Dalam keheningan malam angin malam itu terus berhembus di sepanjang jalan, tetapi langkah kaki ku masih saja tidak berhenti untuk melangkahkan setiap jejak langkah ku, walau dengan penuh rasah yang bergejolak yang datang dari dalam jiwa ini, dengan tetasan keringat yang serasa kian membeku aku tetap melangkahkannya. Berharap jalan ini tidak ada ujungnya dan akan tetap ku telusuri tetapi suara malaikat itu kini sudah semakin dekat dan seolah dia tepat di telinga sedang berbisik yang mengatakan ingin membawa semuanya yang ada pada pikiran dan perasaanku terbang melayang ke pada suatu alam yang belum pernah ku datangi sebelumnya, tetapi tempat itu telah kurasakan keberadaannya dalam setiap ruang dan waktu yang masih ada dalam perjalanan cerita hidupku.

Pada satu titik langkah ini berhenti, hawa malam berganti seolah badai panas dari matahari sedang bergerak kearahku sedang berdiri, tampa berpikir lama aku segera menciptakan dalam imajinasiku suatu kulkas yang berukuran 2 kali 3 meter dengan tinggi hampir 2 meter, akupun langsung memasuki ruangan pendingin tersebut tetapi yang terjadi semuanya adalah di luar dari imajinasi ku. Ruangan tersebut tidak cukup dingin untuk mendinginkan badai panas matahari yang sedang menghampiri ku. Aku hanya dapat berharap malaikat yang berbisik tadi datang kepada ku tidak sekedar berbisik tetapi membawa aku kepada suatu tempat yang digambarkannya ketika itu. Mungkin aku sudah kehilangan arah yang menjadikan aku hanya mengharapakan kedatangnya untuk yang berikutnya, karena tubuh ini tidak dapat lagi untuk menahan hangatnya badai ini.

Diluar perkiraan malaikat yang kutunggu tidak kian datang, berbisikpun kepada ku sepertinya ia tidak sudi lagi. Aku menangis, aku menjerit, dari mulut ini, dari hati ini. Malapetaka apa yang akan datang, bencana apa yang sedang menimpa. Jika ini bencana alam mengapa mejadi sseolah personal kemana penduduk lain, mengapa seolah hanya aku yang hidup dalam dunia ini dan yang merasakan nya.

Tubuh terkulai lemas, napas ku semakin berat, mata ku mulai gelap, mulut ku pun tidak dapat lagi berkata, adapa ini. Apa aku akan segera mati. Tuhan kasihanilah aku. Tunggu dulu.Tuhan terimakasih. Sungguh besar penguatanmu. Sungguh dahsyat kuasa mu.

Aku merasakan ada yang berbeda, sepertinya badai itu telah berhenti. Sekarang aku merasakan udara segar, aku merasakan udara sejuk ini mulai menerobos masuk kedalam setiap rongga-rongga yang ada pada paru-paruku. Tubuh ini mulai merasakan sejuk yang mendalam semuanya terasa damai. Oh Tuhan.. dimana aku ini, aku belum pernah ketempat ini sebelumnya. Begitu indah itu ciptaanmu, apakah ini masih imajinasiku. Indah nya laut, putihnya pasir pantai, hijaunya pepohonan, di hiasi bunga-bunga mekar ini melengkapi semuanya dalam satu kondisi tempat yang ku rasakan Surga di bumi.

Advertisement

Ku telusuri setiap tempat ini, aku masih saja belum menemukan seseorang pun disini, dari kejahuan aku melihat seberkas sinar yang hilang timbul aku mendekatinya tetapi sinar itu hilang. Ketika aku berbalik aku melihat mailakat tepat di hadapan ku. Aku begitu takut.. cahayanya tidak memapukan aku menatapnya. Aku tertunduk menghalangai cahaya itu masuk lebih dalam dan merusak lapisan retina mata ku. Terdengar suara “jangan pernah meminta keringanan, mintalah penguatan” ini adalah tempat yang ku ceritakan kepada mu. Ini bukan lagi sebuah imajinasi tetapi adalah sebuah kondisi, ini bukanlah sebua tempat karena tempat yang indah itu di tentukan oleh kondisi perasaan mu. Oleh karena itu jadikan kondisi yang baik agar perjalanan hidup mu indah dimanapun tempat mu berinjak.

Semua tempat yang kamu lewati baik itu dinginnya malam dan hangatnya badai panas bukanlah suatu kenyataan yang perluh kamu khawatirkan, tetapi rasakanlah bahwa seutunya itu adalah rekayasa kondisi pikiran dan perasaan mu yang sedang rusak. Dimanapun kamu berada tetap lah berada pada kondisi surgawi.

Tuhan memberkati.