Sejak perkenalan itu, aku sudah terkagum- kagum padanya. Sejuta perasaan melandaku pun membawaku melayang ke entah berantah. Saban hari aku juga tak luput dari merindu. Aku merindukan Tuan tampan pemilik senyum terukur yang penuh kebaikan itu. Aku rindu pada raut wajahnya, pada bening matanya saat memandangku. Aku rindu pada rambutnya yang terkadang liar minta dirapikan, serta rindu pada caranya dalam berusaha agar bisa tertawa lepas. Beberapa kali aku bersembunyi di balik punggungnya, melamun, membiarkan dada sesak sendirian tanpa tahu cara menjelaskan rindu kepadanya?

Sekalipun setiap minggunya aku memiliki jatah lima kali berjumpa, namun itu tidak berarti apa- apa. Tidak ada kemajuan pada hubunganku dengannya. Jarang bertegur sapa, jarang ada bincang, melainkan hanya hati yang berbicara pada punggungnya. Hingga kadang aku merutuk, mengapa menjadi perempuan begitu susah untuk menyampaikan apa yang dirasakan? Bukankan emansipasi telah menyeruak diantara kehidupan kita tapi mengapa ketabuan pun juga masih belum bisa benar- benar ditebas oleh masyarakat. Ah, rasa ini benar- benar sudah menyusahkanku.

Akibatnya tiada cara paling tepat untuk menyampaikan rasa yang malu- rasa yang bisu melainkan hanya lewat tulisan. Dan semoga dia mengerti bahwa ada rasa di balik punggungnya…