Kamu yang datang sebagai suatu keajaiban buatku, tolong jangan sekedar datang menyapaku lalu kemudian berlalu.. hati tidaklah menjadi tempat persitirahatanmu sesaat krna pernah begitu lelahnya berjalan.. hatii ini ibaratkanlah sebuah rumah yang kau idamkan dan kemudian kau dapatkan, lalu menetaplah disna dengan nyaman, isi rumahmu itu dengan suatu kebahgiaan maka akan slalu kau dpatkan kenyamann didalamnya, dan jagalah rumahmu itu selayaknya ketika kamu pergi keluar kamu akan slalu rindu untuk pulang, bahkan disaat kamu lelah akan sebuah pekerjaanmu yang kamu ingat adlah kembali kerumahmu dan beristirahat.. aku berharap seperti itu

cinta memang suatu yang aneh, bahkn dimana cinta pernah membuatmu menunggu begitu lamanya, kamu masih berharap dia kembali.. namun nyata dia lebih bertahan pada apa yang pernah membuatnya begitu sakit.

aku tidak terpikir sebelumnya, bahwa sejauh apapun kamu berjalan bersamaku jika dihatimu masih ada orang lain (percuma) bayangkan saja bagaiman aku harus pura-pura bahagia didepanmu, sedang hatiku tidaklah kamu merasa bahgia bersamaku..2 tahun menunggu waktu untuk bersamamu nyatanya penantianku tak membuatmu merasa ingin bertahan lebih lama bersama. ini aneh bukan? ini ngak adil rasanya, ngak logis rasanya.. kamu yang kupikir kembali untuk menetap nyatanya hanya ingin singgah sebentar, lalu kemudian ingin kembali meneruskan jalan bersama dia(masa lalu)..

tidak perlu lagi berpura-pura, aku sudah lihat dengan mata hatiku, sikapmu berubah, rasamu berkurang.. km tahu aku perempuan yang selayaknya memang semua perempuan punya naluri yang tak dimilki laki2, aku tahu slma ini namun aku merasa hanya ingin menyimpannya saja sebagai rahasia hati..cukup sakit memang, harus menyimpan rahasia hati didepan orang yang kita cintai. namun apa daya bibir inipun tak mampu untk berucap sebuah kata apapun selain "aku berharap kamu menetap selamnya disini" namun aku berpikir kembali jika ternyata memang bahgiamu tidak bersamaku, maka izinkan hati ini untuk melepasmu…karna aku juga ingin melihat bahgiamu walau mungkin itu bukan bersamku