Hari itu, perpisahan kita diiringi tangis yang menyesakkan. Tangisku akan keputusanmu yang tak bisa kuubah, pelukku yang tak meluluhkanmu dan cintaku yang tak bisa lagi kau rasakan. Kau tepis segala harapan dan doa yang selalu kita panjatkan agar kita bisa bersama selamanya.

Aku telah melakukan segala hal yang bisa kulakukan untuk mempertahankanmu, aku bagaikan pengemis yang memohon agar kau tidak pergi meninggalkanku

Kau berjanji bahwa "putus" adalah status, kau berkata bahwa segalanya tak akan pernah berubah. Kau yang mencintaiku, menyayangiku dan menyukai seperti biasanya. Tapi, apa yang kau ucapkan tak seperti kenyataannya. Kau pergi secara perlahan dan menjauh, sampai aku tak bisa lagi melihatmu.

Mungkin, kau sudah melupakan apa yang telah ku lakukan untukmu. Aku menemanimu sejak kita masih berseragam putih biru. Saat kau tidak memiliki teman, saat kau tidak disukai banyak orang karena sifatmu, dan hanya aku yang menyukaimu dan menemanimu. Aku mengenalkanmu pada dunia, aku mengenalkanmu pada teman-teman yang sekarang jadi teman baikmu. Mereka menghargaimu karena aku, mereka berteman denganmu karena aku. Sampai aku terus menemanimu, hingga kau menjadi seseorang yang disegani karena prestasimu. Aku yang menemanimu, aku membimbingmu untuk hidup sebagai manusia yang berperasaan.

Saat kau sudah di puncak duniamu, kau menghempaskan aku seakan aku hanyalah penghalangmu. Seakan aku bukanlah seseorang yang pantas untukmu. Ternyata sifatmu masih sama saja dengan yang dulu, meng-kasta-kan orang-orang. Dan mungkin aku tidak masuk dalam kriteria 'kastamu'.

Advertisement

Sampai pada saatnya, kau memintaku untuk mengakhiri hubungan ini, kau berjanji padaku, "Tunggu aku di batas waktu". Aku percaya kata itu, aku percaya, sampai akhirnya aku tahu kau sedang bersama orang lain, kau sedang berusaha mendapatkan hati seorang wanita. Kau berkata padaku bahwa kau tidak mencintaiku lagi, kau menganggapku sama dengan teman-teman perempuanmu, hanya teman.

Tapi, entah kenapa setelah enam tahun berlalu semenjak kau mengatakan janjimu, aku masih memegang janjimu itu. Selama enam tahun aku menunggumu, menunggu kau datang padaku. Aku terus mengikuti perkembanganmu. Kau sekarang sudah menjadi orang yang hebat, sangat hebat dan aku semakin berharap untuk bersamamu. Aku berharap kau akan datang dan memintaku menjadi perhiasan dunia dan akhiratmu.

Namun, sekali lagi aku dikecewakan olehmu. Bukan aku yang menjadi perhiasanmu. Lewat akun sosmedmu kau mengutarakan perasaanmu kepada perempuan lain, perasaan bahwa dialah yang akan menjadi perhiasanmu. Dan sekali lagi aku hancur, sakit hatiku karena memegang janjimu.

Aku terlalu naif dan bodoh, memegang janji yang hanya sebuah omong kosong dari seorang laki-laki umur 16 tahun. Tahu apa aku akan masa depan, tahu apa aku apakah dia masih mengingatnya atau tidak. Semenjak kita berpisah, sampai hari ini tak ada komunikasi di antara kita, dan aku percaya kau masih memegang janjimu itu.

Inilah jawaban dari setiap doaku selama ini, jawaban terbaik dari-Nya untukku.

Dan hari ini, setelah 6 tahun berlalu, aku melepaskanmu, aku tak ingin berkutat dengan harapan palsu. Aku ikhlas melepas janjimu, janjimu yang akan menjemputku. Janjimu bahwa semua akan tetap sama seperti dulu saat kita bersama.

Inilah batas waktuku, waktu menunggumu.

"Kalau memang kau pilih aku, tunggu sampai aku datang, nanti kubawa kau pergi ke surga abadi"

"Kini belumlah saatnya, aku membalas cintamu, nantikanku di batas waktu". (Edcoustic, Tunggu aku dibatas waktu)