Tidak ada yang lebih berat dari perpisahan dengan mereka yang punya kesan tersendiri di hati yang terdalam. Masih kuingat jelas rajut wajahmu, seperti mendung pekat pertanda hujan siang itu. Kita duduk-duduk di kursi jati, memandang langit yang tak biru lagi. Aku bersikeras. "Ini demi kita," kau bilang, kita harus bisa jauh agar tahu rasanya rindu. Kita harus bisa bertahan seorang diri, agar tahu betapa berharganya setiap detik bersama yang kita lalui. Kita harus berpisah, agar tahu rasanya kembali ke rumah.

Aku hanya bisa berkata "baiklah." Meski hati tak menginginkan kamu pergi. Setelah itu semua hampir baik-baik saja. Kita masih punya cukup waktu sebelum perpisahan yang entah untuk berapa lama. Dan begitulah, bersama rintik hujan waktu itu aku melepasmu, demi kita, demikian yang kupercaya.

Ya, kita muda dan naif, kala itu, terlalu percaya pada cinta dan meremehkan takdir. Padahal kita tidak pernah tahu apa yang disembunyikan semesta. Kita bahkan tidak tahu apakah esok masih ada. Tidak pernah sedikitpun terbersit keraguan akan masa depan. Tidak pernah sedikitpun ada resah bahwa kita tak akan berdampingan.

Di sini kita sekarang, tiga ratus hari kemudian. Aku dengan serpihan mimpi yang memudar, kamu dengan harapan yang telah usang. Terpisah oleh benua dan lautan. Disini kita sekarang, tiga ratus hari kemudian. Foto-foto itu masih ada, yang kita ambil dengan kamera berpiksel seadanya. Miris, piksel rendah itu menangkap terlalu nyata tawa bahagia kita. Terlalu nyata untuk seberkas foto yang kini hanya sebatas memori belaka.

Dan di sinilah kita, tiga ratus hari kemudian. Kamu tidak pernah kembali. Kita perlahan menerima dan menyadari, bahwa segalanya tak ada yang kekal abadi. Bahwa tak ada yang bisa menebak takdir Illahi. Sekarang, meski tiga ratus hari telah berlalu, ada satu hal yang harus kamu tahu. Sedikit banyak aku masih berharap ada akhir yang bahagia untuk kamu, untuk aku, untuk kita.