Kau tau jalan ini terlalu rumit untuk kau lalui, lalu kenapa kau masih saja melaju? Sudahkah kau bertanya pada hatimu? sudahkah kau yakin akan jalanmu itu? Kini, kau mengadu mengeluh: "tersesat aku menujumu". Kau kutuk keadaan yang tak lekas jua memberikanmu jawaban. Dalam diam, dalam perenungan, kau biarkan perempuanmu menunggu tanpa sepatah katapun, tanpa kabar apapun. Perempuanmu menitikan air mata, namun tetap lugu menunggumu meski gerimis membasahi tubuhnya yang sudah kuyup itu. Sampai akhirnya seperti yang lalu-lalu, kau dan perempuanmu bertemu seolah tak terjadi sesuatu: tertawa, bercanda, bertukar cerita, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Kau dan perempuanmu, sungguh, aku tak mengerti dengan jalan pikirian kalian itu.

Di luar, sore semakin mistis. Hamparan langit luas menumpahkan bulir-bulir air yang kita sebut sebagai gerimis. Di ujung jalan, perempuanmu menunggu dengan membawa sekotak kebahagiaan yang akan dia bagi, padamu. Akankah kau membiarkannya menunggumu tanpa kabar seperti yang lalu-lalu? Sementara, langit terus saja menumpahkan bulir-bulir gerimis yang sedari tadi belum juga habis. Dimana kebijaksanaanmu yang dulu sering kau khotbah-khotbahkan padaku? Sungguh! Sungguh, aku kasihan sekali terhadap perempuanmu itu. Kau tau, betapa ia begitu menyayangimu, bahkan rela melawan takdirnya demi memperjuangkan cintamu. Apa kau tau itu, hah? Jujur saja, tak jarang perempuanmu itu aku pisuhi. Kenapa perempuanmu bisa sebodoh itu memperjuangkanmu, sementara kau hanya duduk diam bak seorang pecundang. Salah jika aku menyebutmu pecundang? Salah jika aku menyebutmu tak punya hati? Ah, maaf, jika kata-kataku seperti orang yang tak berpendidikan. Sekali lagi, aku hanya merasa kasihan.

"Kau seperti bisikan Tuhan yang selalu mampu menggetarkan seluruhku, menentramkan hati yang tak tentram. Tanpa tau mengapa, dan bagaimana. Bila kau tersesat dan tak menemukan jalan menujuku, maka biarlah aku yang menemuimu."

Kutemukan kalimat tersebut pada selembar kertas milik perempuanmu yang tanpa sengaja jatuh tepat di depanku. Aku yakin itu untukmu. Jika kau tak mampu menjaga hatinya atau tak mampu memberinya (setidaknya) setitik kebahagiaan, apa lagi yang perlu dipertahankan? Jika kau tak mampu melepasnya karena kasihan, salah. Itu, justru menorehkan luka di hatinya. Biarkanlah Ia, perempuanmu, menemukan kebahagiaannya di luar sana, jangan kau ikat hatinya. Sebagai seorang yang cukup mengenal dekat kalian berdua, aku miris sekali melihatnya. Sebenarnya, apa yang kau inginkan dari perempuanmu itu? Apa yang perempuanmu inginkan dari seorang lelaki sepertimu? Kenapa harus menjalin hubungan bila pada akhirnya saling menyakitkan. Barangkali, kalian hanya butuh duduk berdua dan bicara. Itu saja.

Beberapa waktu lalu, perempuanmu menemuiku dengan mata berkaca-kaca dan isak yang tertahan di dada. Ia sandarkan tubuhnya pada tembok berwarna hijau muda: Ia tampak begitu lelah. Pelan-pelan, ia mulai bercerita, menumpahkan segala yang memberatkan seluruhnya. Dengan sedikit perasaan kesal aku mendengarnya, api di dadaku mulai menyala-nyala. Betapa aku merasa iba dan kasihan melihat perempuanmu mengisahkanmu dengan titik-titik air mata dan bibir yang bergetar. Aku mempuk-puk bahunya, mencoba menyabarkan dan menguatkannya. Kau tau? Seharusnya kau tahu hari ini adalah hari ulang tahun perempuanmu, dan sialnya kau lupa itu. Lagi-lagi, kau jadikan pekerjaanmu sebagai alasan untuk tidak menjadi orang pertama yang mengucapakan kalimat puitis yang amat ditunggu-tunggu perempuanmu. Ingin kusampaikan bagaimana dan seperti apa kau di luar sana, tapi aku tak sampai hati untuk menyampaikannya. Aku tak kuasa menahan ucapan-ucapanku: pelan, aku memisuhimu. Kalian berdua itu, Ya Tuhan, gemas aku.

Advertisement

"Dalam cerita ini, aku yang protagonis seolah terus dipaksa untuk memerankan tokoh antagonis."

Mengenai kalian berdua, ah, sudahlah. Semoga Tuhan Yang Maha Bijaksana memberikan pencerahan saja. Aku mau melanjutkan pekerjaanku yang sebenarnya aku malas untuk mengerjakannya. Jika kau kebingungan mencari perempuanmu, dia ada di rumahku dengan isak yang sejujurnya sangat menganggu pekerjaanku. Lekaslah datang, mohonlah ampun. Jangan sampai Tuhan turut turun tangan, dan menghakimimu tanpa ampun.

Untuk perempuan bermata sendu dan lelaki berhati batu. Dariku, kawan yang kini tengah berkelana ke belahan bumi paling bisu..