Berawal dari siang itu. Kau tatap aku dengan sopan santunmu. Hatiku bergetar tiada dapat tertahan. Hingga pada suatu ketika, ikatan ini menyatukan kita. Kita berjalan, tertawa, berbagi bersama. Tiada bosan kau mengingatkan aku akan lupa yang mendera. Tiap menit hari berganti, kita lewati bersama. Engkau membanting tulang belulang yang kau punya hanya tuk dapat menjadikan aku sebagai dekapan hangatmu yang sah lahir dan batin serta sah hukum dan agama.

Tiap tetes yang kau curahkan, sebanyak itu pulalah ku panjatkan doa-doa tulusku kepada Ilahi. Sore itu kau pulang dari rumahku, setelah kita melewati waktu untuk bercanda ria bersama. Di perjalanan, kau mengalami kecelakaan dan meninggal. Betapa miris dan perih hatiku, serasa tak mampu lagi untuk berkata-kata. Aku hanya bisa menangis dalam doaku, semoga kau bahagia dan tenang di sana.

Hingga detik ini, aku masih tak mampu untuk menghapus semua kenangan dan mimpi-mimpi indah yang kita rangkai bersama kala itu. Cercaan, cacian dan hinaan selalu merayu telingaku. Umurku sudah begitu tua, namun tak pula aku bersuami. Sejujurnya Allah, hati ini masih kuikat hanya untuk dia. Dia yang telah dulu kau ambil. Dia yang hanya mampu membuatku percaya.

Dia yang hanya mampu membuatku hidup dan dia yang hanya mampu melukis senyum di wajah kusamku ini. Sungguh aku tak pernah peduli dengan semua gunjingan dan pertanyaan-pertanyaan itu. Aku hanya tahu, hati ini hanya milikmu, dan masih tetap untukmu. Hingga napas terakhirku, biarkan aku menjaga cinta suci ini, karena aku yakin. Allah akan mempertemukan kita di surga.