Bapak menikahi emak 34 tahun silam saat belum mapan, hingga kini menua bersama hasil jerih payahnya sebagai wong cilik. Meski memilih untuk tetap memeras keringat di tengah panasnya ladang, tubuh renta lelaki 57 tahun itu tak pernah menyesal sama-sama membesarkan dua buah cintanya dengan emak sejak masa-masa sulit. Hingga kini, telah menimang dua cucu cantik kebanggaannya dari si sulung. Itulah pula yang menjadikan kami, aku (23) dan mbak Tira (33), kenyang merasakan betapa ajaibnya kekuasaan Allah Swt. Sebab kami dibesarkan bersama kesulitan-kesulitan bapak dan emak (53). Kini kami paham bahwa hidup adalah perjuangan, seperti yang dikatakan Adriano Rusfi seorang ustadz, psikolog dari UI, sekaligus konsultan SDM dan pendidikan.

Meski kakak perempuanku tidak menamatkan pendidikan hingga sarjana dan hanya sebatas SMEA (sekarang SMK), namun perhatian emak dan bapak terhadap dunia pendidikan teramat besar untuk dua putrinya. Bapak yang kelahiran Gunung Kidul, Yogyakarta bahkan tak sempat mengenyam pendidikan saat itu. Sebab di masanya, anak dusun Ngleri, seusia bapak sudah harus membantu orang tuanya mencari sesuap nasi

Ditambah, bapak adalah putra kedua dari 5 bersaudara. Di tanah transmigrasi-lah bapak berkesempatan mengecap manisnya pendidikan non formal bersama salah seorang temannya yang pandai berhitung dan berbahasa Inggris di kampung halamannya, Purwodadi, Musi Rawas. Pun emak, wanita cerdas itu baru sempat duduk di bangku sekolah dasar saat berusia 10 tahun karena keterbatasan tenaga pendidik dan fasilitas desa. Namun semangatnya untuk belajar tak pernah redam, ia juga sempat aktif dalam dharma wanita desa Sadar Karya, kecamatan Purwodadi (P), Musi Rawas. Emak juga aktif sebagai pengurus dalam Pembinaan Kesejahteraan Keluarga desa Sadar Karya. Semasa remaja, emak aktif mengikuti kursus menjahit.

Jika bapak seorang pemain musik seperti Soneta pada zamannya, tak jauh beda dengan emak. Aku bangga dengan lengking suaranya yang merdu saat membaca Kalamullah, pun saat bersholawat, sebab ia dulu adalah pesinden pada kelompok seni Pujakesuma di desa kami. Semasa kanak-kanak, aku sering diajak emak keliling desa untuk menghadiri undangan pentas Campursari di hajatan-hajatan. Aku juga salut pada emak, ia yang belum berhijab keluar rumah saat itu, menolak lembut ajakan lelaki lain untuk jaipongan dengan emak. Ia hanya duduk manis saat melantunkan tembang Jawa bahkan 'bowo' dengan memangku kepalaku yang pulas disisinya. Bukan saja aku, sahabat emak yang kusapa Bu 'de Mar itu pun mengatakan demikian.

Aku akui, masa kecilku terbilang bahagia meski dengan berbagai kesulitan. Sebab, saat emak sedang latihan 'nyinden' di rumah, semua properti dapur seperti panji, baskom, piring, sendok, dan rekan-rekannya hijrah ke ruang tamu. Bapak menemani emak dan 'momong' aku yang sedang asyik mengiringi tembang Jawa yang emak lantunkan. Kini emak tak lagi aktif menyanyi, ia hanya ibu rumah tangga biasa yang lebih suka membantu bapak mengurus ladang, itupun bukan ladang sendiri tetapi juga bagi hasil dengan tetangga yang membutuhkan.

Advertisement

Terima kasih, Ya Allah… Engkau telah mengirim dua malaikat yang berharga bagi kami. Semoga Engkau menyiapkan surga untuk pahlawan hidupku itu, terutama emak yang telah mengandung, melahirkan, merawat, dan menjaga kami hingga dewasa. Mampukan kami membahagiakan keduanya. Semoga esok atau lusa, kami berkesempatan membawa keluarga besar ke Baitullah. Aamiin Allahhuma Aamiin.

Jadikan tahun ini tahun terindah bapak dan emakku, sebagai kado pernikahan keduanya, dengan ditetapkannya aku sebagai wisudawati dari fakultas Dakwah dan Komunikasi, program study Jurnalistik UIN Raden Fatah Palembang. Teringat 4 tahun sebelumnya, aku terisak memohon pada Allah agar menghendaki aku untuk menimba ilmu hingga tamat sarjana sehingga mendapat jaringan yang luas. Melalui bapak aku utarakan niatku untuk melanjutkan pendidikan tingkat Perguruan Tinggi.

Ekonomi yang menurun membuatnya terpaksa mematahkan impianku sebagai penulis dan jurnalis. Walau faktanya, untuk menjadi seorang penulis tak harus berkuliah tinggi, namun aku tak mau setengah-setengah membangun istana impian. Hingga aku berhasil meyakinkan bapak dengan bantuan emak yang tak henti mendukung usahaku membujuk bapak tuk mengizinkanku mengambil beasiswa BIDIKMISI dari pemerintah DIKTI.

Hidup prihatin yang telah ku jalani sedari kecil, dan jauh dari orang tua sejak SMA membuatku ‘enteng’ menjalani setiap roda hidup yang terus berputar. Dari menjajakan gorengan keliling kampus, menjadi petugas gerai zakat dari Dompet Peduli Ummat Cabang Palembang pun pernah ku lalui. Dan bagiku itu sungguh menyenangkan. Sambil terus mengasah bakat yang Allah turunkan padaku sejak kecil, menggores tinta dalam kata, aku juga sempat menjadi reporter untuk radio milik pemerintah yang ada di Palembang. Turun ke lapangan dan melakukan live report di tengah kemacetan lalu lintas sudah hal lumrah bagiku. Terik matahari, terpaan angin dalam butir hujan bahkan sudah menjadi karibku. Hingga kini, aku menemukan pekerjaan yang sesuai passion dan hobiku. Menjadi jurnalis, berusaha aktif melahirkan karya yang siap dibukukan, dan memperbaiki diri merupakan aktivitasku.

Bukan untuk berbangga-bangga atas pencapaianku belum seberapa, semua ini ku lakukan sebab anak-anakku kelak berhak lair dari rahim wanita tangguh. Pun ilmu dan pengalaman yang ku dapatkan saat ini, bukan untuk menandingi ayah dari anak-anakku kelak, melainkan untuk mendidik anak-anak agar mereka juga tahu betapa kerasnya hidup dan tak mengalami nasib kurang baik seperti yang sempat ku alami. Tulisan ini bukan untuk menyombongkan bagaimana aku, tetapi lebih kepada pesan kepada sahabat sekalian, agar mensyukuri segala hal yang ada dalam hidup ini. Fokus dan sungguh-sungguh menjalani setiap apapun yang diamanahkan kepada kita. Selalu melibatkan Allah, berusaha juga menolong agama Allah. Insya Allah, DIA akan menolong kita. Biidzmillah…

*Pipit Sukirno