Aku tau apa yang ada dibenakmu sekarang. Kamu yang dulu saat pdkt sangat manis. Semua rasa kamu ungkapkan, semua sikap manismu tak luput kau perlihatkan, semua perlakuanmu kepadaku yang menganggapku seorang putri dan harus dimanja, semua kata indahmu kata sayangmu tak pernah kamu tinggalkan ketika chating denganku, semua perhatianmu kamu tuju padaku, ahhhh rasanya terlalu banyak jika aku sebut satu-satu. semua yang indah-indah saat kita belum pacaran yang membuatku tak perlu berpikir 2 kali untuk menerimamu ketika kau menginginkan aku menjadi pelengkap hidupmu. rasanya aku menjadi orang paling beruntung mempunyai seorang sepertimu. meskipun semua teman sekelas kita (yaaapp, kita teman sekelas dikampus yang menjelma menjadi pasangan kekasih) slalu bertanya-tanya tentang keyakinanku akan dirimu terutama sahabatku yang sangat-sangat menentang hubungan kita sangat memarahiku, ketika dia tau aku menyukaimu. karena dia tau siapa kau dan bagaimana kau tidak baik buatku. tapi aku? masih saja membelamu didepan anak-anak bahwa kau baik kau tak seperti yang mereka pikir. kau yang slalu dipandang negatif oleh teman-teman dimana jarangnya kau hadir kuliah dan slalu bermasalah dikelas. kau masih tetap kudekap dan kubela agar mereka tak seringnya menghinamu. selain itu, aku yang tak tau menau tentang masalalumu, datang kepadaku yang bilang bahwa aku sangat jelek gendut dan tak pantas buatmu, masalalumu lah yang lebih sempurna, dia bilang kau memiliki banyak perempuan lain dikota kelahiranmu sana, dia mengatakan semua keburukan masalalumu yang membuatku harus mengelus dada. tak cukup sampai situ, kau memiliki 2 sahabat perempuan yang sangat dekat denganmu, dimana merekapun membenciku, mereka slalu berharap kita putus. mereka mengira aku tak baik buatmu. apa salahku? salahkah aku mencintaimu? aku masih sabar aku putuskan untuk terus berjalan denganmu. ah, rasanya baru beberapa bulan pacaran denganmu aku mengahadapi cobaan seberat ini. tapi dengan semangatnya kau masih menggandengku dan berkata ayo berjuang bersama dan tak usah hiraukan mereka. semakin membuatku yakin kau sempurna bagiku.

8 bulan kini hubungan kita, kau berubah total beberapa bulan lau, yang dulunya kau menggandengku perlahan-lahan kau longgarkan genggamanmu meskipun tak seutuhnya kau lepas. perhatianmu luntur, kepedulianmu hilang, semangat berjuang bersama pun lenyap, seringnya kau menghilang tak menghubungiku berhari-hari dan akan marah jika ku menanyakan tentang urusanmu, yaa aku tau sekarang bahwa sebenarnya kau adalah orang yang tak senang jika berinteraksi dengan hape, kau lebih suka bertemu langsung, tapi ketika denganku kenapa hapemu slalu kau pegang? dulu saat kita masih pdkt tak pernah terlewatkan sedetikpun untuk tak menghubungiku. kini, ketika kuliat hapemu tak ada lagi namaku di kontak hapemu, kau end chat chatinng bbmku, tak pernah lagi kau upload foto kita dimedia sosial, bukan aku lagi tujuan ucapan slamat pagimu setiap hari, tak pernah lagi kau bilang sayang,tak pernah lagi kita berbicara tentang kita, kau sibuk sendiri. ketika didekatku bukan menjadi hal yang special lagi bagimu, bertemu denganku kau tak se antusias dulu, tertawa denganku sudah menjadi hal tabu. saat kita berdua seolah bingung apa yang harus kita bicarakan. aku lelah berbulan-bulan aku tahan dan sabar…

Pertanyaanku kini? apakah kau masih cinta denganku? apa masih ada namaku bertahta dihatimu? apa kau mempertahankanku karena rasa hutang budimu karena seringnya aku membantumu dalam proses perkuliahanmu? apa kau kasian padaku? ataukah aku membosankan? iyaaaaa aku tak secantik mantan-mantanmu dan sahabat-sahabat perempuanmu itu. aku tau kau sempurna bagiku, kau pekerja keras kau humoris kau menyenangkan, bukankah ku sudah bilang, jika bosan padaku katakanlah. jangan membohongi persaanmu, sebelum denganmu aku sudah pernah mengalami hal ini. rasanya dicuekin diabaikan itu sakit, apalagi digantung dengan prsaan seperti ini. kamu pasti berpikir aku tak bisa tanpamu? justru jika kau jujur aku bisa intropeksi dimana kelasahanku, dan aku akan perbaiki untuk masa depanku nanti. aku akan berusaha berjalan sendiri. aku ikhlas? aku rela? ketikarasa sayangku ini masih bersemi, aku tak pernah ikhlas melepasmu. tapi apalah dayaku jika menurutmu aku membosankan dan perjuangan kita cukup sampai sini, kita mungkin ditakdirkan untuk menjadi teman satu kelas. 🙂

dan pada akhirnya, sahabatku dan sahabatmu lah yang akan bertepuk tangan, seolah ini perlombaan mereka yang menang, hal yang ditunggu-tunggu akan datang. ketika mereka menentang kita berpacaran. mereka benar, kita harusnya tak berpacaran. kita tak cocok. harusnya aku mendengarkan apa kata sahabatku dulu, mungkin aku tak sesakit ini menghadapi sikapmu yang berubah seiring berjalannya waktu, aku pantas bahagia aku pantas dicintai sepenuh hati, pantas diperdulikan, tak sepertimu yang membiarkan aku berjalan sendiri tanpa genggamanmu, kau mengumbarku kau tak peduli dimana aku sedang apa. kau tak pernah sedikitpun mendengarkan isi hatiku, bagimu itu lebay dan lucu. selucu itukah kau anggap prsaanku yang hancur karenamu? kau harus ingat aku mencintaimu menerimamu apa adanya menerima masalalu kelammu yang mungkin tak bisa aku sebut disini, aku slalu ada saat kau butuh saat kau sendiri dulu, saat kau terjatuh aku yang perlahan-lahan membangunkanmu.bukan aku mengungkit, maaf. tapi aku banyak berterimakasih padamu dari keseringannya kau membiarkan aku berjalan sendiri, aku bisa belajar jadi gadis kuat dan mandiri meski harus iri melihat temanku yang slalu berjalan berdua dan saling menemani. Sudah saatnya ambil keputusan, cinta yang dipaksa memang takkan berujung baik, jika kau berat memutuskanku, biar aku yang memutuskan, sama sama berat, tak kan pernah aku mudah melepaskan seseorang yang aku sayang, tapi jika dipertahankan sudah tak bisa lebih baik putuskan. Toh, tuhan mempersiapkan yang lebih darimu dan dariku. kelak soga kau akan merasakan bagaimana rasanya diabaikan.

Dan pada akhirnya hatiku terluka lagi. Aku benci kenapa harus gagal lagi seperti ini. Tolong segera sudahi sampai sini, jangan lanjutkan mematahkan setiap keping hatiku. katakan yang sejujurnya!