Halo, apa kabar om? Saya harap baik-baik saja bersama tante dan anak-anak om.

Kalimat diatas hanyalah segelintir dari pesan yang saya kirimkan untuk Anda dan yang selalu saya harapkan hingga saat ini agar “om” pada pesan tersebut dapat berganti dengan panggilan “Ayah”. Akan lebih nyaman perasaan ini, ketika seorang anak yang telah ditinggalkan oleh ayahnya saat duduk di bangku Sekolah Dasar dapat memanggil sebutan “Ayah” kepada Anda, selain pada almarhum Ayahnya sendiri.

Saya hanya dapat membayangkan dan begitu indahnya saat dapat bercengkerama dengan Anda dan saling tawa dalam situasi menyenangkan, juga dapat memanggil Anda “Ayah” dengan bebas tanpa ada kecanggungan.

Halo, ayah apa kabar? Ayah sehat kan? Ayah lagi ngapain? Ayah jangan sering begadang buat kerja ya. Dijaga kesehatan Ayah. Aku kangen Ayah.

Akan seperti itulah yang saya utarakan via telepon atau pesan di smartphone ini, ketika saya dapat memanggil Anda dengan “Ayah”. Saya begitu merasakan perbedaan yang cukup signifikan pada mood ini ketika mengutarakan hal-hal semacam itu diikuti dengan kata “Ayah”.

Advertisement

Tapi apakah mungkin saya merasakan hal tersebut? Mungkinkah saya dapat memanggil Ayah pada orang lain yang mana tidak ada hubungan darah dan tidak akan ada kecanggungan dalam perucapan ini? Mungkinkah bisa?
Sering saya tanyakan hal tersebut pada diri saya sendiri, hanya menggerutu dalam batin dan saya tidak berani menceritakan hal ini pada orang lain, kecuali pada tulisan ini.

Sempat saya berikan contoh pertanyaan yang serupa dan saya tanyakan pada orang-orang yang ada disekitar saya. Tentu kesan mereka akan menganggap aneh atau gak mungkin atau gila, tapi beginilah adanya.

Mungkin ini ungkapan perasaan dari seseorang yang telah lama ditinggal pergi oleh Ayahnya dan merasa kurang akan perhatian seorang pria yang biasa ia panggil Ayah. Atau mungkin ini hanyalah fantasi seorang anak tanpa kehadiran ayah yang dikarenakan banyaknya penipu di sekelilingnya.

Untuk Anda yang sangat ingin saya panggil Ayah. Apakah anda merasa aneh, ketika ada orang lain tiba-tiba ingin memanggil anda Ayah? Apakah anda akan menjauhi orang tersebut atau sekedar berperilaku sewajarnya saja? Sebetulnya saya tidak mengerti dengan apa yang ada dipikiran Anda, saya hanya mencoba untuk selalu berpikir positif dengan segala kondisinya.

Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Anda atas segala keramahan yang telah diberikan kepada saya, saya tidak mengerti apa yang sedang Anda pikirkan ketika membalas pertanyaan dari saya dan saya tahu pertanyaan-pertanyaan yang saya berikan sebenarnya kurang penting. Akan tetapi, terima kasih atas balasan yang Anda berikan, Anda sudha berhasil membahagiakan saya walaupun hanya membalas sekali.

Terima Kasih juga karena Anda juga pernah menanyakan kondisi saya, disitu saya merasa teramat bahagia dan merasa kehadiran saya sudah diterima.

Saya juga ingin meminta maaf atas apa yang sudah saya lakukan kepada Anda. Mohon maaf ketika saya banyak mencuri waktu Anda, bahkan menganggu aktifitas Anda. Maaf atas segala perilaku saya.

Jika Anda sempat atau Anda ditunjukan tulisan ini, saya ingin mengatakan bahwa Saya merindukan Anda dan apabila diperkenankan, Saya ingin memanggil Anda “Ayah”.