Hidup itu tidak sesederhana kelihatannya, seperti hidupku yang sepertinya tidak seindah dan semanis kelihatannya. Setiap jengkal kehidupan yang terjalin, sama seperti kita menjalin sebuah tali ketika kita mencoba mengubah model tali itu pasti saja ada yang berbeda yang kemudian menjadi bahan perdebatan antar sesama penjalin tali. Bagiku satu keyakinan yang membuat aku bertahan hidup selama 19 tahun ini. Keyakinan yang di ajarkan kedua orangtuaku tentang bagaimana menyikapi setiap permasalahan dengan senyuman. Bersikap tenang seperti lautan dalam yang menyimpan milyaran kesabaran, dan bersikap baik selama kita mampu meski terhadap mereka yang menyakiti kita. Aku selalu merasa menjadi manusia paling beruntung di dunia, memiliki orangtua yang perhatian, memiliki keluarga yang saling sayang, sahabat yang menjadi lawan tertawa dalam segala hal, dan seseorang yang istimewa yang Tuhan sediakan untuk menjadi naungan saat aku merasa paling lemah. Kehidupanku, memang indah, dan sempurna menurutku. Aku anak manja yang sangat disayang dan selalu disayang hingga kini.

Tetapi kebahagiaan juga tidak lengkap tanpa masalah yang menyebabkan kesedihan. Kini aku bisa merasakannya, yang dulunya aku diam dan cuek dengan omongan, aku mulai berani melawan meski dalam hati terkadang aku tertawa karena aku melayani mereka yang tidak waras yang beraninya komentar dengan hinaan tanpa bisa intropeksi diri. Aku dan temanku sama besar di jalan, dari kecil aku di bawa pindah sana-sini dengan alasan pekerjaan dan keamanan, mungkin orangtuaku ingin aku tidak terlalu bergantung pada satu tempat dan satu nasib yang sama. Perdebatan perpindahan sekolah juga sering aku jalani, bertengkar karena masalah bangku juga sering aku hadapi, menonjok anak pemilik yayasan sampai berdarah matanya pun sudah aku alami, apa lagi? Melawan guru? Ketika pelajaran kesenian, guru menjelaskan not di depan dan aku sibuk dengan tindik telingaku aku pernah mengalami itu. Dan bagiku hal seperti itu adalah kehidupanku. Ketika ada orang lain berkoar sok tahu dan mencoba menjatuhkan, aku bersyukur karena tanpa bayaran dan tanpa disuruh mereka memperdulikan aku dan mengurusi masalah aku. Kehidupanku kehidupan nakal, orangtuaku mengajari bersikap apa adanya bukan topeng atau plagiat sikap orang lain. Ini aku, dan kalau kamu nggak suka itu masalah kamu.

Aku berterimakasih kepada pemuja dalam dendam yang seolah paling tahu, sering aku curhat ke mama dan komentar mama pasti dengan tertawa “kok mau kamu ngurus orang kayak mereka? Kita nggak pernah ngasih makan mereka ya udah diam aja.” Itu yang di ajarkan. Aku bangga dengan kehidupanku, karena aku hidup sesuai apa yang ingin aku jalani bukan apa yang ingin mereka komentari. Dengan setiap kejadian yang aneh dan lucu aku belajar. Belajar menghargai mereka yang terhina, mencintai mereka yang sombong, menyayangi mereka yang sok besar nyatanya kecil dan menunjukan keberanian kepada mereka yang selalu bilang berani nyatanya pengecut. Tuhan, terimakasih atas pelajaran indah yang selalu Kau beri. Ada kenangan yang harus aku jalani sebelum aku berjalan di titian selanjutnya. Aku berpetualan Tuhan, sesuai yang Kau rencanakan. Aku menunggu akhir cerita indah ini, karena aku tidak sabar ingin segera mengetahui siapa sebenarnya yang Kau sayangi. Apa mereka yang selalu merasa bangga dengan apa yang mereka katakan, atau aku yang selalu diam dengan senyuman karena tahu resiko jika aku seperti mereka? Tuhan, hanya Kau yang tahu. Kau sutradara kehidupanku dan kehidupan mereka, karmaMu aku percayai, dan aku yakin karma ada dalam setiap kata, sikap dan ucapan kita terhadap orang lain. Di tunggu endingnya ya Tuhan.