Setiap kehidupan, manusia terlahir dari berbagai latar belakang yang berbeda menurut kastanya (latar belakang kehidupan baik dari segi finansial dan kedudukan). Namun, di hadapan Tuhan sebagai pencipta segalanya adalah sama tanpa ada perbedaan. Perbedaan tersebut tercipta dari pikiran dan cara memandang sesuatu oleh setiap manusia akan persoalan hidup yang ada di dunia. Tidak ada yang menginginkan suatu perbedaan tersebut untuk menjadi suatu hal yang murka di dunia ini terkecuali jika musibah hidup yang terpaksa harus ditempa.

Lika-liku kehidupan (problematika kehidupan) selalu menghampiri setiap harinya dalam kehidupan. Masalah hidup ada porsinya masing-masing baik itu masalah berat (besar) maupun kecil (ringan). Terlahirnya permasalahan dikarenakan 2 (dua) hal yaitu bertindak tanpa memikirkan atau berfikir tanpa bertindak. Keduanya sama-sama membingungkan dan serba salah. Kenyataannya, begitulah adanya yang sedang terjadi. Terdengar “klise” bahwa manusia merencanakan sebaik mungkin untuk kehidupannya tetapi Tuhan yang mempunyai kuasa atas segalanya.

Jika direnungkan kembali, tidak ada satupun manusia yang ingin hidupnya dirundung melulu oleh masalah hidup yang menguras banyak pikiran. Keinginan yang ingin dicapai pada dasarnya adalah ingin bahagia dari segala aspek kehidupan. Harapan yang terjadi bertolakbelakang dengan realita kehidupan yang ada. Sikap yang terus dihadapi adalah keputusasaan, rasa kecewa yang bertubi-tubi dan hidup terasa sia-sia.

***

Sebelumnya ungkapan ini sebagai pengantar perasaan dalam sebuah cerita yang hendak diceritakan. Cerita yang sebagian orang pernah alami, namun tak semua merasakan perihnya orang yang berperan dalam kehidupan tersebut. Saya memiliki seorang sahabat yang sangat baik sejak duduk di bangku SMP. Dia adalah seorang siswi yang sangat rajin dan pintar dalam kelas tersebut. Hampir setiap harinya setelah pulang sekolah kami melanjutkan belajar kelompok dan bermain bersama. Namun, tak berlansung lama hal tersebut terjadi karena ia harus memenuhi tanggungjawabnya sebagai anak perempuan untuk membantu ibunya.

Advertisement

Rasa haruku terhadapnya hingga saat ini masih tersimpan. Melihat segala kerja kerasnya dan pengorbanannya untuk membagi waktu sekaligus berjuang demi pendidikan mengajarkanku untuk terus bercermin pada kehidupan orang lain.

***

Selang berberapa tahun kemudian (sekitar 10 tahun kemudian lamanya) kami dipertemukan kembali dalam sebuah acara reunian SMP (tempat kami menempuh pendidikan). Sudah cukup lama sebagai seorang sahabat yang terpisahkan dan akhirnya dipertemukan lagi. Hal itu sangat berkesan dan membahagiakan. Banyak cerita yang kami bahas dalam pertemuan tersebut yang sebagiannya membuatku kembali merenungkan kehidupannya saat kami masih dibangku SMP dulu. Rasa haruku seakan kembali akan segala rintangan kehidupan yang dialaminya. Walaupun sebenarnya, akupun memiliki masalah hidup yang begitu berat setidaknya aku bisa menjadi pendengar yang baik dan bersama-sama menemukan sumber masalah tersebut supaya memperoleh solusi yang baik pula.

Melalui cerita tersebut ternyata aku baru tahu bahwa ia sangat merindukan sosok ayahnya dan tiada lelah ia selalu medoakan ayahnya agar selalu dalam keadan sehat. Sejak usianya 2 tahun, ayah dan ibunya sudah berpisah dan tidak menjalin komunikasi lagi (lost contact). Sebagai anak, perasaan bersalah ataupun hal yang membuatnya ingin mewujudkan kerinduannya seakan terhambat dikarenakan berbagai permasalahan hidup lainnya yang harus dilalui. Dia pun meminta solusi padaku. Akhirnya kami memutuskan untuk bertemu kembali setelah usai acara reunian pada keesokan harinya.

Singkat cerita, pertemuan kami ini adalah sebagian dari hikmah yang Tuhan sudah rencanakan. Kami sadar bahwa persahabatan sejati itu tidak ada yang tidak mungkin untuk dipertemukan kembali tanpa rencana manusia melainkan rencana Tuhan. Sebagai sahabat, rasa simpatiku untuk meringankan masalahnya adalah mendukung niatnya untuk mempertemukan ia dan ayahnya.

Bayangkan saja, dari semenjak kecil terpisah dan tak pernah bertemu lagi dalam waktu yang sangat lama itu adalah perih yang mendalam sebagai seorang anak. Dalam benakku, anak dan ayah biologisnya sudah tak bertemu sekian lamanya (kira-kira 20 tahun-an) adalah waktu yang sangat lama. Sebelumnya ia sudah mengetahui keberadaan ayahnya dari kerabat terdekat ayahnya melalui komunikasi elektronik dan memberikan alamat lengkap ayahnya. Kebetulan, karena informasi tersebut bertepatan dengan pertemuan kami saat di reunian. Ia pun membujukku untuk bersama bertemu dengan ayahnya menuju alamat tersebut. Aku pun mengiyakan ajakan tersebut.

***

Dalam perjalanan tersebut (dinihari sekitar jam 4 subuh) dimulainya keberangkatan, tak disangka perjalanan amat jauh kami lalui untuk menempuh alamat tersebut. Perjuangan tersebut tak berakhir si-sia dan akhirnya kami menemukan alat yang dituju tersebut. Perlahan kami menyusuri sebuah rumah yang tak jauh dari jalan raya. Sambutan hangat dan senyuman ramah menerima kedatangan kami berdua. Melalui percakapan tersebut, sahabatku memperkenalkan dirinya dan membawa sehelai kerta bergambar foto ayahnya yang bersama ia sewaktu masih bersama. Dan ternyata, orang yang menyambut kedatangan kamii adalah paman sahabatku tersebut. Akupun merasa lega dan hilang rasa lelahku saat mengetahui hal tersebut.

Ada beberapa percakapan antara ia dan pamannya saat kami mendatangi tempat tersebut yang sangat menyayat hati :

Paman, aku sudah lama tak pernah bertemu dengan ayahku dan aku sangat merindukannya,” kata sahabatku.

Saya mengerti bagaimana perasaanmu sebagai seorang anak dan saya tahu persis keadaan ayahmu yang sulit diterima oleh siapapun termasuk kamu, Nak”, sahut paman tersebut.

Ceritakan saja paman, aku siap mendengarkannya sebelum aku diperkenankan untuk bertemu ayah,” kata sahabatku.

(Baiklah, saya akan menceritakannya. Dulu kehidupan ayahmu sangatlah bergelimang harta dan semua yang ada padanya nyaris sempurna. Hingga saatnya tiba, kamu hadir di dunia. Memang pada saat itu banyak sekali kegaduhan yang terjadi antara ayah ibumu. Hingga akhirnya memutuskan untuk tak bersama lagi. Kamu dan ibumu merantau ke tempat lain dan ayahmu kini hidup sebatang kara. Semua yang dimilikinya seketika raib tak bersisa. Hari demi hari, kehidupannya hanyalah meratapi nasib dan seperti orang yang tak memiliki akal budi lagi, ibarat kata sebagai manusia yang hidup tapi mati. Tak ada satupun yang bisa membuatnya kembali pulih hingga saat ini.)

**

Hatiku sangat miris mendengar cerita tersebut. Air mata menetes dan mengalir hingga ke pipiku. Ceritanya seperti sinetron yang ada di teve tapi benar kenyataan begitu adanya. Setelah sekian lama bercerita. Ayah dan anak itu dipertemukan. Ia merangkul ayahnya dan menangis dipelukan ayahnya bahwa merindukan sosok ayahnya yang sekian lama tak berjumpa. Walau ayahnya sudah tak ingat banyak hal terlintas di kehidupan pada masanya, setidaknya ayahnya masih mengingat nama anaknya. Rasa tak sanggup untuk aku ceritakan betapa sulitnya untuk menerima keadaan seperti ini. Paling tidak, kerinduan itu sudah terpenuhi untuk bertemu dengan ayahnya.

Ayahnya yang begitu tersohor pada eranya, kini menjadi seorang yang hidup sebatangkara dan megharapkan bantuan orang lain. Terbukti bahwa kekayaan dan jabatan bukan segalanya. Tapi tak hisa dipungkiri bahwa keduanya sama-sama memiliki peranan penting dalam fase kehidupan. Sesungguhnya yang mendasari semuanya adalah dilandasi rasa cinta. Jika cinta sudah murka, apapun hal yang tidak mungkin terjadi bisa menjadi bumerang yang tidak bisa dipungkiri.

***

Banyak hal yang aku terima dari setiap pembelajaran hidup yang ada di dunia ini. Rasa terima kasihku kepada Tuhan bahwa segenap hidup ku bisa memberikan manfaat yang berati kepada sesama. Bukan dari segi materi atau kedudukan yang bergengsi melainkan sedikit waktu untuk memberikan perhatian kepada sesama yang membutuhkan. Dan yakinlah, masalah masing-masing orang berbeda di dunia ini. Tuangkan rasa cinta kasihmu dan benamkan segala keegoanmu menjadi hal yang berkarya dalam setiap pewartaan hidup untuk sesamamu.

“Jika masih memikirkan kehidupan orang lain dan membantunya dengan ikhlas maka segenap permasalahanmu menjadi campur tangan Tuhan dalam setiap perkara”(anonim, 2016).