Speechless? Tentu saja. Lidahku benar-benar kelu ketika mendengarkan percakapan kalian tentangku.

Aku benar-benar tidak percaya kalian sedang membicarakan seseorang, kegiatan paling seru yang biasa kita lakukan ketika sedang berkumpul. Dan kali ini, orang itu adalah aku.

Tidak tahukah kalian, kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut kalian yang tentu saja tentang perbuatan-perbuatanku yang kalian anggap sebagai keburukanku yang mungkin sudah lama terpendam di hati kalian masing-masing itu sedang kudengar dengan khidmat.

Awalnya, hatiku terasa panas, kemarahanku berkumpul dengan cepat seakan-akan sudah sampai di ubun-ubun dan siap meledak. Ingin sekali aku berjalan ke arah kalian, lalu menyiramkan segelas air ke wajah kalian. Tapi ternyata kakiku kaku, aku hanya bisa berdiri termangu dan bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Satu persatu dari kalian setidaknya mengungkapkan satu kejadian bersamaku di masa lalu yang ternyata begitu membekas di ingatan kalian, sekaligus melukai hati kalian. Aku pun turut kembali ke masa itu, mengingat-ingat apa saja yang telah kulakukan.

Advertisement

Kemudian, gantian wajahku yang memanas, aku tidak bisa lagi menahan air mata. Kemarahanku telah berubah menjadi penyesalan. Kini aku merasa bodoh karena tidak pernah menyadari bahwa perbuatan-perbuatanku itu menyakiti kalian.

Tapi, tidak bisakah kalian katakan secara langsung kepadaku? Atau memang hubungan kita tidak sedekat itu?

Ya, itu saja pembelaanku. Semua itu tidak lebih besar dari satu kalimat yang sangat ingin kuucapkan pada kalian.

Sahabatku, maafkan aku.