Apa yang sedang terjadi padamu, Tuan?

Akhir-akhir ini kau tak seperti biasanya. Kau tampak seperti orang lain yang belum pernah aku kenal. Kau tak pernah bercerita mengenai keadaanmu lagi. Kau terlalu sibuk. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?

Semakin aku mencoba mengerti, semakin aku tak mengerti

Aku sudah mencoba mengerti dengan segala kesibukanmu. Aku tak penah memintamu lagi untuk cepat-cepat membalas pesanku. Aku tak pernah lagi memintamu untuk mendengar segala cerita bodohku seperti yang biasa kuminta. Aku bahkan tak pernah mempermasalahkan lagi jika dalam satu hari kau tak memberiku kabar. Tapi semakin aku mencoba mengerti keadaanmu, semakin aku tak mengerti apa sebenarnya yang sedang terjadi.

"Aku masih harus menyelesaikan kesibukanku. Setelah selesai aku akan segera menghubungimu"

Advertisement

Aku hapal betul kalimat yang selalu kau katakan. Intinya kamu akan segera memberiku kabar setelah selesai dengan kesibukanmu. Tapi, nyatanya kau sudah terlalu sering lupa memberiku kabar. Harus selalu aku lagi dan lagi yang menanyakan keadaanmu.

Terkadang aku juga ingin menjadi seperti wanita yang lainnya

Walaupun aku tau kau memilihku atas dasar aku tak seperti wanita lainnya yang selalu minta waktumu sebanyak-banyaknya, tapi sekarang aku benar-benar ingin meminta waktumu. Jika bisa aku ingin membeli waktumu itu. Tuan, bagaimana jika aku mulai terbiasa tanpa kabar darimu? Apa kau tak apa? Apa kau tak pernah memiliki rasa takut seperti itu?

Tuan, aku lelah menjadi prioritas yang kesekian

Aku ingin protes padamu. Kenapa aku selalu menjadi prioritas yang kesekian setelah segala kesibukanmu itu. Sebegitu sibuknyakah? Hingga tak ada lagi waktu yang tersisa untukku? Tuan, aku ingin kau meluangkan waktumu sebentar saja untukku. Beberapa menit saja dalam sehari untuk sekedar menelfonku atau mengirimiku pesan untuk memberitahu keadaanmu. Tak bisakah?

Ingin marah-pun sepertinya aku tak mampu

Aku ingin marah. Menyalahkanmu sekaligus menyalahkan segala kesibukanmu. Tapi lagi dan lagi aku tak berani. Segala kemarahanku nyataya tidak lebih besar daripada ketakutanku akan kehilanganmu. Aku takut jika aku marah kau akan meninggalkanku karena menganggapku sebagia wanita yang tidak mengerti keadaanmu. Aku terlalu takut. Pada akhirnya aku hanya memendam kemarahanku dan terus saja berusaha bersabar memahami segala kesibukanmu.

Tuan, sebenarnya ada satu hal yang ingin aku tanyakan. Mengenai seberapa seriusnyakah hubungan "kita". Salahkah jika aku memintamu menjadikanku prioritasmu untuk sesekali. Salahkah jika aku merengek meminta waktumu. Dan dari semua pertanyaan itu, ada satu pertanyaan yang ingin aku tanyakan, mengenai

sebenarnya aku harus bagaimana?