Kebanyakan orang mendatangi pantai untuk menikmati keindahan matahari senja yang terbenam kembali ke garis tepi bumi. Eksotisme yang memberi kebahagian dan kepuasan. Namun itu semua yang aku rasakan dulu, ketika persahabatanku tak diakhiri oleh ombak yang menggulung.

Setahun silam

Sehabis melaksanakan sidang akhir yang membuat otak ku merasa lelah, ku ajak Sintia mengunjungi pantai untuk hilangkan penat. Karena aku tau, ia pasti tak keberatan menemaniku. Ia sahabat terbaiku. Selalu ada untuk temani kapanpun aku butuh ditemani. Ia adalah orang yang ceria dan aktif. Aku hubungi ia via telepon pada malam hari seusai ku beristirahat sejenak selepas sidang.

“Halo, Sin aku mumet nih sehabis sidang, kita refreshing ke pantai yu.” Ajak ku
“haduuh Liana, kamu tuh udah sidang, enak udah tenang, lah aku masih dakdikduk seer” jawab Sintia
“iya sih, tapi pertanyaan dosen itu loh bikin otak ku loading nya kenceeeng banget jadi pusing deh, butuh refreshing” kata ku
“hmm.. gitu ya, yaudah deh ayo aku ikut aja, aku juga penat nih sama persiapan sidang” jawab Sintia yang akan melaksanakan sidang seminggu kemudian.

Keesokan harinya kita persiapkan segala yang dibutuhkan. termasuk memesan tiket bus ke Ciamis dengan jadwal keberangkatan pukul 8 pagi. Destinasi kita adalah pantai pangandaran.

Advertisement

Kemudian,Waktu pun menunjukan pukul 08.00, ini adalah waktunya kita masuk bus. sepanjang perjalanan kita becerita, dan bersenda gurau, seolah olah kepenatan dan rasa lelah telah terahapus total dari diri kita.

Sampailah kita di pantai pangandaran, kita ambil penginapan untuk 2 hari. Pada saat itu pukul 12.00 kita beristirahat sebentar lalu mandi dan menuju pantai menikmati deburan ombak dan bentangan lukisan tuhan yang indah. Kita ingin melihat Sunset dan mengambil photo dilatarbelakangi matahari terbenam di ufuk barat pantai pangandaran.

Aku dan sahabatku berjalan mengitari pasir pantai yang berkilauan dengan bau matahari yang kian siang kian terik terasa membakar tubuh.
Aku yang jahil, melempari sintia dengan pasir pantai. Sintia pun lari terbirit birit menghindari lemparan pasir dari ku sambil tertawa tawa. Ia mencetak jejak langkah kaki nya dipermukaan pasir pantai ketika berlari.

Namun tak ia sadari gelombang besar berkejaran menghampiri kita. Pada saat itu aku langsung lari menjauhi pantai dan berteriak.
“Sin, awas itu ada ombak besar, cepat sini.”

Kala itu sintia yang berada dekat gelombang ombak, berusaha menyelamatkan diri berlari ke arahku, namun sayang, Sintia yang aktif tak bisa mengalahkan kegagahan arus ombak yang cepat menerjang pantai. Sintia pun tak sempat menyalamatkan diri. Ia terbawa tersapu oleh ombak. sapuan ombak itu pula menghapus jejak kaki nya. menghilangkan segala wujud dan bekasnya.

Tim rescue datang mencari Sintia, aku yakin ombak akan mengembalikan sintia. Aku yakin ombak hanya meminjam tawa dan keceriaan sintia, yang kemudian akan mengembalikan nya lagi.

Kala itu aku terpaku, menangis sejadi jadi nya. Tangisku tak henti. perasaan bersalah dan kehilangan kini mencambuk diri ku.

Hari hari berlalu, tim recue tak bisa menemukan jasad sintia. Mereka bilang aku harus sabar dan mengikhlaskan kepergian sintia.

Aku kembali ke tempat tinggalku ditemani air mata dan kesedihan. Hingga tiba akhirnya jadwal sintia melaksanakan sidang akhir. ku belikan iya bunga dan ucapan maaf yang mendalam, karena sesungguhnya sintia tidak mungkin mengikuti sidang akhir itu dan meraih mimpinya.

“Sintia, seharusnya hari ini adalah hari bahagia untuk mu, namun….
Aku menghapus kebahagiaan itu, aku menghilangkan hasil dari jerih payahmu. kamu tak bisa merasakan manisnya kelulusan, padahal 4 tahun sudah kamu lalui kesulitan dengan segala tenaga, waktu, pikiran dan air mata, maafkan aku Sintia semua terjadi karena aku …”

Hari ini tepat setahun kejadian itu berlangsung. ku datangi pantai yang dulu merenggut nyawa sahabatku, yang arus nya mampu menghentikan detak jantung Sintia dan membuat perpisahan antara aku dan ia, yang juga tak menyisakan apa pun darinya, jejak kaki nya pun tidak. Hanya memori tentangnya dan kesedihan tak henti yang tersisa.