"Ada yang tau kekuatan doa di antara rintik hujan yang temaram? Diam-diam aku melafalkan doa di antara hujan yang menenangkan dalam dekapan malam, semoga kita segera disatukan".

Aku menarik selimut sekali lagi. Sudah berulang kali aku mengganti posisi tidur dan berharap dapat memejamkan mata dengan segera, tapi ternyata masih tidak bisa. Kenapa malam ini aku merindukanmu lebih dari sewajarnya? Sepertinya aku tidak baik-baik saja.

Sayang, masih terjaga? Aku sedang mencoba mengingat tentang kita. Bagaimana hangat jarimu saat menemukan tanganku, menggenggamnya lama lalu meninggalkan rasa nyaman di sana. Bagaimana ketenangan menjalar begitu saja saat aku duduk di sampingmu, menyandarkan kepala di bahumu lalu memejamkan mata.

Ah , aku tidak pernah segila ini dipermainkan rindu.

Kadang, aku ingin waktu berjalan cepat, lebih cepat, dan sangat cepat. Sehingga aku bisa merutuk semua rindu yang merajam dan menyeka jarak yang sepertinya masih enggan mendekat. Tapi sebenarnya apa yang perlu ditakutkan? Bukannya bagaimanapun jarak mencoba menjauhkan, kita tetap lebih hebat dari dia?

Advertisement

Aku tidak akan membenci jarak, karna dia lah kita bisa sehebat sekarang.

Ada banyak hal yang aku takutkan di dunia ini, itulah kenapa aku membutuhkanmu.

Aku bukan wanita kuat yang bisa meyakinkan diri sendiri bahwa semua hal akan baik-baik saja. Aku tidak pandai menyembunyikan perasaan padamu, terlebih tentang kita. Ada beberapa titik di mana aku mulai kelelahan, ingin menyerah saja pada keadaan.

Tapi beruntungnya, lagi-lagi kamu menguatkan. Dengan tenang kamu akan bilang, "sabar ya sedikit lagi saja, jangan menyerah, sabar sayang sebentar lagi ya". Kamu mengatakannya berulang kali tanpa bosan. Terimakasih untuk penguatan yang kamu berikan, setidaknya aku tahu sekarang, kita sedang sama-sama berjuang.

Aku tahu kadang hubungan ini berjalan tidak mudah. Kamu pasti bisa membayangkan hubungan jarak dekat yang sering bertemu saja pasti pernah dibumbui selisih paham, apalagi kita yang menjadikan pertemuan sebagai intensitas kadang-kadang. Sesekali kita mempermasalahkan dua pendapat yang tidak bisa disatukan.

Terlebih lagi untuk hal-hal yang kadang miskomunikasi karena kurang penjelasan, juga jika kesibukan kerja mulai mengambil alih dunia kita. Melegakan karena kamu pria yang sabar. Tapi ada saatnya kita sama-sama tidak bisa mengendalikan amarah dan pertengkaran tak bisa dielakkan.

Anehnya, sehebat apapun pertengkaran menghantam, pada akhirnya kita tetap baik-baik saja, tidak pernah merasa payah lalu menyerah. Segalanya selalu bisa dibicarakan baik-baik setelah emosi sama-sama reda, bukan?

Belum lagi perkara kesetiaan. Bohong jika aku tidak pernah cemburu. Curiga jika BBM tidak dibaca cukup lama, atau mengkhawatirkan malam minggumu yang mungkin sedang bersama wanita lain di sana. Padahal kamu selalu bilang, "Tenang ya, Aku enggak macem-macem di sini, kalo lagi enggak sibuk paling ngedota."

Aku percaya, dan semoga itu benar adanya. Kata siapa hubungan jarak jauh bertumpu pada kesetiaan yang sempurna? Bukankah terlalu naif jika kita mengklaim diri kita paling setia tanpa pernah sedikitpun tergoda dengan yang menyilaukan lainnya di luar sana?

Ini soal hati. Karena hati tahu kepada siapa harus kembali, karna hati tau siapa yang benar-benar dia inginkan sekali lagi, dan hati tau kepada siapa dia harus jatuh cinta berkali-kali. Aku memasrahkan hati dibawah hujan yang mengalir seirama dengan takdir Tuhan tentang kita.

Seperti waktu pertama kali aku bertemu denganmu, aku merasa jantungku berdegup cepat. Tapi aku membiarkan hati mengalir begitu saja. Menikmati setiap jengkal rasa nyaman yang kamu suguhkan. Kemudian dalam lirih seakan berbisik, "Kepadamulah nantinya aku akan jatuh cinta berkali-kali untuk waktu yang lama".

Sampai sekarang pun tetap sama, setiap bertemu denganmu aku tetap merasakan jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya.

Pesawatmu landing masih beberapa jam lagi, tapi aku sudah berdiri di depan kaca dengan banyak make up berserakan. Memperbaiki sekali lagi riasan wajah dan memadu padankan baju yang kupakai. Setidaknya bagaimana agar bisa membuatmu tak akan mengedipkan mata saat melihatku nanti.

Padahal sebenarnya, tanpa aku merias wajah, aku yang polos dengan baju sederhana pun sudah mampu membuatmu terpesona, sudah bisa membuat irama detak jantungmu tak karuan. Kamu akan tetap jatuh cinta padaku, iyakan? Saat menemukan matamu kembali, sekali lagi aku yakin, hanya kepadamu aku berhasil jatuh cinta berkali-kali.

Aku yakin ada banyak hal yang ingin kamu ceritakan padaku, saat bersamaku mendadak kamu lebih cerewet dari biasanya. Aku tersenyum menyimaknya. Kamu menceritakan semua hal tanpa jeda, dari mulai hal sederhana sampai urusan kerjaan yang kadang menyebalkan.

Sesekali tertawa kemudian melanjutkan. Wajahmu terlihat memenggemaskan. Dengan bebas kita bisa bercerita apa saja, menertawakan hal remeh sederhana, berdebat untuk hal kecil yang berakhir dengan tawa sambil sesekali kamu mencubit pipiku mesra.

Kemudian kita mulai makan apa saja yang sepertinya enak tertangkap mata. Seakan kamu tidak mempedulikan badanku yang agak gemukan sekarang. Mungkin bagi pasangan lain ini adalah hal biasa. Tapi bagi kita momen bertemu seperti ini adalah kemewahan yang utama.

Aku tidak butuh tas mahal, tidak butuh hadiah-hadiah besar. Dalam hubungan ini aku sadar jika waktu adalah hadiah terindah paling berharga. Kamu tahu bagaimana aku ingin waktu berhenti saat kita bersama? Aku berharap jarum itu berada di tempatnya. Tidak bergerak. Biar kita tetap tertawa, biar saja kita tetap berjalan, tapi waktu tidak.

Bagi beberapa orang hubungan kita mungkin tampak tak nyata. Untuk apa susah-susah bertahan dengan orang yang tidak selalu ada bersama kita. Tidak ada saat kita membutuhkannya. Mereka hanya tidak tahu, bahwa kita bahagia. Kita punya kebaikan masa depan yang akan kita bangun berdua.

Untuk sekarang, mari berdamai dengan keadaan. Mari berdamai dengan jarak dan waktu.

Kita ada bukan untuk menyerah, kita berjuang bukan untuk mengiyakan perpisahan. Aku yakin kita sedang mengusahakan kebaikan dan mungkin seperti ini jalan yang harus dilewati. Demi kebaikan yang kelak akan dibangun bersama, mari kita berjuang sedikit lagi. Berbaik sangka saja. Mungkin Tuhan menyuruh kita sabar sebentar. Ingatkan Tuhan sudah begitu baik pada kita. Jadi apa terlalu muluk-muluk jika kita mengiyakanNya?

Aku tahu jarak sepertinya masih angkuh, masih enggan berpihak pada kita. Tapi tenanglah, bukankah selama ini kita sudah membuktikan sendiri kalau kita bahkan lebih tangguh?

Nanti, ada saatnya kita akan duduk berdampingan dengan nyaman. Tidak ada lagi jeda, tidak ada lagi jarak yang menyiksa. Secepat apa pun waktu berjalan, itu bukan lagi sebuah masalah. Sampai saat itu tiba, maukah kita berjuang sedikit lagi saja?

Terimakasih untuk tetap bersama bagaimanapun dunia mencoba mengguncang kita. Percayalah semua akan baik-baik saja selama kita masih punya 'KITA'.