Hari itu dua malaikat kecil sepertinya sedang bermain-main dengan panahnya dan dengan santai melepaskan anak panah tersebut hingga mengenaiku, tepat dihatiku Sayangnya hanya satu malaikat kecil yang tidak sengaja melepaskan anak panahnya, sementara yang lain terlihat sangat erat menggenggam panahnya, takut mengenai orang, mengenai mereka yang saat itu mungkin belum siap untuk jatuh cinta.

Sakit? Tidak, saat panah itu mengenai hatiku sedikitpun tidak kurasakan sakit justru aku amat sangat girang, selalu berusaha ingin bertemu dan membuat kesempatan-kesempatan yang sengaja seolah ‘tidak sengaja’, membuat skenario yang kubuat seolah-olah takdir yang berkata. Kupikir rasa amat sangat girang ini akan berakhir lama, namun ketika harapan tak sesuai rencana semuanya justru berbalik menjadi kesedihan yang teramat dalam.

Aku jatuh cinta dengan seorang lelaki yamg mungkin tidak pernah sedikitpun memikirkan namaku. Bahkan kini setelah satu tahun lebih aku mencintainya dalam diam, hatiku tetap saja bergetar ketika mendengar namanya disebut, batinku masih saja merintih ingin mengungkapkannya. Semuanya terjadi begitu saja, seolah-olah aku tahu jika akhir dari cerita ku ini akan berakhir dengan menyebut namamu untuk menjadi penutup manis cerita hidupku.

Setelah melihatmu memutuskan untuk pergi melanjutkan pendidikan S2 mu, keyakinanku untuk menyebut namamu menjadi penutup manis seakan menjauh dari harapan. Meski tahu jika jodoh pasti bertemu, aku tetap saja meragu jika kita kelak nanti akan bertemu lagi. Aku bahkan lebih takut ketika kita bertemu, kamu justru datang dengan membawa cerita cintamu (yang bukan denganku). Jadi apa yang harus kulakukan? Pergi melupakanmu dan ceritaku atau menunggumu meski mungkin saja kamu datang dengan cerita lain..

Hai kamu.. Tahukah kamu hingga hari ini panah itu masih menancap dihatiku, namun tak sekuat dan sedalam dulu dan meski tak kuat dan dalam lagi tapi rasanya justru terasa amat sesak dan sakit.