Jatuh cinta bukan hal luar biasa yang patut dirayakan dengan soundtrack lagu-lagu romantis. Kalau saja mereka ingat, akan ada seribu luka yang mengekor dibelakangnya. Semakin panjang waktunya, semakin panjang pula luka-luka itu akan menyayat sisi batinmu.

Ini catatan kaki dari seseorang yang sedang berhadapan dengan muka kedua jatuh cinta. Rindu.

Sering kali rindu menjelma menjadi sosok yang lembut, setia, dan menghangatkan. Ketika dia datang dengan jubahnya yang penuh angan indah saat nanti ada pertemuan. Menyeruak pelan, menggetarkan nadi kita, mengalunkan simponi khasnya yang bernada sendu. Namun, tidak jarang. Ketika waktu seakan tidak sudi memberi ruang hanya sekedar untuk bertegur sapa, Rindu, menjelma sebagai mata pisau, yang bisa kapan saja menghujam begitu dalam. Semakin dalam, dan tanpa belas kasihan.

Belum lagi, ketika harus berhadapan dengan kenyataan, Rindu yang bertepuk sebelah tangan. Bukan hal tabu. Cinta itu bermuka seribu. Selain rindu, ada bosan yang juga membayangi. Terlalu lama ditikam rindu, perasaan itu berubah wujud menjadi lebih memuakan. Rasanya enggan lagi berurusan dengan rindu, terlalu letih untuk kembali merengek, memeluk boneka pemberianmu, dan berharap waktu mau membagi dirinya untuk sekedar aku dan kamu bertemu.

Hingga,

Advertisement

Aku putuskan untuk menikmati rindu yang semakin semu. Aku perlu diam, dan rasakan setega apa rindu menikam batin yang terlanjur terluka. Membiarkan pita kasih semburat teriris-iris tajamnya rasa yang terlalu lama tersimpan. Merelakan semua mimpi jatuh terberai, dan memaafkan. Mungkin sudah sampai dibatasnya. Ketika senja menjemput, dan selamat tinggal harus menjadi jalan.