Di ujung lelahku akhinya aku mundur pelan dalam langkah. Aku mengerti tak ada yang mampu kita pertahankan kala kau hanya menyayangiku tanpa pembuktian. Bukankah kita telah sama-sama dewasa dalam hubungan? Bukankah keseriusan itu harusnya telah tertanam di hatimu?

Entahlah, aku mengerti kala ku dirundung rindu dan tak tahu harus kusampaikan pada siapa. Kau tak pernah menjadikanku prioritasmu bahkan kau hanya memberikan janji bahwa kau akan kembali. Kapan?

Dalam penantian panjangku akan hadirmu ku temukan setitik cahaya. Sahabat yang menemani bahkan menguatkan diriku akan ketidakpastianmu itu. Tanpa kusadari dia berani memintaku pada orang tuaku. Bahkan dia tak peduli akan penolakan yang akan terlontar pada bibirku.

Dia yang kuanggap sebagai teman biasa mampu memberiku akan indahnya masa depan dengannya. Tetapi dirimu, yang kukagumi melebihi apapun tak mampu memberikan kejelasan akan hubungan kita.

Maafkanlah… bukan aku tak mampu menunggumu seabad bahkan dalam kurun waktu lebih lama lagi melainkan waktupun memaksaku untuk segera pergi.

Advertisement

Yakinlah.. pengunduran diriku tak akan berpengaruh banyak pada kehidupanmu. Toh, saat ini kau merasa baik-baik saja tanpa diriku.

Berhentilah untuk terus memaksakan hatimu pada keyakinan bahwa kau akan kembali padaku. Merenunglah akan kepergianku agar kelak tak ada wanita yang bernasib sama sepertiku. Seandainya kau tau menunggu tanpa kepastian itu sulit bahkan sakit. Banyak waktu terbuang akan ketidakpastian itu.

Izinkan aku menghapus jejak kaki yang telah tertoreh kuat pada memori tentang kita.

Biarlah waktu yang menghapus rasa kecewa kita

Biarlah waktu yang mengajarkan berdamai pada kenyataan

Biarlah waktu yang mengajarkan kita bahwa yang tak terduga lebih indah

Biarlah waktu yang mengajarkan padamu bahwa kepastian itu indah