Titik mengakhiri sebuah kalimat, menegaskan bahwa kalimat memang telah usai. Tak perlu ada yang ditunggu karena semua memang sudah jelas ketika cerita diakhiri dengan sebuah tanda mungil diakhir kalimat.
Koma ada untuk menjeda sebuah kalimat. Koma ada untuk memberi harapan bahwa kalimat belum selesai dan kata-kata yang meluncur selanjutnya hanyalah menunggu waktu. Koma menandai masih ada kelanjutan yang patut ditunggu.
Tanda tanya membuat sebuah kalimat mengambang menunggu jawaban. Tak ada kejelasan dalam tanda tanya. Berbagai kemungkinan bisa saja terjadi. Karena tanda tanya akan menciptakan ribuan kemungkinan jawaban.

Koma, titik, dan tanda tanya akan selalu ada dalam setiap rangkaian kehidupan. Titik membuat sebuah kejadian benar-benar berhenti, sama seperti layaknya titik mengakhiri sebuah kalimat. Titik ibarat masa lalu, semua sudah berakhir, yang ada hanya pilihan untuk melanjutkan kalimat-kalimat berikutnya dalam hidup.
Koma membuat sebuah kejadian terhenti sejenak, menciptakan jeda, dan menunggu kisah-kisah selanjutnya. Koma ibarat masa sekarang dimana kita selalu punya pilihan, melanjutkan atau berhenti. Jika memang ingin melanjutkan maka pikirkanlah seperti apa yang ingin dilanjutkan. Jika memilih untuk berhenti, gantilah dengan titik. Maka semuanya berhenti, selesai.

Tanda tanya layaknya masa depan. Tak ada yang benar-benar bisa menebak seperti apa masa depan. Tak ada yang bisa menerka apa saja yang akan terjadi di masa depan. Tanda tanya hanya butuh waktu menunggu jawaban, melewati proses yang mendewasakan atau justru melenyapkan.
Seringkali persoalan menempatkan kejadian dalam hidup untuk diakhiri dengan titik, koma, atau tanda tanya begitu rumit. Menempatkanmu dalam sebuah kalimat yang diakhiri dengan titik rasanya tak mungkin karena dengan begitu berarti aku harus menempatkanmu dimasa lalu. Menutup semua lembaran tentangmu dan membuatnya seolah selesai. Titik, berakhir, sementara sebagian besar dalam diriku masih mengharapkanmu. Berharap kita bisa saling jatuh lagi. Sejatuh-jatuhnya hingga tergila-gila.

Menempatkanmu dalam masa lalu berarti aku harus menatapmu dengan biasa. Menganggapmu tak lebih seperti teman-temanku yang lain. Padalah kau masih ada dalam ruang paling rahasia di hatiku. Menempati posisi untuk seseorang yang paling kutunggu kabarnya, seorang yang paling kucari dimana keberadaannya.
Apa aku mungkin harus menjedamu dengan koma? Membuat semuanya seolah berhenti sejenak. Membiarkanku memilih keputusan untuk menempatkanmu dimasa lalu atau masa depan. Menyibukkan hariku dengan berbagai macam perdebatan dikepalaku. Sampai waktunya aku bisa membuat keputusan. Kamu, masa lalu atau masa depanku? Atau mungkin dalam koma yang kubuat, aku harus mulai melatih diriku agar aku tak gila saat akhirnya aku memang harus menempatkanmu menjadi bagian masa lalu.

Mungkin saja kau adalah tanda tanya dalam hidupku. Kau adalah bagian dari rahasia Tuhan yang tentu saja tak mampu kujawab. Sempat berpikir kau telah menjelma menjadi titik karena saat itu kau menghilang dan membuatku merasa memang sudah saatnya menempatkanmu menjadi bagian masa lalu. Namun, aku salah. Ternyata kau hanya menempatkan koma waktu itu. Membuatmu seolah berjarak, dekat tapi jauh. Kini, kau menempatkan tanda tanya. Membuatku menjadi berantakan lagi dengan berbagai spekulasi di kepalaku.

Advertisement

Kamu, akankan berakhir dengan titik, koma, atau tanda tanya?