Perempuanku, apa kabar? Tentunya aku mendoakanmu untuk selalu baik-baik saja. Di sini, aku sedang duduk di halaman rumah, ditemani kopi yang dingin, yang kelak diseduhkan oleh tanganmu.

Perempuanku, sudah berdamaikah kamu dengan Tuhan? Atau masih mencari alasan dan waktu yang tepat untuk berdamai? Aku pun sama, masih mencoba dan berusaha. Adakah baik beragamamu, atau belum, aku tak mengapa. Bila kelak saat bertemu kita belum baik, mari belajar bersama.

Aku percaya, setiap manusia memiliki celah untuk salah. Jangan malu, mari saling memperbaiki diri.

Perempuanku, adakah kamu masih menjaga sucimu? Halal haram hubungan lalumu, ya, aku sebagai calonmu mungkin berhak untuk tahu.

Bila saja kesucian itu gagal kamu jaga, aku tak mengapa. Sejujurnya, aku sangat tak apa. Selama kamu mampu mencintaiku seutuhnya, sungguh tak apa. Tiap manusia memiliki titik tersalah dalam hidupnya.

Advertisement

Aku pun sama. Memiliki salah yang mungkin bisa dikategorikan sebagai dosa.

Harusnya cinta mampu menerima, bukan?

Dan aku yakin, hati tak ada bekasnya; selalu murni, tak terpengaruhi hal-hal ragawi. Sebagai laki-laki, tentu aku ingin utuhmu lahir batin. Tapi aku sadar, aku pun tak utuh. Aku pun tak sebaik itu. Dan sebagai manusia, aku ingin diterima selapang aku menerima.

Perempuanku, adakah aku pantas buatmu? Atau tidak? Aku tak pernah tahu.

***

Banyak rintangan ketika aku ingin memilikimu, namun aku tak menyerah!

Kini, aku tengah membenahi, memantaskan diri untuk bisa kamu miliki.

Dan aku masih tetap mencintaimu, kini hingga nanti.