Persahabatan yang pada awalnya kalian berdua tawarkan memang manis, semanis madu. Sayangnya persahabatan itu tidak menghasilkan kisah manis seperti yang kalian tawarkan. Sungguh dua kali mengalami kegagalan, itu bukan hal yang mudah. Terlebih hubungan yang kita bina tak sekedar melibatkan kita berdua, ada keluarga yang tanpa sengaja kita libatkan. Masing-masing kisah memberi pelajaran bagiku, pelajaran yang tak akan pernah kudapatkan dibangku sekolah. Pelajaran untuk mengikhlaskan hal yang telah pergi. Meski terkadang aku sering menangis.

Dua kali berhenti ditengah jalan membuatku sering berfikir, lantas untuk apa aku menjalin hubungan kembali? Untuk apa kulakukan hal yang sama lagi. Semua memori tentang hari-hari bersama kalian seolah menghantuiku. Aku tak bisa keluar dari baang-bayang kalian. Dua kali itu tanpa sengaja merubah semua pola pikirku. Bagiku lelaki hanyalah teman, sekedar untuk bersenang-senang. Maaf. Pikiranku ini memang picik, tapi mau bagaimana lagi. Dua kali menangis untuk hal yang tak jauh berbeda memang secara kasar merombak semua pemikiranku. Menggusur semua nalar baikku, membuatku merasa bahwa tak ada ketulusan lagi. Aku salah. Aku tau aku salah. Tapi aku tak bisa keluar dari pemikiran ini.

Dua keluarga yang berbeda, dengan sambutan yang berbeda. Aku tak bermaksud untuk lari, hanya saja kadang aku memiliki pemikiran egois. Untuk pergi saja dari kalian, melupakan semua kebaikan yang kudapatkan. Tetap saja aku terlalu naif. Langkah kaki ku tetap saja memutar pada tempat yang sama. Sejauh apapun aku lari, kakiku seolah kalian tarik untuk kembali mewarnai hidup kalian. Kalian egois. Kalian jahat. Hanya makian itu yang mampu kulontarkan. Jika kalian tak ingin aku dihidup kalian, mengapa kalian tak ijinkan aku tuk pergi? Apakah hanya kalian berdua yang pantas bahagia?

Lihat kemari. Tak hanya kalian dan keluarga kalian yang berhak kubahagiakan. Disini. Disudut rumah yang hampir selalu kamu kunjungi setiap hari, dan sudut rumah yang tak pernah kamu kunjungi. Ada keluargaku yang merindukanku. Yang ingin aku tertawa lepas seperti aku belum mengenal kalian. Apa daya, kalian membuatku terbenam begitu dalam. Ombak yang kalian buat itu, memiliki arus yang aku sendiri tak bisa definisikan. Keluargaku ini, tak bisakah kalian biarkan aku membahagiakan mereka?

Iya dua kali gagal itu menghancurkanku. Mempertebal pertahananku. Aku pun tak tau apa jawaban atas tindakan kerasku ini. Laranganku pada kawan lelakiku untuk kerumah, terkadang aku merasa malu. Apa salah mereka, hingga mendapat kemarahanku. Iya kalian yang membuatku begitu keras kepala. Maaf untuk hal itu.

Advertisement

Maaf dariku untuk kekeras kepalaanku dan maaf aku tak menemukan jawaban mengapa aku melarang lelaki lain masuk kerumahku.