Setiap kisah percintaan pastilah ada pasang surutnya, sama seperti kisahku kali ini. Hubungan kita sedang diterpa terjangan ombak besar yang sewaktu-waktu bisa saja mengkaramkan bahkan menenggelamkan kita.

Kita di hadapkan dengan masalah yang menurutku masalah ini begitu berkepanjangan sampai menguras semua dayaku. Aku berusaha menegarkan batinku sambil menunggu kamu yang katanya sedang berusaha menuntaskan masalah ini dengan caramu.

Entah sudah berapa lama kita dalam kondisi yang melelahkan ini, kondisi yang tidak jelas arah tujuannya, kondisi dimana kamu menggantungkan kisah ini, menggantungkan hubungan ini.

Apa yang aku rasa saat ini tidak lagi tergambar dengan jelas, semua terasa abstrak, begitupun kisah cintaku. Seperti tidak ada ujungnya untuk melewati rintangan dan cobaan dikisah ini.

Kadang aku bertanya ini kita atau hanya aku saja yang sedang di terpa terjangan ombak? yang pasti dalam cerita ini aku merasa aku saja yang berjuang agar tidak karam.

Advertisement

“Hei aku ini masih wanitamu, coba tengok aku walau hanya sekedar melihat bahuku.”

Aku tidak tau apa aku yang tidak peka tentang hubungan kalian, atau memang aku yang pura-pura tidak tau tentang hubungan kalian hanya untuk menenangkan batinku. Aku berusaha untuk mengembalikan aku dan kamu menjadi kita lagi seperti dulu sebelum kamu mengenalnya.

Tapi apa yang aku terima dengan semua segala upaya yang aku lakukan?? Aku masih saja menyaksikan kalian bersenang-senang dengan di atas penderitaanku, bernyanyi riang di atas penantianku tanpa pernah mau tau apa yang sebenenarnya yang aku rasakan.

Baik, kali ini akan aku uraikan semua rasaku yang sejak lama aku pendam. Aku mau kamu tau, aku sakit hati, aku cemburu, aku terpuruk sampai aku tak sanggup melihat rupaku sendiri.

Terlepas dari itu semua, sungguh aku rindu kamu, rindu kebiasaan-kebiasaan kita yang sudah mendarah daging di diriku. Aku rindu akan senyummU. Kapan tanganmu dan pandangan hangat itu kembali kamu tunjukkan hanya untukku. Rindu ini tidak akan habis mengisahkan tentangmu, tentang masa lalu, masa kini dan masa depan.

Rinduku ini akan selalu menjadi rindu yang abadi bila kamu tidak membalasnya, bahkan rindu ini sudah menjadi candu.

Terimakasih rindu telah menemaniku tiap malam, dan menjadi teman dalam lamunanku. Rindu, pernahkah kau berkunjung ke hatinya walau hanya sejenak? Adakah kau temukan aku disana? Pernahkan dia bercerita tentang aku kepadamu? Andai aku dapat mendengarmu, rindu L. Sungguh Rindu ini manusiawi.

Kata-kataku tidak akan habis mengisahkan tentangmu, tangan dan bibir ini pun tidak akan lelah menulis dan membicarakan tentangmu.

“Tuhan bolehkah aku sedikit saja mengeluh atas semua usaha dan pengorbananku selama ini? Aku lelah Tuhan, aku lelah terus berjuang sendiri.”

Haruskah aku menyerah disisa dayaku? Haruskah aku menyerah dengan semuanya? Haruskah aku menyerah di ujung perjalananku yang panjang ini?

Tapi sekali lagi aku ingat pasti ada Engkau Tuhan ku yang selalu mendampingi aku dimanapun aku berada. Engkau yang maha tahu apa yang aku pinta selama ini. Engkau yang maha tau rangkaian doa Indah yang aku sisipkan di setiap sujudku.

Aku menunggu keajaiban itu datang menghampiriku, keajaiban yang dapat mengembalikanmu tanpa harus takut akan berpaling lagi dengan yang lain.

Titip rinduku ini padanya Tuhan, bisikan di telinga bahkan dalam hatinya agar dia tau aku sungguh sangat rindu.