Hampir 4 tahun bukan waktu yang singkat untukku bersamamu. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk terus bersamamu dan ada di sampingmu. Tapi mengapa kini menyayangimu semakin terasa begitu sulit, menggapaimu saat ini seakan aku tak mampu.

Kini aku kembali kedalam memori itu, kenangan saat-saat dulu kita tertawa bersama, menghabiskan waktu berdua, namun mengapa kau tega memberi ruang kebahagiaan ini pada orang lain, sayang? Mengapa kau tega memberikan ruang hatimu pada orang lain, padahal di dalamnya sudah ada aku yang tinggal cukup lama di sana.

Apapun yang kau lakukan di belakangku aku tau, aku tau semuanya, namun aku hanya memendamnya sendiri. Sampai kapan kau akan terus begini, sayang?

Aku terus berjalan mengikuti langkahmu, namun mengapa di pesimpangan jalan itu kau memilih meggandeng mesra orang lain tanpa menoleh sedikitpun kepadaku. Tanpa kau sadari aku melihat semua itu, tapi entah mengapa aku terus saja mengikuti langkahmu.

Dan saat orang itu pergi, kau mengetahui keberadaanku di belakangmu. Kau hanya menghampiriku dan memelukku dengan erat dan aku hanya bisa menangis hingga tersedu-sedu dalam pelukanmu. Tapi saat aku berusaha melepaskan pelukanmu dan berkata aku ingin pergi, kau justru semakin erat memelukku, sayang?

Advertisement

Dan lagi aku hanya bisa menangis dalam keheningan ini. Aku ikhlas apapun keputusanmu saat ini entah itu bersamaku atau dengannya.

Aku percaya bahwa "Akan ada pelangi setelah hujan dan akan ada kebahagiaan setelah air mata”. Aku pun merasa Tuhan kerap kali membelaiku dan membisikan kata sabar di telingaku.

Aku juga menyakini bahwa Tuhan yang mengatur dengan siapa kita berjodoh, walau dalam sujud juga doaku aku selalu menyebut namamu, selebihnya ku biarkan Tuhan yang menulis cerita kita, entah di kertas yang sama atau tidak.

Karena aku tau Tuhan adalah penulis skenario terbaik. Saat ini yang bisa aku lakukan hanya bisa berdoa untukmu,

karena mendoakanmu adalah caraku memelukmu dari jauh.

dari aku yang hingga kini masih menyayangimu