Tuhan, izinkan aku mengenang sedikit saja, terhadap kerinduan di berbagai masa yang kini tak dapat lagi ku cicipi. Izinkan aku sejenak saja, untuk melarikan diri dari berbagai kejumawaan. Hingga mungkin muak ku sedikit dapat terobati, sekiranya menjadi tarikan senyum yang berpendar dan membuatku nyaman. Tak muluk bukan, Tuhan. Mungkin di sana aku dapat memperbarui rasa syukurku. Engkau tentu memaklumi betapa bebalnya hamba-Mu ini.

Tuhan, aku tak ingat bagaimana tingkahku ketika masih tersemat dalam rahim ibuku. Aku juga tak ingat, bagaimana rengekan tangisku di malam hari yang kerap menganggu kedua telinga orang tuaku. Aku pun tak mengetahui dengan pasti perasaan kedua orang tuaku ketika waktu- waktu istirahat mereka ku curi dengan bebasnya. Hanya karena kotoran, pipis, lapar, atau sekadar posisi popok yang tak membuatku nyaman. Ah, betapa tidak berdayanya.

Tuhan, ketika aku beranjak tumbuh, mungkin beberapa tahun semenjak kemunculanku di dunia. Katanya, dan seperti umumnya anak- anak yang lain, aku diajarkan untuk menapaki dunia ini. Sedikit demi sedikit kedua orang tuaku mengajarkanku untuk berjalan. Selanjutnya, dengan naluri yang Kau anugerahi, meskipun aku terjatuh seketika itu pula aku akan bangkit kembali. Tak ada raut sedih bahkan tangis dalam wajah ku sepertinya. Yang ada hanya gelak tawa dariku yang begitu senang menikmati aktivitas baru yang aku jalani. Mungkin jika dahulu aku sudah bisa berbicara, gelak tawa itu merupakan salah satu penggambaran kebahagiaan bahwa untuk pertama kalinya aku telah diberikan kepercayaan untuk melangkah, sendiri.

Tuhan, ketika pada akhirnya aku benar- benar dilepaskan untuk melangkah. Sepertinya semua tempat menjadi begitu menarik bagiku. Dalam hitungan menit, aku bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Menggambil barang ini dan itu, menggigitnya, merusaknya, membuangnya dengan senang hati. Mungkin itulah masa di mana aku benar- benar berjaya menghancurkan tatanan seisi rumah, tetapi begitu saja dilegalkan atas nama kasih sayang.

Tuhan, setelah aku mulai membesar dan berubahlah identitas ku dari balita menjadi kanak- kanak, di saat itu pula aku sudah dibebani berbagai tanggung jawab. Meski tidak banyak, tetapi setidaknya aku sudah diajarkan tentang pentingnya pendidikan dan berbagai manfaatnya. Walaupun pada saat itu aku belum sepenuhnya mengerti apa arti pendidikan. Hal yang aku mengerti adalah setiap senin hingga sabtu diharuskan bagiku untuk berangkat ke sekolah, belajar beberapa mata pelajaran, dan bermain- main dengan teman sebaya. Lalu ketika malam, aku berusaha untuk mengerjakan kewajibanku berupa PR. Di saat itupula orang tua ku dengan sabar memberikan berbagai panduannya tentang materi- materi yang tidak begitu ku mengerti dengan baik.

Advertisement

Tuhan, setelah aku mulai bertumbuh kembang kembali, akupun masuk pada fase di mana orang- orang disekitar ku menamakannya dengan masa remaja. Masa di mana aku dan sebagian remaja lainnya terjangkit dengan virus merah jambu. Suka- sukaan antarsebaya mulai terjadi. Perhatian akan penampilan pun menjadi sesuatu rutinitas baru bagiku. Meski sebenarnya akupun juga tak terlalu mengetahui dengan tepat untuk siapa ubahan penampilanku itu ditujukan. Hal tersebut begitu dimaklumi oleh orang tua ku. Meski begitu, ribuan nasehat tak pernah henti mereka utarakan. Berharap semua yang ku lakukan benar- benar hanya dalam lingkup yang sewajarnya.

Tuhan, setelah aku masuk pada fase remaja, masa itu tak lekas saja hilang dari diri ku. Aku benar- benar masih dalam fase merah jambu. Bedanya, saat ini pikiranku sudah dengan sendirinya terbelah menjadi dua. Di satu sisi aku tak dapat melepaskan begitu saja gejolak kawula muda yang melekat di diriku. Oleh karena itu, satu atau dua lawan jenis pernah menjadi bagian cerita ketika rumus matematika dan ribuan hal kognitif lainnya senantiasa harus ku telan. Di sisi lain, aku juga harus mempersiapkan bekal masa depan ku. Karena sepenuhnya dalam gerbang ini, aku diberikan hak oleh orang tuaku untuk menorehkan berbagai catatan-catatan penting di hidupku. Sesukaku, sebebasku, tetapi penuh tanggung jawab. Meski begitu, fungsi kontrol mereka sebagai orang tua tetap menjadi bagian yang tak pernah terlepaskan dalam hidupku.

Tuhan, saat ini pun aku memasuki fase yang berbeda. Fase di mana aku dikatakan dewasa. Fase di mana jutaan hal telah mewarnai dan membentuk diriku. Fase di mana jutaan wajah, permasalahan, dan pengalaman telah mengantarkanku menjadi “diri”. Fase di mana aku benar- benar harus berjuang. Fase di mana aku bisa dikatakan berdikari dan hal yang lumrah juga melekat berbagai uji. Fase di mana aku sering kali lupa terhadap rutinitas batita ku dulu. Ya,rutinitas ketika aku harus belajar berjalan- terjatuh- tertawa- lalu bangkit kembali. Aku tahu bahwa rutinitas itu mengantarkan aku pada kemampuan baru, yaitu berjalan. Lalu, jikalau sedewasa ini aku menghadapi hal yang sama, pembenaran apa yang harus aku buat untuk bersedih ketika terjatuh? Pembenaran apa yang harus aku buat untuk bersedih ketika kejatuhan/uji itu mengantarkanku pada kemampuan yang baru? Mungkin tak senyata kemampuan ku ketika berjalan, tetapi tentu mental ini lebih kuat untuk sekadar teriris benda tajam yang jarang dihaluskan. Sepertinya aku harus berkaca kembali tentang kemampuanku dulu yang sering kali ku lupakan. Belajar berdiri- terjatuh- tertawa- bangkit kembali- berusaha kembali- lalu berjalan. Tak ada sedikitpun masa di mana aku harus bersedih bahkan menangis bukan?

Tuhan, kalau begitu harus kah aku melegalkan kesedihan ku, ketika Engkau begitu menjamin hamba- hamba yang berserah pada Mu? Ketika kedua orang tua ku telah menjadi teman dan pelipur lara yang begitu setia sepanjang hidupku. Apalagi yang harus ku tuntut ketika Engkau dan kedua orang tuaku telah membuatku cukup?