Bila mengingat masa lalu, kadang saya tertawa geli dengan apa yang sudah mereka lakukan kepada saya. Mereka (para senior, para dosen, dan para redaktur) yang sudah sering membombastis, bahkan sering menghina karya-karya saya.

Kisah dengan para senior

Pertama kali saya berkenalan dengan dunia tulis-menulis sebenarnya sudah saya lakukan semenjak SMA. Saya lihat di belakang kalender-kalender zaman dulu di kamar ternyata banyak coretan-coretan takjelas. Kemudian saya mempertajam lagi dunia tulis-menulis ini ketika saya masuk di perguruan tinggi negeri. Nah, di sinilah kemudian saya bertemu dengan para senior saya.

Awalnya saya tidak dekat dengan mereka. Saya masih canggung ketika pertama kali berkumpul dengan mereka. Saya tahu mereka orang-orang yang cerdas di bidang sastra. Mendengar percakapan dan tulisan-tulisan mereka saja rasanya sudah cukup mewakili bahwa mereka benar-benar serius berkarya.

Semester pertama, saya sering mengirim tulisan saya di mading kampus. Lama-lama ada celetukan dari salah satu senior saya, sebut saja Niduparas. "Tulisanmu di mading lumayan bagus," ujarnya. Wah, saya amat senang mendengarnya. Bermula dari sanjungan itu, akhirnya saya tekun untuk menulis. Akhirnya, saya mencoba mengirim ke media (koran lokal). Saya amat berdebar-debar setiap senin pagi— Ya, memang kolom sastra hadir setiap senin—di harian Fajar (kini Kabar) Banten. Pertama kali saya ngirim, alhamdulillah puisi saya dimuat. Saya sangat senang bahkan hingga tangan saya gemetar memegang koran itu—maklumlah baru pertama kali tulisan saya dimuat.

Advertisement

Beberapa hari kemudian. Saya dipanggil para senior perihal puisi yang dimuat di koran itu. Saya disidang habis-habisan oleh mereka. Mereka menilai puisi saya puisi anak kecil. Tidak logis. Bahasanya buruk. Selain itu, mereka juga menyinggung nama pena saya, "Pujangga". Kata mereka saya tidak pantas menggunakan nama itu. "Terlalu bangga kamu menggunakan nama itu tanpa memikirkan siapa kamu terlebih dahulu," ujar kembali salah satu dari mereka. Saya dinasihati dan disuruh agar mengganti nama pena itu.

Saya sakit hati dengan perkataan mereka. Namun, disatu sisi saya berterima kasih kepada mereka karena sudah jujur menilai tulisan saya. Kemarin saya di sanjung, kini dibantai. Dari situ saya mulai berhati-hati untuk menulis. Kata mereka saya harus banyak membaca. Jangan banyak menulis. Itu kisah saya ketika menulis puisi.

Setahun kemudian saya pun mulai berpindah menulis cerpen. Menulis puisi hanya sesekali saja kalau sedang mood. Kali ini saya belajar menulis bersama Mahdiduri, senior saya yang memang mahir di bidang cerpen (kata dukun-dukun sih begitu). Saya belajar di rumahnya seminggu sekali. "Apa yang kamu tulis ini tidak lain adalah sampah yang berserakan!" ujarnya ketika pertama kali membaca cerpen saya. Ia melempar cerpen yang sudah saya buat selama berhari-hari itu di depan saya. Betapa sedihnya saya waktu itu. Tulisan yang sudah saya buat dengan jerih payah hanya dianggap sampah begini. Dalam hati kecil, saya merasa dihina, dicampakkan. Tapi entah mengapa, saya tidak mau berpaling dan meninggalkan pembelajaran ini. "Bikin lagi yang bagus!" ujar Mahdiduri.

Sudah beberapa kali karya saya dicampakkan oleh Mahdiduri. Baru membaca paragraf awal cerpen saja, rasanya ia sudah muak. Ternyata, sampai detik ini juga karya saya masih ia anggap sampah juga. Ya, Tuhan, dalam benak saya, kini saya sedikit frustrasi dalam pembelajaran cerpen ini. Bagaimana seharusnya menulis cerpen yang ia inginkan. Akhirnya, saya berinisiatif sendiri untuk mencari kriteria tulisan yang layak menurutnya. Saya lahap cerpen-cerpen para pengarang kondang. Saya lahap juga koran-koran setiap minggu yang memuat karya sastra, khususnya cerpen. Rasanya kepala saya sudah berat berisi ide-ide yang berloncatan.

Kemudian saya pun menuliskan kembali dengan gaya bercerita seperti cerpen-cerpen yang sudah saya baca tersebut. Namun, tetap saja cerpen saya dibilang sampah. Hingga akhirnya usai sudah saya belajar dengan Mahdiduri selama tiga bulan, dan takada satu pun pujian darinya atas cerpen-cerpen saya. Ah, rasanya saya sudah lelah belajar dengannya. Saya mencoba melepaskan diri dari pandangannya terhadap cerpen-cerpan saya. Saya mencoba mengirim cerpen-cerpen yang sudah saya buat itu ke media masa. Semoga saja dimuat. Setelah menunggu selama tiga bulan. Akhirnya, cerpen saya dimuat juga di harian Radar Banten. Rasanya saya amat senang sekali. Seperti halnya puisi, saya pun bergetar memegang koran itu.

Dan beberapa hari kemudian. Kembali saya disidang di meja hijau oleh para senior meskipun sudah dimuat di media massa. Masih saja karya saya dibantai habis-habisan oleh mereka. Tidak diberi ampun. Masih saja karya saya dikatakan sampah. Buruk. Tidak logis. Ah, rasanya saya geram kepada mereka. Saya tidak peduli. Pokoknya saya akan terus menulis sampai mereka bilang, "Karyamu bagus." Seperti pertama kali Niduparas menyanjung saya.

Kisah dengan Para Dosen

Sebenarnya tidak jauh berbeda kisah ini dibandingkan dengan kisah para senior di atas. Hanya, para dosen memberikan imbalan yang pantas kepada mahasiswanya yang berkarya meskipun sebelumnya dibantai terlebih dahulu. Saya sering diperlakukan seperti itu oleh para dosen sastra saya.

Ketika puisi pertama saya dimuat, saya langsung menyerahkan kepada dosen sastra. Mengapa saya berikan? Ya, sebelumnya sudah ada kesepakatan antara mahasiswa dengan mereka. Jika ada tulisan mahasiswa yang dimuat di media masa, imbalannya mendapatkan nilai A. Wah, bagaimana saya tidak senang karya saya dimuat. Dan, apa tanggapan dosen itu terhadap karya saya. "Ah, masih biasa. Semua orang juga bisa membuat puisi seperti ini," ujarnya.

Saya hanya diam mendengarnya. Tidak ada pujian sedikit pun. "Silakan menulis lagi dengan baik," ujarnya lagi.

Saya tertantang dengan ucapannya. Saya pun kembali mengirim karya. Sebulan kemudian, tujuh puisi saya pun nongol juga. Keesokan harinya, ketika mata perkuliahannya berlangsung di ruang kelas, ia berkata, "Dari tujuh puisi itu hanya satu puisi yang saya anggap layak, yang lainnya omong kosong!"

Alhamdulillah, ada sedikit pujian darinya meskipun hanya satu puisi yang dianggap layak. Namun, tetap saja saya merasa belum puas dengan tulisan saya. Bagaimana sebenarnya karya yang ia inginkan. Saya pun sering berdiskusi dengannya, baik di waktu senggang di luar perkuliah, di facebook, atau lewat sms. Ah, masih saja karya saya dikatakan belum berkualitas. Yang lebih sakit lagi, ketika saya memberikan lima puluh puisi saya kepadanya, ia hanya berkata, "Hanya dua puisi yang saya anggap layak disebut puisi, yang lainnya omong kosong!" ah, menurut saya sudah cukup rasanya berkonsultasi dengannya sejauh ini. Saya pun berpindah dengan dosen sastra yang lainnya. Semoga saja pandangannya berbeda.

Lima puluh puisi saya tersebut, saya berikan kembali kepada dosen sastra lain yang saya anggap memang mahir. Namun, kali ini tulisan saya diperlakukan lebih parah dari yang sebelumnya. Semua tulisan saya dicorat-coret tanpa ampun. Padahal dosen itu hanya membaca judulnya saja, belum membaca isinya.

"Ah, judul puisimu saja sudah mirip judul lagu! Kalau mau bikin lagu, bikinlah lagu! Kalau mau bikin puisi, bikinlah puisi!" ujarnya sambil mencorat-coret tulisan saya. "Kamu jangan banyak nulis, banyaklah baca buku!" katanya lagi.

Saya hanya bisa diam. Kapan tulisan saya bisa dianggap layak di mata mereka. Kapan tulisan saya bisa disanjung. Ah, lagi-lagi saya sedikit frustrasi. Dan janji memberikan nilai A bila karya dimuat di media masa hanya ujaran belaka. Tetap saja nilai A yang saya dapatkan adalah hasil dari nilai ujian saya. Bukan dari karya saya.

Dan saya akan terus menulis, supaya mereka bisa bilang, "Karyamu bagus." Seperti pertama kali Niduparas menyanjung saya.

Kisah dengan Redaktur

Sudah sering sekali tulisan saya ditolak mentah-mentah oleh para redaktur. Baik koran, majalah, atau pun yang lainnya. Ada yang mengatakan naskah saya tidak sesuai dengan kriteria. Ada yang mengatakan naskah saya tidak layak muat. Ada juga yang tidak membalas sama sekali naskah kiriman saya. Itu memang sudah menjadi hal biasa bagi seorang penulis yang mengirimkan naskahnya.

Namun, ada hal yang tidak saya terima dari salah seorang redaktur yang pernah memuat karya saya. Tanpa konfirmasi terlebih dahulu, ia dengan sesuka hati mengacak-acak cerpen saya. Ia mengubah ending cerita dengan sesuka hati. Dampaknya saya dipanggil lagi oleh para senior. Kata mereka, "makin parah!"

Saya mengatakan kepada mereka kalau cerpen saya diubah ending ceritanya oleh redaktur sehingga isinya berbeda dari naskah yang asli. Waktu itu saya amat kecewa dengan redaktur yang dengan seenaknya mengubah alur cerita cerpen saya. Sejak itulah redaktur itu tidak pernah memuat kembali cerpen saya perihal saya komplen lewat email-nya. Redaktur itu tidak sedikit pun meminta maaf atas perbuatannya. Tapi, tak mengapa, saya akan terus menulis hingga para redaktur itu tersenyum membaca karya saya dan mengatakan, "Tulisanmu bagus!" Seperti pertama kali Niduparas menyanjung saya.

Sekarang

Setelah melewati perjalanan yang begitu melelahkan. Impian saya menjadi seorang penulis sedikit demi sedikit mulai saya rasakan. Dari kekejaman mereka ternyata mampu membuat saya tetap bangkit untuk terus menulis. Kini saya tahu Mengapa mereka memperlakukan seperti itu. Rasa sayang ternyata tidak hanya ditunjukkan dengan sebuah “belaian”, tetapi juga bisa dengan “tamparan”. Tampaknya hal itulah yang mereka lakukan kepada saya.

Kini, perjalanan panjang itu sudah saya lewati. Beberapa tulisan saya kini beberapa kali menghiasi media lokal dan nasional, serta beberapa pula yang masuk antologi. Selain itu, saya juga sering diundang menikuti even-even kepenulisan, di antaranya Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) bidang cerpen tahun 2013 lalu di Bandung. Itu hal yang di luar dugaan. Saya semakin bertambah semangat saja. Saya sudah tidak butuh lagi sanjungan dari mereka. Senyuman dari mereka terhadap tulisan-tulisan saya kini, sudah saya rasa cukup mewakili kalau mereka memberikan sanjungan. Kini saya sadar, bahwa sanjungan terindah dalam hidup saya adalah ketika mereka mengatakan bahwa tulisan saya "sampah!" Hal itulah yang akan membuat saya terus menulis!