Karena kurasa ini bukan perlombaan, maka sepertinya aku tak perlu buru-buru mencapai garis finish hanya dengan bermodalkan kecepatan. Nanti, entah kapanpun itu. Aku pasti akan diikat juga dalam sebuah pernikahan. Dijariku, kelak akan melingkar sebuah cincin dengan label penyatu yang diberikan dari seorang pria yang memenuhi ruang hati. Dengan dia yang kuputuskan langkah untuk mencari berhenti selamanya.

Aku hanya tinggal tunggu waktu yang baik menurut jalan pikiran Tuhan. Menurut takdir bagaimana Tuhan berbicara. Tak perlu buru-buru. Karena yang aku tahu meski hanya sekali Tuhan benar-benar tak pernah ingkar janji. Pada hati yang mau bersabar janjiNya selalu ditepati. Dia merancang hidup umatNya dengan sangat sempurna. Tak ada yang terlalu cepat atau lambat, karena waktuNya selalu tepat dengan ending yang hebat.

Aku. Kurasa bukan karena tak ada yang mau, atau karena aku yang memasang harga terlalu tinggi dalam pasaran. Ini hanya bicara soal waktu. Bukankah kalian sendiripun tahu? Bahwa entah dimanapun dan seperti apapun dia, menurut garis takdir, aku adalah wanita yang berasal dari rusuk seorang pria.

Hanya mungkin untuk saat ini kami masih belum diijinkan saling jumpa dan sapa. Atau mungkin sebenarnya sudah, tapi Tuhan masih berkata nanti saja, Aku punya rencana indah untuk kalian berdua! Atau mungkin juga aku dan dia masih diminta untuk sama-sama berbenah, sehingga bila waktunya telah tiba, kami sama-sama siap untuk saling mendampingi selamanya. Jadi ku mohon pada kalian yang selalu saja penasaran, untuk lebih bersabar lagi menanti hari bahagiaku itu.

Adakah kesendirianku merepotkan kalian? Atau adakah penolakanku terhadap cinta yang tak kuinginkan membuat kalian rugi dalam banyak hal kecil maupun besar? Kalau tidak, maka kumohon menjauhlah. Berhentilah mendikte ini itu, atau berhenti banyak bicara. Komentar kalianpun tak lantas segera menghadirkan jodoh yang sedang ku nanti dengan segenap hati.

Advertisement

Sekarang aku hanya sedang berusaha menikmati setiap waktuku kini. Entah sendiri atau bersama siapa, aku sedang sangat belajar memperbaiki diri menjadi wanita yang lebih baik lagi. Demi dia yang kelak datang untuk menjemputku. Mengajakku mengarungi hidup bersama dan menjadi ibu yang hebat bagi anak-anaknya. Karena pada hakekatnya, menikah bukan perkara hari ini atau nanti. Bukan masalah sekarang atau kapan-kapan. Tapi ini tentang kesepakatan yang tak akan lekang oleh pertengkaran. Jadi tunggu saja.

Dan untuk kamu hei calon lelakiku. Sudahkah kamu menemukan jalan untuk sampai dihadapanku? Tenang saja, aku masih sabar menunggumu. Tak perduli seberapa lama, atau akan bertemu dengan cara yang bagaimana. Percaya saja, kamu dan aku punya Tuhan yang tak main-main dengan doa umatNya. Karena itu tetaplah berusaha, aku disini dengan sabar menantimu dalam perbincanganku dengan Tuhan. Semoga kita segera dipertemukan dalam cinta yang tak lagi menemukan kegagalan.