Ibuk,Bapakku yang semakin keriput,kuharap kalian selalu sehat dan bahagia. Melihat uban di kepala kalian mulai membuatku sedih. Kenapa dunia terlalu cepat berputar? Padahal aku masih ingat bagaimana ibuk memarahiku ketika aku pulang dengan badan penuh lumpur. Aku juga ingat ketika bapak marah melihaku memanjat pohon jambu yang tinggi itu. Buk, Pak….aku rinduk pulang ke badan kalian.

Sangat banyak hal yang aku pikirkan sekarang Pak. Kini aku tahu bagaimana rasanya sulit mencari uang untuk makan. Buk,sekarang aku juga faham kenapa Ibuk selalu marah ketika aku dan adikku sering membuat rumah berantakan. Aku sekarang juga merasakan bagaimana sulitnya membereskan rumah dan harus mengerjakan banyak hal. Mungkin yang aku rasakan tak seberat apa yang kalian rasakan. Tapi yang aku tahu, apa yang kalian lakukan padaku dan adik-adikku lebih sulit dan lebih melelahkan dari hidupku kini.

Pak,Buk…aku sangat ingin bercerita pada kalian. Tapi aku takut, aku takut kalian terbebani oleh ceritaku. Biarlah kutulis ini sebagai narasi yang tak perlu kalian baca. Karena aku yakin, kalian tak akan tega melihaku begini. Kerena aku sadar,Bapak tak ingin melihatku menangis.

Pak,Buk…aku sangat ketakutan menghadapi dunia ini. Aku takut akan setiap masalah yang akan hadir silih berganti. Aku takut bertemu orang-orang. Ntah kenapa,rasanya semua hal yang kalian ajarkan padaku sia-sia. Kejujuran,kasih sayang dan segala hal yang kalian bicarakan padaku,tak berlaku dalam duniaku. Apa dunia ini begitu kejam Pak? Atau Bapak dan Ibuk selama ini mengajarkan hal yang salah padaku? Tapi kenapa semua tak sepeti teori yang kalian ajarkan?

Pa,Buk aku takut menjadi dewasa. Semua kini begitu nyata. Ntah kenapa semua terasa berat dan penuh beban. Buk, bolehkah aku berhenti tumbuh? Bolehkan aku merasakan peluk ibuk dan bapak selamanya? Bolehkan aku selalu akan menjadi anak gadis bapak yang selalu tidur di bahunya ketika lelah mengejar layang-layang? Atau bolehkah aku menjadi anak ibuk yang nakal? Menjadi anaknya yang selalu ia marahi ketika aku pulang ke rumah dengan badan penuh tanah. Aku rindu ketika aku bisa tertawa lepas tanpa kepura-puraan. Aku rinduk ketika diriku penuh dengan teman-teman yang selalu membawakan kebahagiaan padaku. Aku ingin sekali mengulan masa-masa dimana aku tak peduli ketika hujan mengguyur badanku,atau ketika badaku penuh lumpur . Aku menginginkan masa-masa ketika aku terluka,yang sakit hanya badanku,bukan hati atau otakku.

Advertisement

Pak,Buk…kalau nanti aku pulang,bolehkah aku tidur dalam dekap kalian? Aku ingin sekali mendengar Bapak bernyanyi. Dan aku juga berharap tangan Ibuk tidak berat untuk mengelus rambutku. Pak,Buk… aku ingin pulang.