Tidak sedang merasa patah hati ataupun berusaha membuat orang lain percaya dengan kutipan itu. Tetapi, bagi saya tempat-tempat indah yang dikunjungi ketika sedang patah hati itu bisa jadi teman untuk menangis dan berteriak sekeras mungkin. Yakinlah tak ada orang lain yang melihat dan merasa terganggu dengan teriakanmu. Tak hanya itu, kamu juga akan sadar bahwa dunia yang begitu indah ini akan sangat sayang untuk dilewatkan dengan sia-sia karena memikirkan patah hatimu. Melegakan itu sudah pasti, yang terpenting kamu harus bahagia setelah kejadian itu.

Lupakan sejenak dengan patah hati, ada hal yang lebih esensial dari semua itu. Tempat-tempat ini bisa membuatmu bahagia dan tersenyum ketika sejenak mengingat sebuah perjalanannya. Keindahan itulah yang membuatmu akan merasa beruntung dan seolah bisa menikmati hidupmu tanpa orang yang telah menyakitimu. Ahh sudahlah . . .

Malam itu saya bersama teman perempuan dan laki-laki menyusuri gelapnya malam kota Wonosari menuju pantai Wediombo sebagai tempat untuk memulai petualangan. Tiga orang pecinta ketinggian yang juga tak munafik dengan keindahan alam pantai. Tenda, tak lupa kami bawa untuk berpindah tidur di bawah langit dan berhawa pantai. Langit dan bintang menyuguhkan pemandangan yang tak kalah menarik saat kami sedang bersantai di depan tenda. Pembicaraan yang mengiringi pun merupakan bahasan klasik anak muda, tentang cinta dan patah hati. Itulah mengapa kami ke tempat ini, biar tidak lupa rasanya bahagia dengan teman-teman. Hingga larut malam obrolan itu terus mengalir sembari menikmati kopi diantara dinginnya angin laut. Satu per satu dari kami akhirnya pergi meninggalkan obrolan hangat itu dan memejamkan mata untuk sejenak.

Samar-samar terdengar suara adzan subuh berkumandang di kejauhan. Perlahan mulai membuka mata dan mencermati sekeliling. Sesegera mungkin mengambil air wudhu dan menunaikan ibadah. Ada satu teman laki-laki yang masih tertidur pulas dan teman perempuan sedang asik menikmati pagi seorang diri dipinggir pantai. Saya bergegas membangunkan teman yang masih tertidur, berusaha mengajaknya berkemas dan melanjutkan perjalanan. Kami bertiga pun meninggalkan pantai Wediombo, tempat semalam kami berteduh. Sambil menyusuri pantai, kamera tak luput untuk mengabadikan momen matahari terbit yang agaknya masih malu-malu.

Terus menyusuri pantai, lalu naik bukit kemudian turun kembali. Secercah cahaya kuning keemasan mulai muncul dibalik gelombang air laut yang kian berlarian. Kurang dari tiga puluh menit kami tiba di pantai cantik bernama Jungwok. Menyapa mentari pagi dan menikmati hangatnya sinar yang dipancarkan diantara bebatuan.

Advertisement

Usai menghangatkan badan dengan sinar mentari, kaki kami melangkah lagi dengan penuh semangat. Menerabas perkebunan warga dan goa serta bukit-bukit yang menjulang, dipadu dengan hijaunya alam yang memukau pandangan mata. Kali ini perjalanan kami menghabiskan waktu 30 menit untuk berjalan kaki dari pantai Jungwok. Lelah ini pun terbayar dengan keindahan pantai yang lebih cantik dari pantai sebelumnya, pantai Nggreweng. Pasir putih yang mendominasi sukses untuk kami cumbui beserta gulungan ombaknya. Tak lama kemudian, kami bergegas meninggalkan pantai ini, kembali menyusuri bukit berbatu cadas.

Seolah tak mengenal lelah dan terus dihantui rasa penasaran tentang “Ada apa dibalik bukit sebelahnya?”. Itulah alasan utama kami terus berjalan menyusuri pantai demi pantai. Terkadang harus sedikit tersesat dan memaksa kami untuk berinteraksi dengan warga sekitar tentang jalan yang harus dilalui. Tak lain tujuannya, menemukan pantai indah lagi untuk kesekian kalinya. Begitu beruntungnya kami hari itu, tiba di pantai Sedahan yang masih sepi. Pasir putih, warna air yang kebiruan serta tebing yang begitu membuat kami semakin penasaran merupakan perpaduan apik yang Tuhan ciptakan. Tebing-tebing yang terhampar di sekitar pantai Sedahan semakin membuat saya tak ingin menghentikan perjalanan ini. Dua teman saya pun tak keberatan, mereka seperti binatang berkaki seribu yang tak pernah lelah menyusuri sebagian sudut bumi.

Butuh waktu sebentar untuk bisa sampai di pantai sebelahnya, namanya pantai Dadapan. Di pantai inilah saya sadar bahwa kebahagiaan tak cukup hanya dengan sebuah cinta. Keindahan yang Tuhan tawarkan mampu membuat hidup akan lebih indah ketimbang memikirkan cinta melulu.

Kala itu, tak ada satupun jejak kaki manusia yang kami temukan di pantai ini. Kami seolah-olah adalah penghuni satu-satunya, merasa pantai ini adalah milik kami. Bermain dengan ubur-ubur yang bening serta pasir putih dan ombaknya, membuat sarapan dan menikmatinya bersama deburan ombak dan ketenangan yang begitu nyata.

Ahhh . . . senang dan girang sekali wajah kami kala itu. Ternyata perjalanan yang kami mulai dari matahari akan muncul dan saat kami kembali hanya menyita waktu lima jam saja. Lima jam yang cukup membuat kami bahagia dan mencatatkan kenangan indah yang takkan bisa dilupakan sepanjang hidup. Lantas, kamu akan memilih yang mana? Bahagia dengan sebuah cinta yang belum tentu menawarkan kebahagiaan abadi atau bahagia dengan teman perjalananmu yang membuat hidupmu akan lebih berwarna? Pilihan setiap orang pasti berbeda, tetapi saya memilih mencintai perjalanan saya untuk terus menapaki indahnya alam ini.