“…Saat kau terpuruk dan terjatuh,

Pakai pundakku dan kita lawan terpuruk itu..

Saat beban penuhi pundakmu,

Genggam bahuku dan kita bagi bebanmu itu..

Karena TUHAN tahu kita mampu, kita mampu..”

(Ali Sastra feat the Jenggot)

Demikian lagu itu mengalun begitu saja. Entah liriknya telah menancap di sudut hati yang mana, yang aku tahu tiba-tiba ada air mata yang mengalir dan menderas.

Hai, kamu wahai diriku?

Bagaimana keadaanmu? Em, maksudku kabar hatimu (mungkin)?

Semoga tidak lagi sesak. Harapku sudah tiada lagi luka yang menyesakkan. Aku paham apa yang telah membuatmu gusar. Ya, aku paham. Karena aku dan kamu adalah satu sosok yang sama-sama menempati tubuh ini.

Advertisement

Aku tahu sungguh tak mudah untuk memaafkan diri yang penuh dengan cela, banyak sekali kurang, hingga bejibun kesalahan. Aku mengerti bahwa kamu seakan-akan ingin mengumpat dan menghakimi alpa yang telah banyak dilakukan tubuh ini. Aku paham bahkan rasa-rasanya kita ingin pergi saja, menghilang, jauh. Tak siap lagi menempati tubuh yang buruk.

Aku mengerti yang kamu rasakan wahai diriku.

Sedikitlah lebih tenang, sabar, dan bijaksana. Mari mendewasa.

Berlari hanya akan membuatmu lelah. Akan sampai dimana kamu berhenti, kau tak lelah dengan waktu yang terus memburu? Sedang larimu itu juga tidak membuatmu merasa lebih baik, bukan? Berhentilah. Mari kita duduk dulu. Hati kita juga memiliki hak nyaman yang harus kita penuhi.

Wahai kamu diriku, maukah memaafkan segala khilaf yang dilakukan tubuh ini di masa lalu?

Em, bukan sebab apapun, tetapi untuk dirimu sendiri. Untuk kenyamanan hidupmu, ketenangan hatimu, kemudahan jalanmu, dan biar tiada lagi yang memberatkan langkahmu yang ingin beranjak maju.

Kau harus tahu bahwa indah itu saat kamu mampu berdamai dengan keadaan. Entah seburuk apapun itu. Indah itu saat kamu siap menerima se(si)apapun, tanpa perlu berlari. Bukankah takdir akan tetap berlaku sedemikian rupa, entah kita akan suka atau tidak? Maka, terima saja sebagai serangkaian proses pendewasaan diri. Mau sampai kapan bila ada sedikit hal buruk saja, kamu memilih berlari? Melelahkan. Kau tahu itu melelahkan, kan?!

Wahai kamu diriku, apa kau tahu bahwa aku menangis melihatmu terpuruk dengan masa lalu? Kamu tahu aku menangis dan sangat marah saat kamu memilih berlari, hanya untuk karena tidak siap membahas masa lalu?

Wahai diriku sayang… Aku ingin kamu memaafkan semua masa lalu yang diperbuat oleh tubuh ini. Aku hanya ingin melihat kamu benar-benar nyaman tanpa dibuat. Kamu tahu salahnya dimana? Kamu… Yang salah adalah kamu, bukan masa lalu itu. Ya, kamulah yang salah. Kamu sendiri yang membuat hidupmu menjadi sesesak ini, semenyakitkan ini, setidakmembahagiakan ini. Mengapa? Karena kamu belum bisa berdamai dengan masa lalu.

Wahai diri.. Berdamailah. Terimalah dirimu. Apapun itu. Bukankah hidup adalah serangkaian proses perjalanan? Dan proses tidak selamanya meninggalkan cerita indah dan yang baik-baik saja. Akan tetap ada proses dimana kadar iman kita diuji. Hingga akhirnya kita akan di hadapkan pada pilihan, menjadi sisi baik atau mengikuti suara jahat dalam diri. Hm.. Satu hal, aku pernah mendengar kata orang bijak di luar sana bahwa :

Setiap diri pasti ingin menjadi sosok yang baik, tetapi keadaan menghimpit yang mengalahkan egonya hingga dia justru menjadi kebalikan. Sosok buruk.

Ya, dalam proses kita akan bertemu dengan kondisi yang sangat susah untuk kita terima. Hingga kita meminjam peran untuk menjadi orang lain karena kita tidak siap. Manusia seringkali terlenakan hal itu.

Wahai diri, sudahlah, jangan terus meratapi masa lalu yang buruk itu. Karena jika kau berlama-lama berada di sana, kapan beranjak? Kapan akan memiliki kisah baik yang kauinginkan itu? Kapan kamu bisa benar-benar bahagia bukan pura-pura bahagia? Sudahlah, meratapi masa lalu kadang juga akan membuat kita terbelenggu di kesalahan yang sama. Saat tiba-tiba kita merasa tidak menerima keadaan, dan kita memilih berlari lagi. Maukah kau hidup dengan disandingkan kisah buruk dalam hidupmu? Tidak ingin bukan?

Maka, marilah beranjak.

Wahai kamu yang menempati tubuh ini, genggam erat tanganku. Mari beranjak, menyikapi dengan bijaksana. Semua itu hanya masa lalu. Tak apa. Bukankah yang terpenting sekarang adalah masa depan yang merupakan akumulasi dari prosesmu masa kini? Dan tentang masa lalu itu, biarkan. Tinggalkan ia di sana, di masa yang kau tidak akan kembali lagi. Aku tetap bangga kepada kamu yang sudah berkemauan keras untuk menjadi baik. Namun kemauan harus dibarengi usaha sekeras itu pula.

Wahai kamu, kalau dalam perjalanan kau jumpai lelah. Istirahatlah sejenak. Tenangkan dirimu. Jangan mengambil keputusan saat kau lelah dan terhimpit, karena itu akan (bisa jadi) membuatmu melakukan kesalahan. Jadi, lebih baik kau istirahat dulu dari perjalananmu. Pikir dan renungkan telah sejauh apa kamu mengusahakan hidupmu. Telah sekeras apa kamu membuat kisah baik dalam hidup. Hingga kau mendapati bahwa tak akan pernah ada alasan kamu untuk menodai kisah dengan hal buruk lagi.

Hingga kamu akan sampai di ujung perjalanan nanti dan kamu memberitahu ke banyak orang bahwa kekuatan sejati adalah ketaatan tubuh menjalankan perintah dan menerima kehendak Tuhan. Menjadi sebaik-baiknya hamba. Bahwa tubuh kita ini hanyalah titipan. Bukankah titipan sudah seharusnya kita jaga dengan sebaik-baiknya?

Kita hanya meminjam dan selayaknya saat kita mengembalikan pada Tuhan, ia dalam keadaan yang lebih baik.

Wahai diriku di masa lalu, aku memaafkanmu. Doakan aku agar mampu mendewasa setiap waktu.

Dari diriku yang masih terkenang buruknya masa lalu