Aku mengenalnya tak begitu lama ketika hatiku sedang kosong dia datang membawa ratusan tebaran hati di instagramku. Aku penasaran dan ingin lebih lanjut menjelajahi sisi kehidupannya. Beberapa cerita dan opininya mengenai kehidupan menurutku mendekati sempurna hingga aku ketagihan untuk berkomunikasi dengannya lebih lanjut. Hal ini tak ku lalui lama .Cukup singkat. Aku mengarungi sorotan mata tajam nan manisnya pun hanya sekejab. Kita berbincang sebagai teman begitu akrab begulat dengan argumen masing masing mengenai lebih dahulu mana kelahiran ayam dan telur hingga argument bahwa kuah soto yag terenak itu menggunakan koya bukan taucho. Sesingkat itu keputusanku untuk menjalin hubungan spesial denganmu. Jangka waktu ini, sesingkat ini, alasan perkenalan yang sekonyol itu. Singkat.

Apakah berati perasaanku juga akan berujung singkat? Aku bimbang untuk menjawab tidak.

Jujur Tuhan, dulu aku menggilainya, menyukainya mulai senyuman hingga aromanya, bahkan aku ingin melepas masa lajang sesegera mungkin untuknya. Untuk menikah dengannya. Aku suka berkhayal melamun sambil tersenyum kecil kadang tersipu malu sendiri. Anganku bermain dalam posisi akulah pasangan sah yang setiap pagi bangun tersenyum dalam pelukan sembari berbisik manja, “Bangun sayang, dunia kita tidak sebatas dalam pelukan diatas ranjang”. Dan begitulah aku akan bangun menyiapkan segala keperluannya, sarapan pagi dengan sepiring nasi goreng dan 2 pasang sendok garpu. Makan diatas pangkuannya tentunya, meskipun akirnya akan telat bekerja dan menertawakan kebodohan kita masing masing.

Semua kubayangkan dengan wajar dan menurutku tak berlebihan. Kalau dipikir ulang mungkin sedikit berlebihn diadegan sarapan. Hahh tapi tak apa semua tetap romantis berbumbu manis tapi belum realistis.

Tuhan, Engkau tau kan bagaimana aku dan bagaimana dia jika kita terus bersatu. Aku selalu akan bebicara lebih banyak, mengkritik paling sering, dan berteriak paling keras jika sedang berada dalam percekcokan, dan pasti dia akan tetap tersenyum memandangku sambil mengelus pundaku kemudian mencubit pipi minimalisku agar aku tenang. Kemudian membawa susana hati lebih baik untuk memulai pembicraan dan menemukan solusi.

Advertisement

Aku yakin dia pasti paham aku wanita bebal yang sulit sekali mendengarkan penyataan “kamu salah”. Namun dalam anganku dia adalah pasangan ku yang sabar meski sebenarnya hatimu penuh amarah. Dari awal kita berbeda aku idealis kamu realistis,aku suka kesunyian dia suka keramaian, aku pecinta binatang dan kamu pecinta aku.

Kita pernah berjanji, aku ingat itu. Itu adalah janji ketiga setelah kita memutuskan untuk memiliki hubungan spesial bukan sekedar teman. Janji ketiga dalam 5 minggu saling kenal yang mungkin saat ini sedang aku bimbangkan. “aku sayang kamu, kamu harus sayang aku , ini absolut dan jangan tinggalkan atas dasar bosan” janji yang aku buat dia amini dan mungkin akan aku langgar. Yaa godaan selalu ada aku mennyukainya tapi aku mulai bosan. Benar beberapa bulan lalu aku selalu berharap menjadi pasangan hidupnya memulai dunia manis kita bersama tapi mungkin tidak untuk sekarang. Tuhan salahkah jika aku bosan? Kejam? Mungkinkah aku kejam.

Entah. Yang aku tahu dia belum melakukan kesalahan yang fatal. Setiap hari dia selalu mencintaiku, membanggakanku dan mengingatkanku hingga hal yang terkecil seperti “bersihkan makeup-mu", ”telpon lah ibumu, dan kemudian hubungi aku!”. Dia lelaki sederhana, dengan pemikiran besar bukan hanya tentang hubungan melaikan juga tentang kesejahteraan. Dia sosok yang baik seperti di FTV saluran TV swasta, paling tidak itu anggapanku dan bebeapa temanku yang mengenal dia. Apakah ini belum cukup buatku? Sayangnya aku tipe wanita yan masih berpijak di dunia meski menggilai dunia romantis pada drama korea atau FTV.

Tuhan, aku jenuh dengan rutinitas ini. Bangun dengan sapaan pagi yang dulu lebih segar dari embun pagi memamui pesannya. Melihat senyuman dari parasnya namun melalui foto yang selalu dia kirimkan. Dukungan semangat dan candaan mesra yang kau ucapkan setiap kita terhubung memalui jaringan seluler. Disana dia mencintaiku begitu hangat lebih hangat dari secangkir kopi luak yang dia seduh setiap pagi di tanah rantau Namun disiini aku kedinginan, membutuhkan sentuhan kehangatan dari kamu kekasihku yang jarang pulang.

Hey, aku disini merasakan kehagatan bukan dari lelaki yang dulu kucinta dengan penuh kesederhanaan namun dari lelaki lain yang lama ku kenal. Tuhan, aku mulai bimbang. Aku tau keseriusan kekasihku meski dia terpisah dari ragaku. Namun ragaku membutuhkan kehadiran nyata. Nyata ada ketika aku sakit, nyata ada ketika aku pusing dengan semua pekerjaanku, nyata ada dengan sepotong kue ulang tahun dan saling menyuapi. Sayang nyatanya tidak.

Tuhan bolehkan aku mulai melepaskannya dan memilh kehangatan baru yang jelas aku rasakan di sini? atau bolehkah sekali ini aku serakah ? Biarkan kekasihku mencintaiku dan aku akan menenmaninya di waktu senggang saat pekerjaan sedang istirahat menggejarnya. Sekaligus aku membiarkan diri ini mencintai orang lain yang selalu hadir dengan sentuhan di setiap moment hebat dan sedihku. Aku sadar mungkin aku wanita yang selalu egois mementingan kesenangan diri sendiri menekan lelaki dan tak mau di kalahkan namun bersembunyi dengan sosok manis, manja mudah rapuh hinga lelaki tak akan berani menyalahkan aku atas segala tindakanku.

Tuhan aku sudah mematahkan hati sedikit demi sedikit setiap harinya dengan kebohonganku mugkin hatinya akan lebur jika tau apa yang kekasihnya lakukan saat jauh darinya yang sedang berjuang. Setidaknya Tuhan, bisakaah Kau buat aku jatuh cinta kedua kali dengannya karena aku mulai bosan. Tuhan apa yang harus ku perbuat? Mencintanya dalam kepalsuan atau menyayanginya dengan status teman.