisa mengucapkan kata “Berhenti Menunggu Ku” karena hal itu akan membuatmu hancur, aku tak mau hal itu terjadi bukan berarti itu Cinta, ini hanya sebuah perasaan yang membingungkan seperit sesuatu dalam kotak Pandora yang siap menghancurkan diriku dan dirimu. Kau menungguku terlalu lama membuat hatiku serba-salah, kamu tau bagaimana sikapku mencoba membuatmu membenciku, namun lagi-lagi hal itu tidak membuatmu menjauhiku. Aku sendiri sangat membenci diriku yang seperti ini, membenci perasaan ku yang tidak lapang dada menerima hatimu, tapi aku sadar hati dan cinta satu kesatuan yang tak terpisahkan ia akan sakit bila dipaksa, “hati tau menempatkan kepada siapa ia harus berlabuh meskipun sang raga berlari kencang untuk menghindari maka cinta yang terlahir dari hati ,akan selalu kembali kepada orang yang tepat”. Sayangnya, hatiku saat ini tidak memilihmu sebagai mahligai cintanya, seberapa kuat aku mencoba untuk mencintaimu, tapi sayang, hati ini terus dan terus saja menjauh dan menghindar hingga aku tak mampu lagi memaksanya.

Cukup sudah…hentikan saja, andai aku bisa mengatakan kalimat itu kepadamu mungkin kamu tidak akan sejauh ini berharap padaku dan menghabiskan waktu untuk menungguku, memperhatikanku meski tak pernah kata cinta terucap dari mulutku. Sampai kapan kamu akan seperti ini, perasaan ini tidak lebih menganggap dirimu sebagai adik perempuan yang paling ia sayangi, namun perasaan ini juga tidak menempatkanmu sebagai perempuan yang dapat mengisi separuh ruang hampa di hatinya. Itulah kenyataan yang aku ingin kamu tahu. Seberapa angkuh pun diriku memperlakukanmu hanya menyiksaku karena kau perempuan yang kusayang tapi bukan perempuan yang hatiku inginkan untuk dimiliki.

Aku tak mau nanti kita hanya berbicara tentang “rasa sakit”,sakit dua hati yang tidak seharusnya dikarenakan cinta yang menguasai salah satu pemilik-nya, sedang yang satunya juga sakit karena tidak mau menyakiti. Yah…memang itulah salah salah satu keahlian Cinta, ia tau bagaimana membuat Galau hati manusia, ia tau membuat rasa “Tidak Enak dan Serba Salah” dan ia Sangat pandai mengacaukan hubungan pertemanan. Itu gara-gara cinta, andai saja ia tidak muncul dihatimu, tidak ada rasa serba-salah tidak ada rasa sakit yang muncul, ingin aku menganggap Cinta seperti itu. Tapi, Terlalu egois aku menyalahkan Cinta, sedang aku sendiri yang tak mengerti. Cinta itu selalu menaklukan hati yang tepat. Masalah yang sebenarnya hanya ada di hati ku, aku yang tidak memiliki cinta untuk mu dan ketidakmampuanku untuk menghentikanmu, hanya itu, memang Cuma itu permasalahannya. Sudahlah jangan lagi diteruskan, aku hanya berharap waktu yang bisa menjelaskan semua ini, karena mulut dan hatiku tidak lagi mampu merefleksikannya, biarlah ku tunggu sebentar lagi…meski itu entah sampai kapan bisa kembali persis sebelum Cinta itu menaklukan hatimu.