Dia terbiasa dengan hening, dia terbiasa dengan diam. Dia terbiasa menyimpan semua pedih sendirian, kadang baginya tak perlu bercerita apabila sekedar untuk dilalui bukan dimengerti. Dia pernah berpikir mungkin setelah menemukan partner lain untuk hidupnya, sesuatu akan sangat menyenangkan. Tapi tidak, semesta seakan – akan menyadarkannya dan ingin dia tetap bisa berdiri sendirian seperti seorang perempuan yang harus terbiasa dengan atau tanpa bahu orang lain. Kadang partnernya itu jauh baginya, hati dan pikiran yang kadang sulit dia baca, telinga yang tak pernah penuh, waktu yang seakan tak terbagi rata ruangnya buat dia.

Saat ini, dia memang belum bisa jadi bagian penting dalam urutan prioritas dan hanya sepersekian dari semua kepentingan yang dimiliki partnernya. Keadaan seakan menegurnya, untuk berjaga- jaga agar dia tak berekspektasi tinggi terhadap orang. Tapi sejak memulainya, dia tak pernah meninggalkan hatinya setengah- setengah saja.

"Nyatanya, kita memang masih muda. Masih banyak hal yang benar benar ingin kita selami, kita cobai, dan kita pelajari. Aku percaya pada pola pikirnya, pada caranya mencintai. Bahwa, setiap yang dia pilih adalah hal yang akan baik untuk membangun masa depannya. Sama seperti dia membiarkan aku meraih apapun yang ingin aku dapatkan untuk masa depanku."

Karena kita tentu perlu, saling memantaskan diri dahulu.

Terimakasih, sudah menjadi partner yang sebenarnya pengertian sekali. Karena tanpa disadari waktu yang sering tersita itu, mengajarkan banyak rasa rindu untuk lebih bersyukur.

Dia rindu rumah, rindu tanah basahnya sehabis hujan. Dia rindu ibu, rindu telinga dan bibir yang selalu mengeluarkan energi baru baginya. Dia rindu ayah, rindu hati yang selalu mau menampung setiap cerita kecilnya. Dia tak pernah ragu mengeluarkan segala cemas, takut, dan ragu nya pada mereka, sebab kasih keluarganya selalu menerima dia dengan kondisinya. Setiap keluhnya selalu menjadi kaca, dan membuatnya bercermin untuk berubah dari sebelumnya karena nasehat mereka. Dia rindu tangan yang kini memang tak lembut lagi itu untuk menyeka rambut nya, menyentuh keningnya dan berkata penuh kasih.

Advertisement

Dia rindu alien kecil yang kini mulai tumbuh, dengan segala kekonyolan, segala amarah, segala rasa kesal dan rasa sayang adiknya selama ini kepadanya. Dia rindu mereka, penyemangat yang jauhnya beberapa pulau dari rantauannya. Rindu celoteh aneh yang tidak jelas itu kepadanya, hanya agar semangat kakaknya itu tak pernah kendur. Dia selalu percaya pada yang pernah orang- orang dan orang tua nya katakan dari dulu.

“Keluarga adalah sumber dan akhir mu kembali sejauh apapun kamu pergi dan mencobai dunia ini.”

Mereka bahu dan tempat ternyaman ketika segala luka, bahagia, dan kekhawatiran ingin dia bagi.

Ini lah dia, gadis kecil yang kini sudah tumbuh dan belajar bertanggungjawab pada apa yang dia pilih untuk dijalaninya sekarang. Seorang gadis dan juga putri pertama yang kini belajar, menjadi dewasa dan berusaha untuk apa yang disebut kerja keras dan hasil. Dan untuk dia yang selalu berusaha melakukan segalanya sendiri dari dulu, untuk dia yang selalu dilatih mandiri dari orang tua, dia yang pernah terlena pada harapan. Berharap ada yang bisa membantu menopangnya. Tapi semua berlalu seperti angin dan debu, semua berlalu menjadi sekedar harapan.

Pak bu ini ucapan terimakasih ku. Terimakasih karena selalu memberitahuku dirantauan “Kamu emang gak punya siapa siapa disana nak, tapi kamu selalu punya Tuhan yang jarak nya gak bisa diukur dengan apapun karena ia begitu dekat dengan mu.”

Rasa terimakasih karena selalu mengingatkannya pada Tuhan yang selalu bersamanya dimanapun dia. Terimakasih karna selalu menyadarkan nya, bahwa ada bahagia dan kesenangan yang bisa dia dapatkan lebih baik setelah ia menyelesaikan tahap ini, jadi tidak perlu bertingkah banyak- banyak saat ini. Hanya fokus, setelah nanti ia memperoleh pekerjaannya sendiri baru lakukan sesuai ingin dan mampu nya. Terimakasih karena selalu percaya tanpa memberi beban berat buat nya.

Untuk Bapak dan ibu, percayalah. Dia tak lupa janjinya. Dia tak lupa tanggungjawabnya, dia tak lupa atas apa yang dulu benar benar ingin ia kejar. Terimakasih karena selalu percaya usaha nya.

“Berusahalah dulu nak, berusaha aja terus sampai kamu sudah mengerahkan semua tenaga dan pikiranmu di batas tertinggimu sambil berdoa. Setelah itu apapun hasilnya terima saja. Gak ada yang kamu kecewakan, bila segala sesuatunya sudah kamu lakukan dengan versi terbaik mu.”

Untuk setiap sedih, rindu, dan sayang yang selalu ia tumpuk ini. Percayalah, hatinya selalu penuh syukur atas kalian. Dirinya, matanya dan pikirannya memang tak tau jalan hidup dan kejadian apapun tentang masa depan bagi dirinya. Tapi sampai hari ini, dia selalu berterimakasih karna kalian sudah jadi yang luar biasa, untuk dirinya yang perasaannya mudah campur aduk itu.

Untuk kamu dan semua yang tengah berusaha dalam rantauannya. semangat lah!! Ada senyum dua malaikat mu, sumber bahagia mu yang menanti dirumah.