Teruntuk engkau kekasih dunia akhiratku yang masih dalam rahasia tabir cinta-Nya:

Hei, kamu di mana? Kini aku sedang terluka. Bisakah kau datang segera dengan membawa obat cinta penawarnya?

Apa kamu masih mengingatku? Sosok yang pernah hadir dalam mimpi indahmu, ingatkah kamu? Ini aku, perempuan yang sedang belajar berbenah diri menjadi pantas dan terbaik untukmu. Oh iya, di manapun kamu berada, semoga selalu dalam lindungan-Nya.

Pada pengujung senja sore hari, aku menulis surat rindu dengan binar malu dalam lamunanku, akan aku ceritakan kepadamu tentang seberapa sulitnya perjalan hati ini untuk temukan sosokmu pemilik hatiku. Aku berharap kamu membaca bait aksara sederhana ini, Sayang. Lalu kamu tersenyum senang.

Tahukah engkau? Terkadang akupun lelah atas perjalanan yang sudah cukup jauh, namun masih tak kunjung jua ku temui senyum manismu yang ku damba. Terkadang pula di persimpangan jalan hidupku jumpai senyum ramah yang menyapa, hatiku berkata: Mungkin itu adalah senyum yang ku cari, dan aku yakini itu engkau. Namun keyakinanku salah dan akhirnya hatiku kecewa.

Advertisement

Senyum ramah tersebut menipu, seulas senyum yang datang hanya sekadar menguji ketabahanku, mengajarkan aku untuk menjadi perempuan yang lebih berhati-hati.

Pun berulang dan (kembali) ku temukan senyum ramah dengan versi yang beda. Namun itu bukan kamu, yang datang hanya menyapa sekadarnya, ibarat angin yang mengkabarkan bahwa kamu sedang dalam perjalanan menuju ke hatiku. Dan tak lama lagi menemukanku.

Dan tak bisa ku bayangkan seperti apa kebahagiaanku bila ku temukan dirimu, itu terlalu indah bukan? Bagaimana pun jua apabila kamu hadir bahagiaku tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, aku mengerti, Sayang. Pada saat ini aku pun kamu sedang fokus memperbaiki diri untuk menjadi satu yang terbaik. Iya itu.

Tahukah kamu? Aku akan terus menunggu sampai aku lelah dan tak mampu, namun aku tetap menunggu kamu menjemput impianku. Sayang, aku tetap menunggu.

Dariku, yang selalu menunggu