Hei, ini aku, masih bernama sama tapi bukan orang yang dulu. Ini aku yang sudah menemukan jati diriku. Yang telah belajar banyak dari kehidupan, khususnya dari kalian yang terkadang suka kustalking atau mestalkingku. Aku hanya ingin menyampaikan beberapa hal untuk kalian.

Untukmu yang pernah menemaniku selama setahun lebih ketika aku masih duduk di bangku Junior High School, terima kasih karena telah membuktikan bahwa cinta itu tak bisa dipaksakan. Terkadang cinta bisa menjadi benci, terkadang juga benci bisa menjadi cinta. Terima kasih pula untuk air mata yang kau keluarkan yang kupikir sebuah bukti cinta. Terima kasih pula membuatku merasa kita saling memiliki dan memahami yang membuatku mengira kau lelaki setia. Dan maaf jika kau tak terima aku mengatakan bahwa kau menduakanku di akhir hubungan kita. Ups, apakah aku salah? Tidak kah kau ingat? Kala itu aku menangis di hadapanmu, menceritakan masalah yang menimpaku, tapi kau malah sibuk dengan ponsel mu. Melihat tingkahmu seperti itu, langsung saja aku mengakhiri hubungan kita tapi kau malah memohon padaku untuk tidak mengakhrinya. Lucunya, beberapa hari kemudian, kau sendiri yang mengakhiri hubungan kita dengan alasan kau telah mencintai adik kelasmu. Benar saja, beberapa hari setelahnya, aku melihat kau memamerkan hubunganmu dengannya yang jauh lebih cantik dariku. Oh, betapa lucunya. Sehingga aku lupa cara tertawa saat itu tapi aku menertawakannya kini. Hm, sudahlah. Terima kasih dan maaf, ya.

Untukmu yang pernah memberi harapan pernikahan padaku, yang pernah mengatakan aku adalah "himme"mu saat aku duduk di akhir tahun Senior High School, kusapa kau dengan "moshi moshi!". Terima kasih telah membuatku terlena dengan kata-katamu yang begitu manis dan meyakinkan. Terima kasih juga dengan motivasi-motivasi yang telah kau berikan selama hampir dua tahun itu. Dan hei, aku masih ingat dengan matamu yang sipit itu, hehehe. Kau memang kukenal lewat dunia maya. Kita tak pernah bertemu langsung karena kita tinggal di pulau yang berbeda. Tapi dengan hubungan tanpa status yang kita bina membuatku masih bertanya, bagaimana bisa kita bisa saling mengikat cinta? Sehingga aku tak sadar bahwa hubungan itu bisa berakhir begitu saja.

Hei, maaf ya jika aku membuatmu merasa terkhianati. Kau tak menginginkan aku untuk menjelaskannya sehingga tampaklah aku mengkhianatimu. Seandainya kau tau, aku sedang fokus belajar kala itu, bukan karena tak ingin berkomunikasi denganmu. Dan aku sama sekali tak punya rasa dengannya yang memang menyukaiku. Kenapa dengan mudah kau memutuskan jalur komunikasi kita tanpa menerima penjelasan dariku? Dan setelah itu, kau bertingkah seolah tak pernah ada apa-apa di antara kita. Lalu kau kembali menebar pesonamu di dunia maya dan kembali menggaet gadis yang bahkan berada di negara yang berbeda denganmu?

Ah, aku masih ingat tingkahmu yang lucu itu. Kau memamerkan padanya tentang kau yang yakin bahwa pacaran itu tak ada gunanya. Tapi kenapa sekarang malah memamerkan keromantisanmu dengannya di dunia maya yang jujur saja membuatku merasa ingin muntah? But, the most of all, thanks and sorry, piano jeyeg.. hehehe.

Advertisement

Untukmu kakak cantik nan baik yang pernah membawaku ikut larut dalam masa lalu mu dengan si piano jeyeg, terima kasih sudah pernah mengingatkanku tentang apa yang akan terjadi padaku karenanya. Tapi juga maaf karena pernah membuatmu menilaiku sebagai pengusik ketenanganmu di media sosial. Kakak cantik, jika saja kau tidak menghinaku di akun facebookmu kala itu, aku tak akan pernah menelusuri akunmu.

Untukmu yang pernah membuatku merasa bahagia denganmu walau sesaat, lama ya kita tidak berkomunikasi. Maaf jika kau menganggap aku pernah memberimu harapan palsu. Tapi sebenarnya aku tak bermaksud begitu. Mungkin kau terlalu berlebihan menilainya. Terima kasih juga telah bersedia menghabiskan waktu bersamaku saat di tahun pertama Senior High School.

Untukmu yang pernah membuatku merasa istimewa, terima kasih telah banyak menolongku dalam berbagai hal, khususnya dalam hal pendidikanku di Senior High School. Terima kasih atas kado-kadomu, oleh-oleh darimu, uang darimu, dan buku-buku darimu. Terima kasih juga karena menjalin hubungan tanpa status denganmu membuatku banyak mengenal kakak-kakak kelas di sekolah. Terima kasih juga karena telah mengajarkanku jika bukan hanya wanita saja yang pandai bermuka dua tapi juga lelaki bahkan bisa lebih dari itu.

Maaf sempat menertawakanmu yang membicarakan kejelekanku yang sama sekali tak ada padaku bersama si cantik kakak kelas kita yang padahal sudah kuanggap kakakku sendiri. Maaf, bukannya kau yang mengejarku, ya? Cemburu karena kedekatanmu dengan wanita lain? Oh, aku tidak selabil yang kalian kira, kakak-kakak lettingku tercinta. Maaf aku tiba-tiba menjauhimu di tahun ke-2 karena kelakuanmu yang sangat menjijikkan itu, yang bahkan membuatku merasa jijik jika bertemu denganmu. Bukan karena aku berhasil memeras kebaikanmu. Toh, aku tak pernah meminta semua itu. Kau sendiri yang memberinya. The most of all, jangan lupa password nya diganti, ya.. hehehe.

Untukmu, kakak cantik yang pernah kupercayai, terima kasih sudah mencoba membantu hubunganku dengan si dia itu. Yang perlu kau ketahui, aku tak pernah cemburu melihat kedekatanmu dengan si dia itu. Dan ingat ya, semua kejelekanku yang pernah dikatakannya padamu itu sama sekali tidak benar. Oke kakak cantik? Hihihihi…

Untukmu yang pernah dekat denganku, kala itu aku memang sayang padamu. Itu akhir dari candaanku yang awalnya hanya ingin membuat si dia cemburu dan menyesal telah memberi harapan palsu padaku. Tapi ada yang lebih kusayangi darimu yaitu si dia itu, teman sebangkumu. Maaf, teman. Kita sudah dimanfaatkan oleh si teman kita, wanita yang licik itu. Yang akupun baru tau jika dia sebenarnya ingin menjauhiku dengan si doi karena dia juga suka si doi. Tapi terima kasih telah menghabiskan waktu bersamaku, teman lelakiku yang sangat lucu…

Untukmu, lelaki yang pernah membuatku merasa sangat bahagia dan tidak sendiri, aku sangat berterima kasih padamu dan meminta maaf yang sebesar-besarnya. Kau tau kenapa aku sangat berterima kasih? Karena kau telah membuatku merasa harus menghadapi lelaki yang bertampang dewasa tapi bertingkah seperti anak-anak. Manja, keras kepala, kasar, dan labil. Terima kasih pernah mempermainkan perasaanku. Uh, betapa bodohnya aku kala itu karena mengira cintamu tidaklah labil. Betapa bodohnya juga diriku yang memberimu beribu kesempatan tapi selalu kau sia-siakan.

Dan kau tau kenapa aku meminta maaf yang sebesar-besarnya padamu? Eits, bukan karena kesalahanku. Hei, aku tak pernah melakukan kesalahan padamu. Justru kau yang seharusnya meminta maaf padaku karena kau selalu menyakitiku. Tapi aku minta maaf yang sebesar-besarnya padamu karena aku sudah berhasil untuk sama sekali tak peduli tentang dirimu lagi, apapun itu. Jadi, jangan pernah sewot lagi tentang hidupku yang sekarang ini ya.. Oh ya, satu lagi, kalau boleh aku bertanya, apa alasanmu selalu mengusik ketenanganku kala itu saat kau tau aku sudah berbahagia dengannya? Apakah karena kau ingin perhatianku? Apakah karena kau masih ingin memilikiku? Apakah karena kau membenciku? Atau karena pasanganmu yang sekarang tak sebaik diriku? Tapi ah sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Itu masa lalu. Ya, kan, Shane?

Untukmu lelaki yang awalnya sebagai pelarianku, terima kasih karena telah menjadikanku pacar pertamamu. Namun juga maaf yang sangat besar kupinta darimu karena disaat aku mulai mencintaimu, takdir memisahkan kita. Padahal kala itu aku serius ingin menjadikanmu pendamping hidupku. Karena aku senang dengan dirimu dan keluargamu yang sangat ramah padaku. Terima kasih, ya…

Untukmu kakak cantik yang merupakan mantan si pacar, maaf ya pernah merusak kebahagiaanmu. Eits, tapi apakah saat itu kau sedang bahagia dengannya? Ah, aku tak tau. Walaupun jika dalam pandangan yang sebenarnya aku tak salah, toh, dia kan pacarmu, bukan suamimu. Terus, apakah pacaran itu sebuah hubungan yang sakral? Bukan, ya? Lagipula, apakah itu salah jika kami saling mencintai dan menginginkan untuk bersama? Bukankah lebih baik kau merelakannya saja, ‘kan? Tapi aku juga ikut senang. Jika kuperhatikan, karenaku kau sudah berubah menjadi lebih bijaksana. Terima kasih, ya sudah merelakan lelaki yang tak mencintaimu lagi.

Untukmu, lelaki yang sedang ada di hadapanku.Terima kasih sudah banyak berkorban dan berjuang untukku. Terima kasih sudah memberikan hatimu untukku. Terima kasih selalu berusaha membuatku bahagia. Maaf jika aku tak bisa menjadi seperti yang kau inginkan. Maaf jika aku selalu menyusahkanmu. Ah, aku sudah kehabisan kata-kata tentangmu. Satu hal yang kuharapkan darimu, selalu seperti itu ya, kibo… Dan semoga Appa merestui kita…

The most of all, terima kasih dan maaf untuk kalian semua yang kusebutkan di atas. Semoga kita semua bahagia, ya..