Sembilan tahun sudah aku tidak dapat lagi memandang wajahmu ayah. Aku rindu. Aku rindu ketika aku melihatmu dengan gagah mengenakan seragam kepolisian sebagai identitasmu. Aku rindu suaramu yang ketika dengan iseng aku menelepon kantormu dan kau memberikan salam “Polsek dukun, dengan waluyo bisa dibantu?” kemudian aku tertawa. Aku rindu marahmu karena khawatir ketika aku terluka. Aku rindu cemasmu ketika aku sakit. Aku rindu tawamu ketika kita sedang bercanda bersama. Aku rindu ketika engkau mengajari aku untuk memancing ikan. Aku rindu masakanmu ayah. Mangut Lele, masakan yang paling membuat aku jatuh cinta.

Ayah, apa kabarmu di sana? Tidak kah kau rindu aku anakmu ini? Banyak hal yang terkadang aku ingin ceritakan padamu. Namun, aku hanya bisa memandangmu di sebuah batu nisan dan bercerita padamu melalui doa. Taukah engkau ayah? Aku membutuhkanmu. Aku membutuhkanmu untuk selalu mendukungku. Aku membutuhkanmu sebagai tempat sandaran ketika aku sedih.

Ayah, hidup ini ternyata jauh lebih keras bila tidak ada dirimu. Terlalu banyak tipuan, terlalu banyak bualan, terlalu banyak hal yang aku sendiri masih belum tau jawabannya. Ayah selalu mengajarkan aku mengenai kasih sayang. Bahkan sampai saat ini aku berharap mendapatkan lelaki seperti ayah yang selalu melindungi aku, selalu mencemaskan aku, mendukung aku, menyayangi aku seperti ayah menyayangi aku.

Engkau selalu mengajarkan aku untuk menjadi wanita yang kuat, jangan menangis di depan orang, jadi wanita yang tidak sombong, tidak mudah mengeluh dan selalu ceria. Ketika aku tau kau telah meninggalkan aku sendiri, aku berusaha untuk tidak menangis di depan banyak orang, ayah. Aku tetap berusaha menjadi anak yang ceria seperti yang kau mau. Bahkan sampai saat ini, aku hampir tidak pernah menangis di depan orang lain. Tapi taukah engkau ayah? Hatiku hancur ketika kau pergi, mungkin aku yang paling kehilangan dirimu, aku seakan tidak memiliki daya lagi. Taukah engkau ayah? Rasanya aku ingin berteriak “Ayah, kenapa engkau jahat sekali? Kenapa engkau meninggalkan aku? Bagaimana nanti aku tanpamu ayah? Tidak kah kau pikirkan aku?” .

Aku memikirkan hal-hal yang tidak akan pernah bisa aku lakukan lagi bersamamu. Banyak hal yang belum sempat kita lakukan ayah. Ingatkah engkau? Ketika kita merencanakan untuk memancing di pantai? Sayangnya, belum sempat teralisasikan. Ayah, ingin aku meminta waktumu di surga. Sebentar saja. Aku ingin duduk di pangkuanmu, menyandarkan kepalaku di pundakmu, sambil engkau peluk, sama seperti ketika aku kecil dulu. Aku ingin menceritakan keluh kesahku ayah, karena banyak yang tidak bisa memahami perasaanku.

Advertisement

Maafkan aku ayah, bahkan di saat terakhirmu pun aku belum sempat mengungkapkan betapa aku menyayangimu. Tapi aku tau, kau pun tau betapa aku menyayangimu. Karena kita sama, tidak dapat mengungkapkan kesedihan dan rasa sayang kita. Namun, kita sama-sama tau ketika kita merasa sedih dan aku tau, ayah bisa merasakan bahwa ayah adalah segalanya buat aku dan aku menyayangi ayah walaupun belum terucapkan. Jika waktu bisa diputar kembali, aku ingin memelukmu dengan erat, tidak akan membiarkanmu pergi dariku ayah dan aku akan mengungkapkan betapa aku menyayangimu.

“Doakan anakmu yang masih berkarya di dunia..”